Mother&Baby Indonesia
Bahaya Push Parenting, Memaksakan Kehendak pada Anak

Bahaya Push Parenting, Memaksakan Kehendak pada Anak

Setiap orang tua tentu berharap bahwa anak mereka bisa sukses, bahkan melebihi ibu dan ayahnya kelak. Hal ini tak jarang menyebabkan orang tua berusaha keras untuk membuat Si Kecil menjadi yang terbaik, bahkan sejak usia dini. Namun, keinginan orang tua tidak melulu menjadi keinginan anaknya.

Misalnya, Anda memasukkan ke tempat les alat musik atau masuk ke kelompok berlatih olahraga tertentu. Meski tujuannya baik, tetapi saat Moms memaksanya untuk bergabung, hal tersebut sudah menjadi salah satu tanda Anda menerapkan push parenting yang bisa membuat anak tertekan saat menjalaninya.

Pola Asuh Menekan Anak

Dilansir dari Pijar Psikologi, push parenting merupakan gaya pengasuhan yang terlalu menuntut. Walaupun orang tua ingin mendukung pilihan sesuai keinginan anak, namun pengawasan yang terlalu ketat justru membuat anak merasa tidak diberikan kebebasan untuk menentukan kompetensi yang akan dimiliki.



Tuntutan yang anak terima bahkan terkadang membuatnya merasa tertekan, takut, hingga panik dan putus asa jika tidak bisa memenuhi ekspektasi dari orang tuanya. Alhasil, Si Kecil jadi cenderung sulit untuk bersosialisasi dengan lingkungan, hingga bisa memengaruhi kondisi fisik serta psikologinya dengan alasan takut gagal.

Dampak Push Parenting

Seperti disebutkan bahwa sebenarnya mendorong anak untuk bisa menjadi seseorang yang ia inginkan di masa depan adalah hal yang baik. Tapi, Anda pun harus memperhatikan banyak aspek, terutama kesiapan mental Si Kecil agar ia mampu menjalani pilihan dengan bijak. Bukan dengan memaksanya untuk bisa melakukan semua hal untuk menjadi "sempurna" sesuai ekspektasi Anda.

Push parenting pada dasarnya merupakan bentuk dari pengasuhan yang otoriter karena orang tua hanya mendukung keinginan anak yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Orang tua juga melakukan pengawasan superketat untuk memastikan keinginan mereka yang "dititipkan" ke anak tercapai dengan baik.

Akan tetapi, apabila penerapan push parenting tidak segera disadari, tentu ini akan berdampak pada tumbuh kembang anak seiring ia bertambah usia, di antaranya:

1. Anak mudah merasa takut, panik, hingga putus asa jika hal yang ia lakukan atau kerjakan tidak sesuai dengan yang diharapkan dan bisa mengecewakan orang tua.



2. Tekanan yang dirasakan akan menghambat anak untuk bersosialisasi, karena bisa dianggapnya sebagai "halangan" untuk mencapai tujuan atau target yang ia punya.

3. Memaksakan anak untuk mengikuti beragam kelas les atau komunitas demi meningkatkan kemampuannya dapat membuatnya kelelahan karena kurang istirahat hingga memengaruhi kesehatannya.

4. Rasa tertekan atau stres yang dialami anak secara berlebihan karena tuntutan orang tua bisa menimbulkan sakit fisik yang dipengaruhi kondisi mentalnya, seperti sakit perut, sakit kepala, hingga sulit berbicara dan mengungkapkan perasaan.

5. Pemaksaan yang terus terjadi bisa membuat anak menjadi mudah marah, sulit diatur, hingga membangkang. Di luar itu, anak jadi kurang memiliki kepercayaan diri dan menjadi sosok yang negatif sehingga mengganggu tumbuh kembang emosional hingga otaknya.

Tuntutan pada anak sebenarnya boleh saja diberikan, sebagai motivasi bagi Si Kecil untuk bisa mencapai impian. Namun, pastikan bahwa tuntutan ini merupakan sebuah dukungan saja dan bukan pemaksaan dari Moms untuk Si Kecil. Dengan begitu, anak pun akan mampu membuka diri dan percaya pada orang tuanya sendiri. (Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   parenting,   push parenting,   pola asuh,   anak