Mother&Baby Indonesia
Sleep Regression, saat Bayi Belum Punya Jam Tidur Teratur

Sleep Regression, saat Bayi Belum Punya Jam Tidur Teratur

Bayi memang membutuhkan waktu tidur yang cukup lama, yaitu hingga 16 jam. Namun, akan ada momen ketika Si Kecil justru mendadak terbangun dan jadi sulit untuk ditidurkan kembali. Situasi ini sebenarnya wajar terjadi dan disebut dengan sleep regression.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan fase ketika bayi sering terbangun saat sedang tidur dan sulit untuk tidur kembali. Sleep regression biasanya dialami oleh bayi, namun dapat juga terjadi pada anak-anak hingga usia 1,5 tahun.

Kondisi ini sendiri terbilang wajar karena menjadi salah satu tahap tumbuh kembang otak bayi. Karena adanya gangguan pada kadar hormon yang mengatur waktu tidur dalam otaknya, maka Si Kecil pun mengalami sleep regression, namun hal tersebut tidak mengganggu kesehatannya.



Tahapan Tidur Bayi

Selain karena perubahan hormon, sleep regression sendiri juga disebabkan oleh beberapa faktor dari luar. Bisa jadi bayi merasa stres, mengalami tumbuh gigi, sedang sakit, adanya perubahan aktivitas bayi, atau saat sedang melakukan perjalanan jauh.

Namun di luar itu, ada tahapan yang dilalui Si Kecil hingga ia menjadi sulit tidur, terutama saat terbangun di malam hari, sesuai dengan usianya. Hal ini dijelaskan juga oleh Dr. Citra, SpA, dokter spesialis anak melalui akun Instagramnya, sebagai berikut:

• Usia 4 bulan: Ketika usia 2-3 bulan, sebenarnya bayi bisa memiliki jam tidur yang cukup teratur. Namun di usia 4 bulan, Si Kecil sudah mempelajari banyak hal. Ini membuat "tombol kesadarannya" menyala lebih lama. Kemampuannya untuk mendengar dan melihat yang semakin tajam, serta rasa ingin tahu yang tinggi, semangat dan terjaga di malam hari, semua itu membuatnya sulit mendapatkan tidur yang nyenyak.

• Usia 8-9 bulan: Di usia ini, perkembangan otak yang dialami bayi membuatnya bisa merasakan keberadaan orang lain. Maka, ketika ia tertidur dan menyadari tidak ada seseorang, terutama sang ibu di sampingnya, ia akan terbangun. Ini merupakan refleks dari pikirannya yang mencari sosok Moms saat tertidur.



• Usia 12 bulan: Di usia 12 bulan, Si Kecil sudah memasuki masa transisi tidur atau perubahan waktu tidur. Ia sudah mulai mengenal siang dan malam, sehingga waktu tidur siang dari dua kali menjadi hanya satu kali, dan tidur yang cukup panjang di malam hari.

• Usia 18 bulan: Ternyata di usia 18 bulan, Si Kecil semakin sulit dipisahkan dari orang-orang terdekatnya. Ia pun bisa mengalami separation anxiety, sehingga membuat bayi tidak tenang ketika tidak ada yang menemaninya saat tidur. Kesulitan tidur ini pun dipengaruhi oleh kelelahan saat beraktivitas, di mana ia mulai berinteraksi dengan orang yang belum ia kenal.

• Usia 2 tahun: Sudah memasuki usia 2 tahun, tandanya Si Kecil sudah mulai beradaptasi dengan banyaknya kemampuan yang ia miliki. Artinya, Si Kecil yang masuk ke dunia balita pun akan mengalami perubahan, termasuk dari waktu tidurnya yang perlu di-restart kembali.

Bukan Kondisi Berbahaya

Tahapan-tahapan tersebut bisa menjadi bukti bahwa sebenarnya sleep regression tidak berbahaya dan normal terjadi pada bayi. Tetapi, Anda perlu mewaspadai kondisi kesehatan bayi apabila kesulitan tidur yang ia alami terjadi dalam waktu lama.

Jika perlu, konsultasikan kondisi Si Kecil pada dokter untuk memastikan bahwa ia cukup sehat dan memang sedang melalui fase tumbuh kembang yang sesuai dengan usianya. Sebab, kebutuhan tidur yang cukup tentunya akan membawa keceriaan di tengah keluarga. (Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   waktu tidur,   sleep regression