Mother&Baby Indonesia
Mengenal Meconium, saat Janin Buang Air Besar di dalam Rahim

Mengenal Meconium, saat Janin Buang Air Besar di dalam Rahim

Bisa dibilang, kehamilan adalah salah satu kejadian yang penuh dengan keajaiban. Bayangkan saja, seorang manusia sedang bertumbuh di dalam tubuh Anda, Moms! Oleh karena itu, wajar saja bila muncul berbagai pertanyaan seputar kehamilan. Salah satunya yang mungkin pernah terbesit di dalam pikiran Anda, apakah bayi buang air besar saat masih di dalam kandungan?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Moms bisa simak penjelasan berikut. Yuk, baca informasinya lebih lanjut!

Kotoran Pertama Si Kecil

Selama 9 bulan berada di dalam perut Anda, Si Kecil dapat pipis untuk mengeluarkan berbagai kotoran dari hal-hal yang ia cerna. Air pipis ini akan dikelola dan dikeluarkan secara alami oleh plasenta. Tapi, ada kalanya bayi buang air besar atau mengeluarkan pup sebelum lahir, dan kotoran pertamanya ini sering disebut sebagai meconium.



Mengutip Medical News Today, meconium adalah istilah medis untuk kotoran janin. Meconium terdiri dari berbagai hal, seperti cairan ketuban, sel usus, lendir, empedu, air, dan lanugo (rambut halus janin). Meskipun begitu, biasanya kotoran yang dihasilkan janin tidak akan berbentuk sebagai feses. Bentuknya bisa dibilang seperti tar, yakni berupa cairan lengket, kental, dan berwarna hijau kehitaman.

Meconium juga bisa mengandung bahan buangan lain, seperti obat-obatan. Maka, para ahli juga sering memeriksa meconium untuk mengetahui apakah Si Kecil pernah terpapar obat-obatan tertentu saat ia berada di dalam kandungan ibunya.

Janin mulai membentuk meconium saat berusia 12 minggu, tapi biasanya tidak akan dikeluarkan hingga ia lahir. Hampir seluruh bayi baru lahir mengeluarkan meconium dalam kurun waktu 12-48 jam setelah lahir. Tapi Jeanne Faulkner, R.N, penulis buku Common Sense Pregnancy, menyatakan bahwa beberapa bayi mengeluarkan meconium saat masih di dalam rahim.

Bisa Menjadi Tanda Bahaya

Melansir Parents, ketika meconium dikeluarkan di dalam rahim, maka hal ini dapat disebabkan oleh beberapa kondisi tertentu, yakni:

• Stres pada janin akibat kekurangan darah atau oksigen. Masalah pada plasenta dapat memicu hal ini.

• Si Kecil belum juga lahir walau sudah melewati HPL (Hari Prediksi Lahir).



• Persalinan yang lama dan sulit.

• Terdapat masalah kesehatan pada ibu, seperti tekanan darah tinggi atau penyakit lainnya.

• Merokok saat hamil.

• Buruknya perkembangan intrauterin.

Selain itu, walau tidak sering, meconium yang dikeluarkan saat masih di dalam rahim dapat beracun dan berbahaya bagi Si Kecil. Hal ini dapat berujung pada sebuah sindrom yakni meconium aspiration syndrome (MAS). Sebuah studi yang dimuat di Medical journal, Armed Forces India pada tahun 2010 menemukan bahwa 4-10 % bayi yang mengeluarkan meconium saat masih di dalam rahim mengalami MAS.

MAS terjadi ketika meconium terhirup oleh Si Kecil dan bisa menyebabkan obstruksi jalan napas, radang paru-paru, dan masalah dengan pertukaran oksigen. Biasanya, gejala akan hilang setelah beberapa hari. Tapi jika MAS tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat menyebabkan pneumonia, kerusakan paru-paru, dan masalah sistem pernapasan pada bayi baru lahir. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   ibu hamil,   janin,   meconium