Mother&Baby Indonesia
Mertua Sering lakukan Baby Shaming pada Cucunya

Mertua Sering lakukan Baby Shaming pada Cucunya

T: Mertua sering melakukan baby shaming, dengan membandingkan tubuh bayi saya yang mungil dengan cucunya yang lain. Bagaimana saya mesti menanggapinya?

J: Para ibu memang seringkali lebih sensitif ketika ada orang lain yang membandingkan anaknya dengan anak lain. Terlebih ketika komentar itu datang dari keluarga sendiri, yang merupakan orang terdekat.

Memang itu merupakan kondisi yang terdengar tidak enak atau tidak nyaman, tetapi setiap anak memang (dan pasti) berbeda. Setiap manusia terlahir dengan keunikannya masing-masing. Membandingkan tidak melulu berarti yang satu lebih buruk atau lebih baik dari yang lain.



Bisa saja ia sekadar memaparkan perbedaan yang terlihat jelas. Mengenai tubuh anak yang lebih mungil daripada sepupu-sepupunya, tentu ada faktor keturunan yang menentukan hal tersebut. Siapakah yang membentuk pemahaman bahwa anak yang lebih mungil berarti lebih buruk (atau rendah)? Bisa jadi hal tersebut ada di mindset ibu saja. Tidak perlu dibawa ke hati, karena memang faktanya seperti itu.

Bagaimana menanggapinya? Bisa dengan memberi respons netral seperti, “Oh iya anakku lebih mungil memang, tapi semoga sehat-sehat saja.”



Komentar dari orang lain, akan menjadi enak atau tidak enak didengar, itu semua tergantung bagaimana kita sendiri mengolah komentar tersebut. Tingkatkan kemampuan untuk berpikir positif, sikapi dengan bijak. Ambil yang positifnya, jika ada kesalahan, luruskan dengan memaparkan pengetahuan atau fakta yang jelas, dengan bahasa komunikasi yang santun.

Dijawab oleh Dessy Ilsanty, M.Psi, Psikolog. (M&B/TW/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   anak,   mertua,   baby shaming








Cover Maret 2020