Mother&Baby Indonesia
Kisah Para Bayi yang Kehilangan Orang Tuanya karena COVID-19

Kisah Para Bayi yang Kehilangan Orang Tuanya karena COVID-19

Sudah lebih dari 18 ribu orang meninggal dunia akibat pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia. Faktanya, virus Corona memang tak pandang usia. Tua atau muda, orang dewasa atau anak-anak, semua bisa terserang dan meninggal akibat virus yang mewabah sejak setahun lalu tersebut.

Tidak sedikit anak-anak yang harus kehilangan orang tuanya karena terjangkit COVID-19, tak terkecuali para bayi yang baru lahir. Beberapa bayi bahkan tak sempat melihat wajah ayah atau ibunya, karena telah meninggal dunia terlebih dahulu akibat terinfeksi virus Corona, seperti yang dikisahkan dalam akun Instagram @sandysandyprasetyo milik dr. Sandy Prasetyo, SpOG, pada awal Desember silam.

Melalui akun Instagram miliknya, dokter yang praktik di Brawijaya Antasari Hospital ini berkisah tentang bagaimana ia diminta untuk membacakan azan pada dua bayi yang ia bantu proses kelahirannya. Dan hal itu dilakukan bukannya tanpa alasan.



Bayi pertama terpaksa dibacakan azan oleh dr. Sandy karena sang ayah positif COVID-19 saat di tes swab menjelang kelahiran buah hatinya. Karena tidak bisa mengazankan secara langsung bayinya, sang ayah meminta tolong kepada dr. Sandy untuk mengambil alih tugasnya tersebut.

Sementara itu, bayi satu lagi diazankan oleh dr. Sandy karena ayahnya meninggal dunia setelah terinfeksi virus Corona. “Pasien ini pertama kali ketemu saya 3 tahun yang lalu bareng suami. Saat itu dalam kondisi keguguran. Setelah terus berjuang selama 2 tahun untuk mendapatkan kehamilan, sampai akhirnya 9 bulan yang lalu pasien dan suaminya datang ke saya,” jelas dr. Sandy.

Karena sudah cukup lama mengenal dr. Sandy, pasangan tersebut memintanya untuk menangani kehamilan sang istri. Bahkan suaminya sempat menitipkan istri dan calon bayinya kepada dr. Sandy. “Saya enggak akan lupa wajah bahagia dan bagaimana antusiasnya sang suami di hari itu, waktu untuk pertama kalinya dia lihat detak jantung calon anaknya,” kenang dr. Sandy.

Pasangan tersebut pun rutin datang untuk memeriksakan kehamilan sang istri setiap bulan dan tidak pernah lewat jadwal. “Saya kenal banget sama pasangan ini karena tahu perjalanan dan perjuangan untuk dapat kehamilannya,” tulis dr. Sandy.

Memasuki minggu ke-33, sang ibu sempat mengirimkan pesan kepada dr. Sandy. Dia mengatakan bahwa tidak bisa kontrol kehamilan dahulu karena positif COVID-19. Dan pada minggu ke-36, sang pasien mengabarkan bahwa dirinya sudah negatif dan ingin kembali kontrol kehamilan dengan dr. Sandy.



“Tiga hari kemudian, pasien saya datang masuk pintu ruang praktik ditemani sepupunya. Seperti biasa, saya sapa antusias ‘Halo bu, Alhamdulillah ya sudah sehat. Bapak mana bu?’ sambil saya tengok-tengok ke arah pintu menunggu suaminya masuk,” tulis dr. Sandy.

Alih-alih menjawab, sang ibu justru menangis dan tidak bisa berkata-kata. Setelah bertanya kepada sepupu yang mengantarkan, baru diketahui bahwa sang suami meninggal dunia. “Kaget saya. Tiga minggu sebelum lahiran ternyata suaminya meninggal karena COVID,” lanjut dr. Sandy. Ia pun setuju saat pasiennya meminta tolong agar kelak sang bayi dibacakan azan olehnya.

“Ya Allah, sedih banget saya. Saya bukan keluarga, cuma dokternya saja. Tapi saya ngerasain sedih banget waktu mengazankan si cantik “putri dari surga” (ini arti dari nama si bayi waktu saya tanya sepupu pasien). Semoga jadi anak yang kuat dan selalu membahagiakan mamamu ya, nak. Ayahmu pasti senang kamu sudah lahir di dunia untuk nemenin mama,” demikian unggahan dr. Sandy.

Bayi Kehilangan Ibu 

Kisah serupa juga terjadi baru-baru ini di Detroit, Amerika Serikat. Erika Becerra diketahui terinfeksi virus Corona ketika tengah hamil 8 bulan. Karena kondisi ibu berusia 33 tahun itu bertambah parah, dokter terpaksa mempercepat kelahiran anak keduanya pada 15 November 2020. Bayi yang terlahir melalui proses persalinan normal tersebut diberi nama Diego. Namun setelah melahirkan, kondisi Erika kian memburuk.

“Dia berhasil melahirkan anak laki-lakinya, tapi tidak punya kesempatan untuk menggendongnya. Pasalnya, setelah melahirkan petugas medis langsung memasang selang pernapasan dan sejak itu kondisinya terus memburuk, ujar sang adik, Michael Avilez, seperti dilansir The Star. Hingga akhirnya, Erika pun meninggal dunia tanpa sempat menggendong buah hatinya.

Tidak sedikit nyawa yang terenggut akibat COVID-19. So, Moms dan Dads, yuk terus terapkan protokol kesehatan. Jangan lengah dan #dirumahaja untuk menghentikan penyebaran virus Corona. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik) 



Tags: covid-19,   virus corona,   bayi