Mother&Baby Indonesia
Bayi Membenturkan Kepala, Normal atau Pertanda Masalah?

Bayi Membenturkan Kepala, Normal atau Pertanda Masalah?

Sebagai orang tua, Moms tentunya berusaha menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi bayi Anda. Namun kadang kala, kebiasaan Si Kecil justru yang bisa memicu bahaya bagi dirinya sendiri. Salah satu kebiasaan yang berbahaya adalah membenturkan kepalanya ke kasur, pengaman tempat tidur, atau bahkan tembok. Hmm, mengapa bisa begitu? 

Perlu diketahui, kebiasaan membenturkan kepala bisa terjadi dalam pola yang berbeda bagi setiap bayi. Ada yang hanya membenturkan kepala saat tubuhnya dalam posisi tengkurap, dan bayi membenturkan kepala ke bantal atau kasurnya. Ada juga bayi yang memiliki kebiasaan membenturkan kepalanya ketika duduk. Biasanya ia akan membenturkan kepala ke benda yang ada di dekatnya, seperti pinggiran tempat tidur, tembok, sandaran kursi ketika duduk di high chair atau kursi khusus bayi, dan bahkan tubuh ibunya saat dipangku.

Menurut situs Healthline, kebiasaan membenturkan kepala biasanya dimulai saat bayi menginjak usia 6 hingga 9 bulan. Jika sudah menjadi kebiasaan, Si Kecil akan membenturkan kepala selama sekitar 15 menit, setelah itu berhenti. Di saat yang berbeda, ia akan melakukan hal yang sama lagi.



Yang perlu Moms ketahui, kebiasaan membenturkan kepala biasanya tidak perlu terlalu dikhawatirkan jika hanya terjadi menjelang waktu tidur. Namun Anda tetap perlu berkonsultasi dengan dokter guna memastikan kondisi Si Kecil.

Penyebab Kebiasaan Membenturkan Kepala

1. Sleep-Related Rhytmic Movement Disorder

Gangguan gerakan yang berhubungan dengan tidur bisa berupa kebiasaan mengayunkan badan atau membenturkan kepala. Bagi bayi, kebiasaan ini merupakan cara mereka menenangkan dirinya sendiri. Tak jarang, bayi yang terbiasa digendong dan diayun-ayun menjelang waktu tidur akan berusaha mengayunkan badannya atau membenturkan kepalanya untuk bisa mendapatkan efek menenangkan yang sama.

2. Development Irregularities and Disorder

Dalam sebagian kasus, kebiasaan membenturkan kepala juga menjadi pertanda adanya gangguan perkembangan, seperti autisme, atau mengindikasikan kemungkinan masalah psikologi dan neurologi.



Untuk membedakan gangguan gerakan dan gangguan tumbuh kembang, Moms perlu melakukan observasi tentang waktu dan frekuensi bayi ketika membenturkan kepalanya. Jika kebiasaan membenturkan kepalanya hanya terjadi menjelang waktu tidur, dan Si Kecil terlihat sehat serta tidak menunjukkan adanya masalah perkembangan, maka kondisi tersebut merupakan gangguan gerakan saja. Di sisi lain, jika kebiasaan membenturkan kepala dibarengi dengan kondisi lain, seperti terlambat berbicara, mudah emosi, kesulitan bersosialisasi, maka ada kemungkinan Si Kecil mengalami masalah yang lebih serius. 

Antisipasi Moms

Jika kebiasaan membenturkan kepala disebabkan oleh movement disorder atau gangguan gerakan, maka Moms bisa mengantisipasi terjadinya luka atau cedera dengan langkah berikut ini:

• Mengatur posisi tempat tidur bayi. Jauhkan Si Kecil dari permukaan keras seperti dinding atau pinggiran tempat tidur yang terbuat bahan keras seperti kayu dan besi.

• Moms juga bisa menempatkan pengaman yang terbuat dari bahan lembut di sekeliling tempat tidurnya sehingga kepala bayi tidak mengalami cedera.

Meski tidak berbahaya, tapi tidak ada salahnya Moms secara rutin memeriksakan bayi Anda apabila memiliki kebiasaan membenturkan kepalanya. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   bayi membenturkan kepala