Mother&Baby Indonesia
Kata “Tidak” Tetap Perlu Diucapkan untuk Melarang Anak

Kata “Tidak” Tetap Perlu Diucapkan untuk Melarang Anak

Moms mungkin sering mendengar pendapat beberapa pakar parenting yang sepakat bahwa orang tua perlu mengurangi berkata “tidak” pada anak-anak mereka. Ini karena kata “tidak” atau “jangan” yang berupa larangan, diyakini dapat membatasi kreativitas anak yang masih suka bereksplorasi.

Daripada berkata “tidak”, para orang tua disarankan untuk menggunakan kata lain yang dapat diterima anak secara positif, namun tetap menyiratkan sebuah larangan. Tetapi, apakah kata “tidak” atau “jangan” benar-benar tidak boleh diucapkan ketika berkomunikasi dengan anak?



Kata “Tidak” Masih Perlu Diucapkan Orang Tua

Kata “tidak” ternyata masih boleh digunakan dalam pengasuhan anak lho, Moms. Menurut Sashkya Aulia Prima, M.Psi., psikolog anak dan keluarga dari Tiga Generasi, orang tua harus pandai memahami situasi, kapan harus berkata tidak kepada anak. Kata “tidak” masih sangat diperlukan, bahkan harus diucapkan ketika anak tengah melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya atau orang lain.

Bagaimana menyampaikannya? Sebaiknya, ketika mengatakan “tidak” untuk melarang Si Kecil melakukan sesuatu, berikan alasan yang jelas. Misalnya, ketika anak melompat-lompat di meja, katakan kepadanya kalau nanti ia bisa terluka. Kemudian segera alihkan perhatiannya untuk melakukan sesuatu yang lain.

Saat anak dilarang melakukan sesuatu yang disukai, kemungkinan ia akan mengamuk bahkan menangis. Menangis menjadi respons yang wajar, karena ini merupakan cara anak menumpahkan emosinya. Ketika anak mengamuk ataupun menangis, diamkan sementara waktu. Biarkan tangisannya reda. Setelah tenang, jelaskan alasan ia tidak boleh melakukan hal tersebut.

Kapan Orang Tua Harus Berkata “Tidak”?

Moms harus berkata “tidak” untuk situasi berikut ini:



1. Anak bermain kabel, stop kontak, maupun steker. Karena rasa ingin tahunya yang tinggi, Si Kecil sering kali ingin menyentuh semua benda yang dilihatnya. Tak jarang ia bermain-main dengan kabel listrik atau peralatan listrik lainnya. Karena itu jangan ragu untuk berkata “tidak” atau “jangan” ketika Si Kecil ingin menyentuh peralatan listrik di rumah.

2. Melepas tangan saat menyeberang jalan. Menyeberang jalan berhubungan dengan keselamatan diri dan Moms wajib menuntun Si Kecil. Anda harus berkata “tidak” jika Si Kecil ingin menyeberang sendiri. Moms perlu menjelaskan alasan kenapa ia belum boleh menyeberang sendiri pada saat itu. Tegaskan kalau ia boleh menyeberang sendiri ketika sudah lebih besar.

3. Memukul teman. Anda harus berkata “tidak” jika melihat Si Kecil melakukan perbuatan tidak baik, misalnya memukul temannya saat bermain. Jelaskan, kalau memukul orang lain itu tidak baik, jadi tidak boleh dilakukan.

4. Melompat-lompat atau memanjat tempat yang berbahaya. Anak-anak tidak boleh dibiarkan melompat-lompat atau memanjat tempat yang berbahaya buatnya. Pasalnya, jika jatuh, hal itu bisa membuatnya cedera ataupun terluka.

5. Bermain api. Moms tentunya tidak ingin melihat Si Kecil terkena luka bakar karena bermain api, bukan? Jadi, katakan “tidak” kalau melihat Si Kecil bermain dengan benda yang dapat menghasilkan api.

Tips untuk Orang Tua saat Mengatakan “Tidak” pada Anak

1. Hindari mengucapkan kata “tidak” terlalu sering kepada Si Kecil. Katakan “tidak” saat benar-benar terpaksa, misalnya ketika tindakan Si Kecil sudah berbahaya dan tidak bisa dikontrol lagi.

2. Sertakan alasan Moms mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan anak.

3. Moms bisa menjelaskan alasan melarang anak melakukan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan hal yang mengancam keselamatannya, misalnya dengan menunjukkan video edukasi.

4. Berkata “tidak” harus disertai ekspresi tegas supaya Si Kecil memahami bahwa Anda benar-benar serius ya, Moms. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   orang tua,   keluarga,   melarang anak,   pengasuhan anak