Mother&Baby Indonesia
Fakta tentang Olahraga Bisa Memengaruhi Tinggi Anak

Fakta tentang Olahraga Bisa Memengaruhi Tinggi Anak

Di usia 6 tahun, Mikaela masuk sekolah dasar dengan status sebagai murid paling pendek di kelasnya. Tubuhnya memang terlihat sangat mungil jika dibandingkan teman-temannya.

Namun di kelas 5, tepatnya di usia 10 tahun, postur tubuhnya berubah cukup drastis. Selain tidak lagi menyandang status sebagai murid paling pendek, tingginya juga bisa menyamai bahkan melewati beberapa temannya yang sebelumnya memiliki postur lebih tinggi.

Orang tuanya pun bertanya-tanya, apakah penyebab perubahan postur tubuh Mikaela yang cukup drastis? Ayah dan ibunya tergolong tidak tinggi. Apakah ada efek dari kegiatan olahraga basket yang ditekuninya selama 1,5 tahun terakhir?



Faktanya, memang banyak artikel yang menyebutkan bahwa kegiatan olahraga bisa memengaruhi kenaikan tinggi anak. Menurut situs Medicalnewstoday, olahraga secara rutin punya peran penting dalam perkembangan fisik anak. Berlatih jenis olahraga tertentu bisa membuat tulang Si Kecil tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan memiliki kepadatan lebih baik.

Akan tetapi bukan sembarang olahraga lho, Moms. Olahraga yang bisa menstimulasi epifisis tulang seperti basket, berenang, lari, atau yoga bisa membuat anak tumbuh lebih tinggi dua hingga tiga sentimeter dibandingkan anak lain yang tidak berolahraga. Olahraga semacam ini juga memberikan stimulasi maksimal terhadap lutut, pergelangan kaki, dan tulang punggung. Stimulasi hanya akan memberikan efek maksimal saat anak berada dalam masa pubertas.

Selain itu, latihan fisik atau olahraga juga bisa memberikan efek sebagai berikut:

• Membantu penyerapan kalsium yang nantinya akan berimbas pada perkembangan tulang, khususnya jika olahraga dilakukan di bawah sinar matahari.

• Membantu pembentukan hormon pertumbuhan. Rutin melakukan olahraga akan membuat metabolisme tubuh anak menjadi lebih baik, membantu mencegah datangnya penyakit dan mengurangi risiko obesitas.

 

Faktor Penentu

Namun Moms perlu tahu, sesungguhnya ada beberapa faktor yang menjadi penentu tinggi anak, antara lain genetik, gizi, dan periode puber. Sekitar 60 persen tinggi badan anak dipengaruhi oleh faktor genetik. Sedangkan 40 persen sisanya dipengaruhi oleh nutrisi, tidur, olahraga, endokrin, mood, dan faktor lainnya.

Menurut dokter Meta Hanindita, SpA (K), faktor genetik tidak banyak berpengaruh terhadap postur anak pada awal tumbuh kembangnya. “Dua tahun pertama, tinggi anak tidak ada hubungannya dengan tinggi ibu atau ayahnya. Selama 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan), jika nutrisinya tercukupi, tinggi anak tentu akan maksimal,” kata dokter Meta. Berikut ini faktor penentu tumbuh kembang anak, Moms:

1. Bayi

• Nutrisi

• Kesehatan dan kebahagiaan



• Hormon tiroid

2. Anak-anak

• Hormon pertumbuhan

• Hormon tiroid

• Faktor gen

• Kesehatan dan kebahagiaan anak

3. Masa Puber

• Hormon testosteron dan estrogen

• Hormon pertumbuhan


Faktor CDGP

Di sisi lain, jika Si Kecil yang awalnya bertubuh lebih pendek dibandingkan teman-temannya lantas tiba-tiba menjadi lebih tinggi, bisa jadi ia mengalami constitutional delay of growth and puberty (CDGP). Anak yang mengalami kondisi ini biasanya tumbuh lebih lambat pada masa pra-pubertas.

Namun ia akan mengalami percepatan tinggi setelah melewati masa pubertas hingga akhir. Masa pubertas adalah ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa pubertas biasanya diawali pada usia 8 hingga 10 tahun, dan berakhir pada usia 15 hingga 16 tahun. Pada masa ini, anak biasanya mengalami percepatan pertumbuhan. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   olahraga,   tinggi badan,   postur