Mother&Baby Indonesia
Anak Ketergantungan Gadget dan Main Hingga Larut Malam

Anak Ketergantungan Gadget dan Main Hingga Larut Malam

T: Bu Najelaa, anak saya Aimar, saat ini berusia 3 tahun 4 bulan. Dari bayi, ia memang sudah terbiasa dengan gadget. Saking tergantungnya, setiap diambil gadget-nya, ia selalu marah dan menangis.

Nah, akhir-akhir ini, kebiasaannya makin menjadi-jadi. Aimar sering bermain gadget hingga larut malam, dan akhirnya tak bisa bangun pagi. Padahal, sebentar lagi ia akan segera masuk TK A. Saya menyesal memberikannya gadget, bu. Apakah sudah terlambat untuk menghentikan kebiasaannya ini?

J: Halo, Ibu. Sebenarnya, tidak ada kata terlambat untuk menghentikan atau memulai kebiasaan baik bersama anak dan keluarga, selama kita konsisten dalam menumbuhkannya. Penyesalan bagian dari refleksi, yang perlu diikuti dengan rencana aksi.



Pada prinsipnya, kecanduan gadget terjadi karena aktivitas yang tidak seimbang. Karenanya upaya utama yang perlu dilakukan adalah membangun rutinitas harian anak. Coba bikin jadwal apa saja yang perlu dilalui anak -termasuk misalnya mendongeng, bermain di luar ruangan, menyelesaikan puzzle, berkunjung ke rumah nenek, membantu ibu menyiapkan makan malam, dan lain sebagainya.

Banyak anak yang memilih gadget sebagai ‘pelarian’ saat bosan -karenanya pastikan di jadwal juga ada waktu tidak berstruktur untuk memberi anak kesempatan melamun dan berkhayal, bermain pura-pura di alam dan kegiatan kreatif lainnya yang diinisiasi dirinya.

Di tahap awal, kegiatan-kegiatan ini perlu dicontohkan dan didampingi saat melakukannya. Namun, makin lama tentu anak akan makin mandiri dan bisa proaktif menjalankan rutinitasnya sendiri.



Di tahap awal juga, anak pasti akan bereaksi secara emosional misalnya menangis dan merajuk saat gadget tidak diberikan, tetapi ini bagian yang wajar dan perlu dilalui untuk membantu anak mengendalikan emosinya.

Dijawab oleh Najeela Shihab, Psikolog, Pemerhati, dan Penggiat Pendidikan

(M&B/Nanda Djohan/NA/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   anak,   balita,   anak sekolah,   usia anak sekolah








Cover Maret 2020