Mother&Baby Indonesia
Risiko yang Timbul saat Janin Berukuran Terlalu Besar

Risiko yang Timbul saat Janin Berukuran Terlalu Besar

Banyak yang mengatakan bahwa ibu hamil perlu makan untuk dua orang. Pernyataan tersebut memang ada benarnya. Faktanya, Moms memang perlu mengonsumsi makanan bernutrisi tinggi guna memenuhi kebutuhan gizi Anda dan janin yang berada dalam kandungan.

Meskipun begitu, di sisi lain, hal ini bukan berarti Moms bisa makan secara berlebihan. Kebiasaan makan yang hanya mementingkan kuantitas, bukannya kualitas, bisa menimbulkan masalah lho, Moms. Salah satunya adalah janin menjadi terlalu besar dan memiliki berat di atas 4.000 gram atau yang disebut dengan istilah makrosomia.

Penyebab Janin Tumbuh Terlalu Besar

Selain kebiasaan makan berlebihan, janin dalam kandungan juga bisa tumbuh terlalu besar karena beberapa faktor berikut ini:



1. Ibu Menderita Diabetes Gestasional

Diabetes gestasional atau diabetes yang terjadi saat hamil merupakan salah satu penyebab utama janin memiliki ukuran yang besar. Kadar gula darah yang tinggi pada ibu hamil akan membuat asupan gula ke janin melalui plasenta juga tinggi. Hal inilah yang akan mengakibatkan ukuran janin bertambah dengan cepat.

2. Faktor Genetik

Dalam sebagian kasus, ibu hamil bisa mengandung janin yang berukuran besar karena faktor genetik. Jadi wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan bayi besar atau pernah melahirkan bayi besar, akan lebih berisiko mengalami janin besar pada kehamilan berikutnya.

3. Hamil Anak Laki-laki

Janin yang berjenis kelamin laki-laki memiliki kemungkinan berukuran besar dibandingkan dengan janin yang berjenis kelamin perempuan.

4. Ibu Hamil Mengalami Obesitas

Wanita yang memiliki indeks massa tubuh di atas 25 sebelum kehamilan rentan melahirkan janin dengan ukuran besar. Risiko akan bertambah jika selama kehamilan, ibu hamil juga tidak bisa menjaga asupan makanan dan minumannya.

Risiko Janin Terlalu Besar

Tidak seperti anggapan banyak orang, melahirkan bayi yang berukuran lebih besar dari rata-rata sesungguhnya memiliki banyak risiko. Bukan hanya bagi sang ibu, tapi bayinya juga berisiko mengalami gangguan kesehatan. 

Berikut adalah beberapa risiko yang mungkin terjadi pada kehamilan dan persalinan dengan bayi yang berukuran terlalu besar atau mengalami makrosomia:

• Proses melahirkan normal yang memakan waktu lama.



• Perineum robek.

• Bahu bayi tersangkut di jalan lahir (distosia).

• Bayi harus dilahirkan melalui operasi caesar.

• Bayi lahir dengan kadar gula darah yang rendah. Bayi berukuran besar biasa terlahir dari ibu yang menderita diabetes gestasional. Dalam rahim, bayi tersebut terbiasa dengan kadar gula darah yang tinggi dari ibunya sehingga ukurannya membesar dengan cepat. Tapi ketika lahir, sumber makanan bayi ini terputus sehingga bayi besar cenderung memiliki gula darah rendah dan perlu dimonitor setelah lahir.

• Bayi menderita penyakit kuning.

• Bayi mengalami cedera lahir.

• Bayi lahir dengan kesulitan bernapas.

• Bayi lahir dengan cacat bawaan apabila ibunya menderita diabetes.

• Bayi berisiko mengalami sindrom metabolik selama masa kanak-kanak. Sindrom metabolik merupakan sekelompok kondisi yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, tingginya kadar gula darah, kelebihan lemak tubuh di sekitar pinggang, atau kadar kolesterol tidak normal. Nantinya, sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

• Sebagian besar ibu hamil yang memiliki bayi berukuran besar juga mengalami stretch mark.

Mengingat janin yang terlalu besar juga menimbulkan berbagai risiko masalah kesehatan, sangat disarankan agar Moms tetap mengatur pola makan selama masa kehamilan. Bukan sekadar makan lebih banyak, tapi Anda perlu lebih fokus kepada kualitas makanan, seperti nutrisi yang dikandungnya dan manfaat bagi kesehatan ibu serta janin. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   ibu hamil,   janin,   bayi,   makrosomia,   diabetes gestasional,   obesitas