Mother&Baby Indonesia
5 Bahaya Water Birth yang Perlu Anda Waspadai

5 Bahaya Water Birth yang Perlu Anda Waspadai

Melahirkan adalah proses yang sangat krusial. Saking krusialnya, banyak yang bilang, “Melahirkan bagaikan pertarungan hidup dan mati.” Untuk memenangkan pertarungan ini dan bisa melahirkan Si Kecil dengan sehat dan selamat, semua ibu pasti berusaha memilih metode persalinan yang tak hanya aman bagi ibu dan bayi, tapi juga nyaman.

Water birth atau melahirkan di air adalah salah satu cara melahirkan normal yang banyak diminati calon ibu. Cara ini dinilai lebih alami, karena tidak banyak menggunakan obat-obatan atau epidural. Proses melahirkan dengan water birth juga lebih nyaman dan banyak yang bilang lebih tidak sakit dibandingkan dengan melahirkan di ruang bersalin rumah sakit.

Manfaat water birth mungkin banyak, namun perlu diingat kalau cara ini juga ada bahayanya lho, Moms! Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) bahkan tidak merekomendasikan water birth. “Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia tidak merekomendasikan water birth atau persalinan dalam air. Ini sangat berisiko, karena ada banyak hal yang tidak bisa diprediksi,” jelas dr. Merwin Tjahjadi, Sp.OG, dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dalam webinar RS Pondok Indah Group bertajuk “Aman Melahirkan di Masa Pandemi” (25/11/20). Apa saja bahaya water birth yang perlu diwaspadai? Baca di bawah ini, Moms.



Apa Itu Water Birth?

Water birth adalah proses melahirkan di dalam air, di mana calon ibu yang hendak melahirkan akan masuk ke dalam bak berisi air hangat. Proses ini umumnya dilakukan di rumah dan ditemani bidan juga doula (tenaga profesional yang menemani proses persalinan). Menurut para pendukung water birth, cara ini memberikan banyak manfaat, seperti:

• Lebih tidak sakit dibanding melahirkan di ruang operasi rumah sakit. Namun ini bukan berarti Anda terbebas dari sakit sama sekali lho, Moms.

• Lebih alami, karena lebih minim penggunaan obat-obatan.

• Lebih relaks, karena dilakukan di kolam air hangat dan situasi yang tenang.

• Lebih mudah mengejan, karena bisa dilakukan dalam berbagai posisi (seperti jongkok) di dalam air.

• Privasi lebih terjaga, karena dilakukan di rumah atau di ruang pribadi yang membuat calon ibu lebih leluasa.

• Lebih mudah bergerak. Saat mengapung di dalam air, calon ibu merasa lebih mudah bergerak dan mengendalikan tubuhnya.

• Mempersingkat waktu persalinan.

Bahaya Water Birth

Walau sebagian Moms merasakan manfaat water birth seperti di atas, sayangnya belum ada cukup bukti yang mendukung manfaat tersebut. Dokter Merwin bahkan menyebutkan water birth sangat berisiko. Sebelum Moms mencoba cara bersalin dalam air, ketahui bahaya water birth yang harus Anda pertimbangkan berikut ini!

1. Risiko Infeksi



Saat melahirkan di dalam air, artinya duduk, mengejan, dan melahirkan di dalam kolam (yang bisa jadi terkontaminasi kotoran tubuh selama proses mengejan). Air di kolam juga bisa terkontaminasi dengan flora vagina dan anus. Bayi yang lahir di kolam berisi air yang telah terkontaminasi memiliki risiko menelan air tersebut, yang kemudian bisa menyebabkan infeksi. Padahal, bayi "terprogram" untuk menghirup udara begitu ia dilahirkan, bukan air. 

2. Risiko Tenggelam

Ya, bayi memang terlahir dengan dive reflex atau refleks menyelam, yang memungkinkan mereka menutup saluran napas dan mencegah menghirup air. Namun tetap ada kemungkinan bayi menghirup air jika mereka terkejut saat lahir, kepala sudah mulai terlihat dan seluruh tubuh bayi belum lahir, juga menipisnya cadangan oksigen di plasenta.

3. Risiko Pneumonia

Mengutip Parents, ada risiko bayi terkena pneumonia saat dilahirkan dengan cara water birth, walau dugaan ini masih butuh penelitian lebih lanjut. Pneumonia bisa terjadi karena meconium aspiration syndrome atau kondisi bayi terkontaminasi kotorannya sendiri juga bakteri dari air kolam.

4. Risiko Tali Pusat Robek

Walau jarang terjadi, kondisi ini menyebabkan perdarahan hebat yang berisiko kematian. Jika tidak segera ditangani, bayi pun berisiko tinggi mengalami neonatal anemia atau anemia pada bayi baru lahir. 

5. Penanganan Darurat Terhambat

Menurut dr. Merwin, banyak kondisi darurat yang mungkin terjadi saat proses persalinan, dan itu membutuhkan penanganan cepat. Ketika water birth dilakukan di rumah, kondisi darurat pun bisa terhambat ditangani karena harus segera dilarikan ke rumah sakit yang tentu memakan waktu. Contoh kondisi darurat medis saat persalinan adalah denyut jantung bayi menurun, perdarahan, dan sobekan luas setelah proses mengejan.

Jangan Takut Melahirkan di RS

Walau melahirkan water birth di rumah memiliki beberapa risiko, namun tetap ada saja peminatnya. Mungkin salah satu alasannya adalah kekhawatiran melahirkan di rumah sakit, terutama di tengah pandemi seperti saat ini. Padahal menurut dr. Merwin, jangan takut untuk melahirkan di rumah sakit karena penerapan protokol kesehatannya sudah sangat maksimal, aman, dan sesuai dengan panduan WHO. (Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: persalinan,   ibu melahirkan,   water birth