Mother&Baby Indonesia
Ambliopia, Si Mata Malas yang Berisiko Kerusakan Fatal

Ambliopia, Si Mata Malas yang Berisiko Kerusakan Fatal

Salah satu masalah indra penglihatan yang bisa dialami anak adalah mata malas. Kondisi yang juga disebut ambliopia ini adalah berkurangnya ketajaman penglihatan yang diakibatkan oleh perkembangan penglihatan abnormal selama masa usia dini (usia 3-4 tahun).

Gangguan ini umumnya mengenai 1 mata, namun kadang-kadang ditemukan juga pada kedua mata. Menurut dr. Florence M. Manurung, Sp.M, ophthalmologist dari Jakarta Eye Center, bila otak tak menerima bayangan yang jelas atau jernih dari salah satu atau kedua mata, maka akan sulit meningkatkan kemampuan visual, apalagi jika masa perkembangan otak sudah selesai.




Penyebab Mata Malas

Ambliopia terjadi ketika jalur saraf antara otak dan mata tidak dirangsang dengan baik. Hal ini dapat menyebabkan otak hanya merangsang 1 mata, biasanya karena penglihatan di mata lainnya lemah. Selain itu, mata malas juga cenderung diturunkan secara genetik.

Kemungkinan lebih tinggi menderita mata malas dialami oleh anak yang terlahir prematur dan anak yang mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Selain itu, anak yang mengalami strabismus atau mata juling juga menjadi penyebab umum, di mana adanya ketidakseimbangan pada otot-otot yang bertanggung jawab untuk mengatur posisi mata.

Adanya kelainan refraksi, seperti rabun jauh, silinder yang besar, serta adanya bayangan pada lensa mata (astigmatisma) juga jadi penyebab lain. Terkadang, mata malas juga merupakan hasil dari suatu kelainan, seperti retina pusat yang abnormal atau perbedaan ukuran antara mata.


Pentingnya Deteksi Dini


Tak semua penyebab mata malas dapat terlihat dengan jelas. “Ketika SI Kecil ternyata menderita kelainan refraksi, seperti minus tinggi, ia belum bisa mengeluh. Mereka tak sadar bahwa penglihatannya yang buram haruslah disampaikan agar bisa ditangani segera,” jelas dr. Florence. Keberhasilan terapi mata malas tergantung pada seberapa beratnya gangguan ini dan usia dimulainya terapi. Bila mata malas dideteksi sejak dini, keberhasilan terapi akan lebih besar. Selain itu, durasi terapi juga lebih singkat.

“Bila mata malas ditangani saat usia anak lebih dari 7 tahun, maka angka keberhasilannya akan lebih rendah dibandingkan jika ditangani sebelum anak berusia 4 tahun,” tambah dr. Florence. Beberapa gejala yang tampak adalah anak menonton televisi pada jarak dekat, atau ketika Si Kecil sering menyipitkan matanya saat melihat suatu benda karena tak mampu melihat dari jarak jauh.

Gejala mata malas ini sudah bisa tampak sejak anak berusia 6 bulan. Nantinya, akan digunakan alat khusus untuk mendeteksi gerak matanya, sehingga diketahui anak positif mengalami mata malas atau tidak. Pemeriksaan ke dokter mata pun perlu dilakukan secara rutin, yaitu 1-2 kali dalam setahun.




Bisa Diobati, Kok!

Kondisi mata malas bisa mendapatkan perawatan sesuai dengan penyebabnya. Jika ia mengalami juling, maka yang diatasi adalah juling tersebut. Begitu juga dengan katarak yang dideritanya. Ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk pengobatan mata malas, seperti berikut ini:

1. Memakai kacamata

Jika kondisi seperti rabun jauh atau astigmatisma memberikan kontribusi untuk mata malas, kacamata korektif dapat direkomendasikan.

2. Eye patch

Merangsang mata yang lemah dapat menggunakan penutup mata pada mata yang kuat. Terapi eye patch dilakukan untuk menggunakan mata yang malas, sehingga bisa kembali berfungsi secara normal, serta membantu bagian otak yang mengelola penglihatan berkembang lebih lengkap.

3. Obat tetes mata

Pemakaian sementara obat tetes yang disebut atropin, dapat mengaburkan penglihatan pada mata yang kuat. Hal ini akan mendorong penggunaan mata lemah.

4. Bedah

Jika anak terlahir memiliki mata yang menyimpang, ada baiknya dilakukan pembedahan. Kelopak mata yang menurun atau katarak mungkin juga memerlukan intervensi bedah. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   mata,   mata malas,   ambliopia










Cover April 2020