Mother&Baby Indonesia
Mengenal Amniotic Band Syndrome, Amputasi di Dalam Rahim

Mengenal Amniotic Band Syndrome, Amputasi di Dalam Rahim

Setiap orang tua tentu ingin anaknya lahir dalam keadaan sehat sempurna tanpa kekurangan sesuatu apa pun. Maka tak heran jika Moms dan Dads mengupayakan yang terbaik untuk menjamin perkembangan dan kesehatannya. Namun ada kalanya komplikasi kehamilan bisa terjadi tiba-tiba dan menyebabkan kondisi tertentu pada janin.

Salah satu yang bisa dialami oleh janin adalah amniotic band syndrome (ABS), yakni ketika Si Kecil memiliki beberapa kondisi kongenital abnormal yang terjadi akibat pita amnion yang mengikat bagian tubuh tertentu janin menyebabkannya tumbuh tak maksimal. Pada kasus tertentu, kondisi ini bisa mengamputasi organ tubuh tertentu.

Yuk, simak lebih dalam soal amniotic band syndrome pada penjelasan berikut ini, Moms!



Penyebab Amniotic Band Syndrome pada Janin

Janin berkembang di dalam rongga rahim yang diselimuti oleh membran tipis yang disebut amnion atau kantong ketuban. Dalam kasus khusus, kulit atau pita membran bisa masuk ke dalam rongga rahim sehingga bisa membelit organ tubuh janin tertentu.

Jika belitan cukup erat untuk menghambat peredaran darah pada organ tubuh tertentu, maka perkembangan tubuhnya bisa berpengaruh. Malformasi, pertumbuhan yang tak maksimal, hingga amputasi organ tubuh janin bisa terjadi.

Mengutip laman John Hopkin’s Medicine, secara umum kasus amniotic band syndrome terjadi pada 1 dari 1.200 kelahiran bayi. Namun hingga kini, para ahli belum benar-benar mengetahui penyebab sindrom ini. Teori penyebab ABS yang terkenal adalah pecahnya atau bocornya amnion di awal masa kehamilan, yakni antara usia kandungan 28 hari hingga 18 minggu. Akibatnya, pita amnion dapat membalut bagian tubuh tubuh janin. Jika kondisi ini terjadi di masa kehamilan akhir, biasanya tidak akan menimbulkan masalah pada janin.

Pengaruhnya bagi Pertumbuhan Anak

Umumnya, malformasi akibat amniotic band syndrome termasuk minor, yakni pada jari tangan, jari kaki, atau bekas garis pada bagian tubuh tertentu. Namun dalam kasus yang cukup parah, amniotic band syndrome dapat memengaruhi sistem tubuh ganda dan cukup membahayakan nyawa Si Kecil.

Mengutip laman Children’s Wisconsin, ada beberapa kategori cacat akibat amniotic band syndrome, antara lain:

1. Neural tube defects, seperti anencephaly (bayi lahir dengan otak atau tengkorak yang tidak berkembang maksimal), spina bifida, dan acrania.



2. Craniofacial defects, seperti bibir sumbing atau wajah yang asimetris.

3. Limb defects, seperti amputasi, joint contractures (sendi tak bisa bergerak dengan bebas), dan club foot.

4. Constrictive bands, seperti bengkak pada bagian tubuh tertentu yang mana bisa memengaruhi tali pusat. Kondisi ini sangat membahayakan nyawa janin.

5. Limb-body-wall complex yang merupakan kondisi cacat tubuh yang rumit.

Cara Pencegahan

Karena penyebab pasti belum diketahui, maka belum ada tindakan pencegahan yang pasti pula. Tapi deteksi dini dapat membantu Anda menentukan langkah tepat untuk mengatasi ABS.

Umumnya, amniotic band syndrome baru didiagnosis setelah persalinan. Namun kini kondisi ini bisa dideteksi melalui USG. Deteksi ABS melalui USG dapat dilakukan di usia kandungan 12 minggu. Setelah persalinan, Si Kecil akan membutuhkan perawatan khusus atau tindakan bedah sesuai dengan kondisi yang ia alami. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   sindrom,   amniotic band syndrome,   ibu hamil,   janin