Mother&Baby Indonesia
Benarkah Makanan yang Dibakar Tingkatkan Risiko Kanker?

Benarkah Makanan yang Dibakar Tingkatkan Risiko Kanker?

Menjaga pola makan yang sehat dan mengonsumsi makanan yang memiliki gizi seimbang merupakan cara utama untuk menjaga kesehatan. Bukan bahan makanan saja yang perlu diperhatikan saat hendak dikonsumsi, cara pengolahan makanan juga perlu Moms cermati. Sebabnya, mengolah makanan dengan cara tertentu bisa merusak maupun mengurangi nilai gizi makanan.

Salah satu cara mengolah makanan adalah dengan dibakar. Namun, Moms mungkin kerap mendengar bahwa mengonsumsi makanan yang dibakar bisa meningkatkan risiko kita terkena kanker. Benarkah demikian? Untuk mengetahuinya, yuk simak penjelasan berikut ini, Moms!



Bahaya Makanan yang Dibakar Menurut Penelitian

Mengutip Time, ada berbagai macam studi yang menyatakan bahayanya mengonsumsi makanan yang dibakar karena hal tersebut bisa meningkatkan risiko kita terkena kanker, mulai dari kanker pankreas hingga prostat.

Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Vanderbilt University pada tahun 2010 menemukan bahwa konsumsi tinggi daging yang dibakar bisa meningkatkan risiko kanker pada manusia. Dalangnya adalah zat bernama heterocyclic amines (HCA) atau yang juga dikenal dengan istilah karsinogen, yang terdapat pada daging bakar.

Karsinogen atau heterocyclic amines (HCA) adalah zat kimia yang terbentuk pada daging sapi, ikan, dan ayam yang dimasak. Zat lain yang juga berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker adalah polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). PAH terbentuk dari lemak dan air daging yang dibakar. Asap yang mengandung PAH kemudian menyelimuti daging yang dibakar.



Menurut Robert Turesky, ahli penyebab kanker di University of Minnesota, baik HCA maupun PAH bisa diolah oleh enzim tubuh. Namun, beberapa hasil olahan ini bisa merusak DNA yang bisa berkontribusi dalam perkembangan sel kanker.

Akan tetapi, HCA dan PAH dapat memberikan dampak yang bervariasi bagi setiap orang. Jenis daging, metode pembakaran, temperatur memasak, serta durasi memasak dapat memengaruhi jumlah HCA maupun PAH pada daging. Robert mengatakan bahwa HCA berkonsentrasi sangat tinggi pada daging yang dibakar dengan sangat matang hingga permukaannya gosong dan berkerak hitam.

Kondisi genetik setiap orang juga berbeda, sehingga setiap orang dapat merespons HCA dan PAH dengan berbeda pula. “Risiko kanker bagi setiap orang yang mengonsumsi daging matang yang dibakar dapat sangat bervariasi,” ujar Robert.

Perdebatan Kekhawatiran

Walau begitu, National Cancer Institute (NCI) menyatakan bahwa studi tersebut tidak menyatakan keterkaitan langsung antara paparan HCA dan PAH pada daging yang dibakar dan kanker pada manusia.

Meski studi yang dilakukan pada tikus menunjukan bahwa zat kimia ini bisa menyebabkan kanker, NCI menyebutkan bahwa dosis HCA dan PAH yang digunakan pada studi ini sangat tinggi, setara dengan 1.000 kali lebih banyak dari dosis yang dikonsumsi oleh manusia dalam pola makan yang normal.

Dr. Stephen Freedland, pimpinan Center for Integrated Research in Cancer and Lifestyle di Cedars-Sinai Medical Center, mengonfirmasi berdasarkan studi tersebut bahwa mengonsumsi daging bakar bisa meningkatkan risiko kanker, tapi ia lebih khawatir akan hal lain. “Saya lebih khawatir oleh makanan manis dan minuman bersoda daripada daging bakar,” tuturnya.

Ia berharap masyarakat tidak panik terhadap daging bakar, karena ada banyak hal lain yang lebih bisa meningkatkan risiko kanker. Jumlah gula yang berlebih meningkatkan risiko obesitas, dan obesitas merupakan faktor risiko yang jelas menyebabkan kanker.

Selain itu, Robert menyatakan bahwa asap rokok dan minuman beralkohol meningkatkan risiko kanker jauh lebih tinggi daripada mengonsumsi daging bakar. Dr. Stephen menyatakan menggunakan kertas aluminium dan memarinasi dengan bumbu bisa mengurangi potensi terbentuknya zat karsinogen. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: kanker,   kesehatan,   nutrisi