Mother&Baby Indonesia
Kondisi Vagina Usai Persalinan yang Perlu Anda Ketahui

Kondisi Vagina Usai Persalinan yang Perlu Anda Ketahui

Dalam persalinan normal atau persalinan pervaginam, bayi terlahir dengan melewati area organ serviks, vagina, vulva, dan perineum (terletak antara vulva dan anus). Organ-organ ini cukup elastis dan tidak mudah robek saat bayi yang beratnya rata-rata antara 2.500- 3.500 gram lahir. Namun, persalinan yang terjadi secara spontan ini bisa mengakibatkan komplikasi robekan jalan lahir sehingga perlu adanya tindakan untuk memperluas jalan lahir.

Robekan ini membuat terjadinya perubahan pada organ-organ yang menjadi jalan lahir bayi. Dr. Irman Christiono, Sp.OG dari Siloam Hospital Simatupang di Jakarta Selatan menjelaskan perubahan apa saja yang terjadi usai persalinan pervaginam ini.

Saat Persalinan

Bagaimana persalinan normal terjadi? Dr. Irman Christiono menjelaskan, bahwa pada saat persalinan, bagian terbawah dari bayi akan memasuki pintu atas panggul. Dengan kontraksi persalinan teratur, bayi akan semakin turun. Ia akan mendorong serviks untuk meregang, sehingga membuka jalan lahir sampai serviks tidak dapat diraba lagi. Bagian terbawah bayi akan masuk ke vagina dan selaput ketuban akan pecah. Kontraksi akan semakin kuat dan lama, hingga membuat posisi bayi semakin turun dan kepala bayi mulai terlihat (crowning). Saat itu, bibir vagina (vulva) dan perineum akan meregang.



Terjadinya Robekan

Dalam beberapa kasus, robekan atau yang disebut dengan laserasi pada jalan lahir bisa terjadi saat persalinan normal. Hal ini bisa terjadi karena kondisi tertentu, antara lain otot jalan lahir yang kaku, persalinan yang terlalu cepat, bayi besar (berat badan di atas 3.500 gram), perilaku ibu yang tidak tepat seperti mengangkat bokong saat mengejan, dan adanya bantuan dorongan pada fundus rahim 9 untuk membantu turunnya bayi ke jalan lahir. Tindakan episiotomi atau memperluas jalan lahir dengan memotong sebagian perineum juga bisa menjadi penyebab terjadinya robekan.

Variasi Robekan

Besarnya laserasi atau robekan yang bisa terjadi saat bayi melewati vagina sangatlah bervariasi. Bisa dimulai dari ujung puncak vagina, bagian tengah mukosa vagina yang meliputi otot- otot yang ada di vesiko vaginalis dan rectovaginalis, serta bagian luar vagina atau perineum. Keparahan robekan jalan lahir juga dapat dilihat dari derajat robekannya.

Jahitan untuk Atasi Vagina Robek

Robekan yang terjadi pada vagina harus segera diatasi dengan tindakan jahitan. Jahitan yang harus dilakukan secepat mungkin ini berguna untuk mengurangi dan menghentikan risiko perdarahan yang banyak dan infeksi. Tindakan jahitan ini disesuaikan dengan anatomi organ yang terpotong untuk mendapatkan efek kosmetik yang baik.

Biasanya jahitan dilakukan berupa jahitan jelujur, jahitan satu-satu (interupted), atau jahitan jelujur interlocking (jahitan kontinu dengan mengaitkan benang pada jahitan sebelumnya). Sementara benang yang dipakai menggunakan benang yang bisa diserap oleh tubuh dan yang tidak diserap oleh tubuh. Ukuran benangnya pun disesuaikan dengan organ yang akan dijahit.

Merawat Luka Jahitan

Usai dijahit, luka bekas jahitan ini tentunya harus dirawat agar tidak menimbulkan risiko infeksi. Perawatan juga dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri pada bekas luka jahitan. Untuk merawatnya, luka jahitan harus selalu dalam kondisi bersih. Caranya dengan melakukan pembersihan luka setiap saat, menggunakan cairan pembersih, atau larutan antiseptik. Bilas luka perineum tersebut dengan air yang bersih dengan suhu ruang. Pada bilasan terakhir, Moms bisa gunakan antiseptik untuk menjaga luka agar tidak infeksi setelah buang air besar atau kecil.



Biasanya, dokter juga akan memberikan obat analgetik (antinyeri) dan antibiotik untuk mengurangi reaksi peradangan dan nyeri, serta mencegah infeksi. Moms juga dianjurkan untuk mengonsumsi makanan bernutrisi tinggi, terutama yang mengandung protein, mineral, vitamin, karbohidrat, serta antioksidan tinggi. Sementara untuk aktivitas, sesuaikan dengan kondisi tubuh Moms yang masih lemas setelah melahirkan. Apabila kondisi tubuh sudah cukup baik, Moms bisa beraktivitas seperti biasa.

Masalah pada Bekas Luka Jahitan

Luka jahitan bisa bermasalah apabila terjadi infeksi dan penjahitan tidak dilakukan dengan baik. Infeksi bisa terjadi karena rapuhnya jaringan yang luka sehingga luka bisa terbuka kembali. Infeksi luka bisa mulai dari tahap yang ringan hingga berat.

Infeksi luka jahitan yang ringan bisa dilihat dari tanda-tandanya, yaitu luka lama sembuh, kemerahan, bernanah sedikit, hingga luka terbuka. Sementara infeksi luka jahitan yang berat, tanda-tandanya adalah demam tinggi, luka terbuka dan bernanah, bahkan bisa menyebabkan sepsis apabila terlambat ditangani.

Apakah Vagina Bisa Kembali Normal?

Proses kehamilan dan persalinan, terutama bagi para ibu baru, tentu akan menguras energi. Moms juga akan merasakan adanya perubahan vagina yang meregang dan lebih sensitif.  Namun, vagina akan kembali pada keadaan semula meskipun ada kondisi selaput dara hilang seluruh atau sebagian karena trauma jalan lahir.

Organ intim ini akan mengeluarkan cairan bernama lokia, terdiri dari sisa darah yang akan keluar selama beberapa minggu. Sisa darah ini berangsur-angsur berubah kecokelatan, kekuningan, hingga menghilang dan tidak muncul lagi. Vagina juga akan menjadi kering dan tidak terjadi menstruasi apabila Moms menyusui dengan aktif. Namun, jika Moms tidak menyusui, menstruasi bisa lebih cepat dan terkadang kesuburan juga akan cepat kembali.

Untuk memperkuat kembali otot-otot organ intim dan otot panggul, Moms bisa melakukan senam kegel. Moms bisa melakukan hubungan intim kembali sekitar 42 hari usai melahirkan. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: vagina,   persalinan,   ibu melahirkan