Mother&Baby Indonesia
Begini Cara Cerdas Tegur Keluarga yang Suka Sebar Hoaks

Begini Cara Cerdas Tegur Keluarga yang Suka Sebar Hoaks

Kecanggihan teknologi di zaman yang serba modern ini membuat arus penyebaran informasi semakin mudah dan cepat terjadi. Namun sayangnya, alih-alih digunakan untuk membagikan kabar yang informatif, kecanggihan teknologi sering kali malah digunakan untuk menyebarkan berita bohong atau hoaks.

Moms mungkin kerap menemukan kabar hoaks disebarkan oleh kerabat dekat atau anggota keluarga, misalnya melalui broadcast (pesan massal) atau grup WhatsApp keluarga besar. Anda juga mungkin merasa gerah mendapati hal tersebut, tapi tak tahu bagaimana cara yang baik untuk menghadapinya.



Nah, kali ini M&B sudah merangkum beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi dan menegur anggota keluarga yang suka berbagi pesan hoaks. Yuk, simak triknya berikut ini, Moms!

1. Melakukan Kroscek Ulang

Mencurigai dan memahami adalah hal yang berbeda. Jika Moms belum yakin sepenuhnya apakah berita yang dibagikan adalah benar ataukah hoaks, maka Moms perlu mencari kebenarannya terlebih dahulu. Kebenaran berita bisa dilihat dari sumber atau portal berita yang tepercaya dan sudah diberitakan oleh beberapa media besar.



2. Chat Secara Pribadi

Setelah Moms memahami bahwa berita yang dibagikan adalah hoaks, maka Moms bisa menegur anggota keluarga melalui pesan pribadi. Pastikan Moms menggunakan bahasa yang tidak provokatif agar pengirim hoaks tidak merasa tersinggung. Pasalnya, bisa saja sang penyebar hoaks tak mengetahui kebenaran berita tersebut dan akan lebih menerima jika ditegur secara pribadi.

3. Berikan Sanggahan

Sebuah studi yang dimuat jurnal Science Communication pada tahun 2017 menyatakan bahwa koreksi yang dilakukan secara publik dapat mengurangi kecenderungan bagi orang-orang untuk percaya terhadap hoaks tersebut. Moms bisa sanggah hoaks dengan memberikan informasi yang benar dari sumber yang lebih tepercaya. Jangan lupa untuk menghindari kalimat provokasi dan menggunakan kata-kata yang netral saat memberikan sanggahan ya, Moms.

4. Gunakan Perspektif Lain

Pengirim hoaks bisa merasa malu, tersinggung, bahkan marah jika ada yang memanggilnya penyebar hoaks. Sekali lagi, bisa saja sang pengirim hoaks tak memahami bahwa berita yang ia sebar salah. Maka selalu pastikan Anda menggunakan bahasa yang positif dan suportif saat mengoreksi, atau ia akan merasa terpinggirkan dan tidak bisa menerima koreksi dengan baik. Saat ingin mengoreksi, Moms bisa awali dengan, “Aku penasaran dengan apa yang kamu bagikan, tapi tadi aku baru saja cari di Google dan ini yang aku temukan...”

5. Hindari Perdebatan

Terkadang, pembicaraan bisa saja tidak berjalan dengan lancar. Anggota keluarga atau kerabat bisa bersikap defensif dan diskusi tak lagi konstruktif. Namun ingatlah bahwa menerima kritik atau koreksi bukan hal mudah bagi beberapa orang, walau Anda sudah bersikap suportif. Jika begitu, Anda tak perlu melanjutkan pembicaraan bersamanya, tapi tetap berikan tips padanya untuk memeriksa kebenaran sebuah berita.

6. Berikan Instrumen Anti Hoaks dan Proaktif

Memang benar mengoreksi informasi yang salah sangatlah penting, baik secara publik maupun privat. Tapi Moms juga bisa bersikap proaktif untuk menghindari penyebaran hoaks di kemudian hari. Caranya, Moms bisa berikan tips atau instrumen yang bisa membantu mereka memeriksa kebenaran sebuah berita, seperti panduan dari Kominfo atau panduan lain dari organisasi tepercaya. Selain itu, Moms juga bisa berbagi informasi yang benar lewat media sosial Anda. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   hoaks