Mother&Baby Indonesia
Moms Wajib Tahu, Ini Bahaya Keringat Dingin pada Bayi

Moms Wajib Tahu, Ini Bahaya Keringat Dingin pada Bayi

Keringat dingin biasanya dianggap sebagai gejala tubuh tidak sdang dalam kondisi baik. Hal ini tidak hanya berlaku bagi orang dewasa, tapi juga anak-anak dan bayi.

Pada bayi, keringat dingin sesungguhnya merupakan fenomena yang cukup normal. Seringkali bayi berkeringat meski badannya terasa dingin karena ia belum mampu mengatur suhu tubuh dengan baik. Biasanya, keringat dingin muncul di bagian tubuh seperti telapak kaki, tangan, dan ketiak.

Keringat dingin bisa terjadi di mana saja. Saat bayi berada di ruangan dengan suhu normal atau di ruangan menggunakan pendingin (AC). Selama bayi tidak rewel atau merasa terganggu, keringat dingin tentunya bukan masalah. Namun, Moms perlu waspada jika keringat dingin pada bayi dibarengi dengan kondisi berikut ini:



1. Syok

Syok merupakan kondisi ketika tekanan darah menurun sangat drastis sehingga fungsi organ tubuh terganggu karena tidak menerima cukup oksigen atau darah. Pada bayi, syok bisa disebabkan oleh dehidrasi atau infeksi berat. Saat bayi terlalu banyak berkeringat, ada kemungkinan ia mengalami dehidrasi. Kondisi ini harus segera ditangani karena berisiko merusak organ tubuh dan mengancam nyawa.

2. Sepsis

Sepsis adalah infeksi bakteri atau virus di dalam darah. Kondisi ini bisa membuat darah menggumpal dan membuat aliran darah di dalam tubuh tidak lancar sehingga organ dan jaringan tubuh mengalami kesulitan mendapatkan darah serta oksigen. Bayi yang mengalami sepsis bisa mengalami keringat dingin dan disertai gejala lain, seperti kejang, demam, lemas, tidak mau menyusu, sesak napas, dan pucat.

3. Hipoglikemia

Gula darah merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Ketika kadar gula darah menurun, tubuh akan kekurangan energi dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Kondisi inilah yang disebut sebagai hipoglikemia. Pada bayi, hipoglikemia bisa disebabkan oleh kelahiran prematur, infeksi berat, berat badan lahir rendah, terlahir dari ibu yang menderita diabetes, kedinginan, dan kelainan kongenital (cacat bawaan lahir), seperti penyakit jantung bawaan.



4. Kekurangan Oksigen

Keringat dingin dapat muncul sebagai respons tubuh ketika otak kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen atau hipoksia pada bayi bisa disebabkan oleh penyakit atau kondisi medis tertentu, misalnya sesak napas, infeksi berat, anemia, dan cedera kepala saat lahir.

5. Penyakit Jantung Bawaan

Kelainan jantung atau cacat jantung bawaan pada bayi dapat membuat aliran darah dalam tubuhnya bermasalah sehingga suplai oksigen ke organ dan jaringan tubuh berkurang. Bayi yang menderita penyakit jantung bawaan bisa mengalami keringat dingin ketika ia sedang diberi makan atau saat menangis. Kelainan jantung bawaan juga bisa membuat kulit bayi tampak pucat dan kebiruan.

6. Kepanasan

Bedong atau selimut yang terlalu mengekang tubuh bayi bisa membuatnya kepanasan. Hal ini juga bisa meningkatkan risiko terjadinya kematian bayi mendadak. Agar bayi tidak terlalu banyak berkeringat, aturlah suhu kamar tidurnya sekitar 20-22 derajat Celsius. Selain itu, pastikan Si Kecil mengenakan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat. Jangan lupa, jaga asupan ASI dan cairan untuk bayi berusia di atas 6 bulan. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   keringat dingin