Mother&Baby Indonesia
Dwarfisme Bukan Stunting! Ini Perbedaannya

Dwarfisme Bukan Stunting! Ini Perbedaannya

Memiliki anak yang tumbuh kembangnya optimal tentu menjadi harapan semua orang tua di dunia. Tak hanya cerdas dan berbudi pekerti baik, Moms pasti juga ingin Si Kecil tumbuh sehat dengan perawakan tinggi dan proporsional. Tak heran, isu stunting atau gagal tumbuh menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling dikhawatirkan para orang tua. Walau begitu, Moms perlu tahu kalau stunting tidak sama dengan kerdil, karena salah satu penyebab kerdil adalah dwarfisme (kondisi kelainan fisik yang membuat seorang anak memiliki tubuh sangat pendek).

Nah, untuk meningkatkan pengetahuan Moms mengenai dwarfisme, mari simak beberapa info penting di bawah ini, Moms!




Berbeda dengan Stunting


Menurut Kementerian Kesehatan RI, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Sedangkan menurut Siswanto, Kepala Badan Peneltiian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI, stunting bukan kerdil, karena kerdil disebabkan oleh dwarfisme akibat kelainan kromosom dan atau kekurangan hormon pertumbuhan.


Tinggi Badan Dwarfisme


Istilah dwarfisme pertama kali diperkenalkan oleh sebuah organisasi non-profit Little People America (LPA), yang artinya orang-orang dengan tinggi badan dewasa tidak lebih dari 4’10 feet atau 147 cm. Baik perempuan atau laki-laki yang mengalami dwarfisme, rata-rata tinggi mereka saat dewasa adalah 122 cm, dengan rentang tinggi antara 81-142 cm. Namun tinggi badan yang disebutkan mungkin lebih rendah jika terjadi pada orang Indonesia.


Tipe-tipe Dwarfisme




Apakah semua orang dengan dwarfisme terlihat mirip? Tentu tidak! Semua orang dengan dwarfisme memang pendek. Akan tetapi beda tipe dwarfisme, beda pula penyebab dan ciri fisiknya. Menurut LPA, ada lebih dari 400 tipe dwarfisme, namun yang paling umum dan banyak terjadi adalah tipe achondroplasia, yang terjadi pada 1 dari 25.000 bayi.

Tipe ini biasanya memiliki ciri fisik bagian atas tubuh cukup normal, tetapi tangan dan kakinya pendek. Mereka juga biasanya memiliki kepala yang lebih besar dengan dahi menonjol, hidung melebar, tangan dan jari pendek, kaki melengkung, dan punggung belakang bengkok.


Bisa Dideteksi Sejak Kehamilan

Biasanya para dokter kandungan sudah bisa mencurigai achondroplasia sejak anak belum lahir. Caranya adalah saat USG di akhir kehamilan menunjukkan tangan dan kaki bayi lebih pendek dibanding ukuran rata-rata, dan ukuran kepalanya juga lebih besar. Sayangnya hal seperti ini baru terlihat di akhir kehamilan, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan.

Menurut Kids Health, dokter juga bisa mendiagnosis beberapa tipe dwarfisme di awal kehamilan. Sedangkan banyak tipe lainnya yang baru bisa terdiagnosis hingga beberapa bulan atau tahun pertama anak, ketika pertumbuhannya terbilang lebih lambat.


Dampak Dwarfisme

Mereka yang mengalami dwarfisme umumnya kesehatan dan aktivitasnya cukup terganggu. Bahkan situs Kids Health menyebutkan kalau orang dengan dwarfisme pernah melalui operasi lebih banyak dibandingkan orang lain. Ini mungkin terjadi karena semakin pendek perawakan tubuh seseorang, maka kesehatan tubuhnya juga mungkin terganggu, beberapa masalah kesehatan yang butuh bantuan operasi adalah punggung, leher, kaki, atau telinga tengah. (Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: dwarfisme,   pendek,   kesehatan,   anak,   balita