Mother&Baby Indonesia
Sindrom Putri Tidur, Sindrom Langka yang Diderita Bayi Shaka

Sindrom Putri Tidur, Sindrom Langka yang Diderita Bayi Shaka

Beberapa bulan silam, jagat maya dikejutkan oleh kisah bayi Shaka. Berdasarkan unggahan akun TikTok sang ibu @shaka_17 pada Juli 2020, bayi yang aslinya bernama lengkap Rau Surya Danifs ini diketahui telah ‘tertidur’ selama 1 tahun.  Dan pekan lalu, bayi Shaka dikabarkan meninggal dunia.

Bayi Shaka atau yang kerap dipanggil Danifs oleh keluarganya, diketahui mulai berada dalam kondisi tertidur sejak berusia 8 bulan. Kala itu, ia sempat mengalami panas selama 1 bulan disertai kejang. Diduga, kondisi ini telah memengaruhi saraf Danifs sehingga mengakibatkan bayi asal Desa Tentenan Timur, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, tersebut tak kunjung membuka matanya hingga usianya mencapai 18 bulan.

Menurut sang ibu, Danifs sempat dirawat di ruang ICU selama tiga bulan. Ia bahkan sempat menjalani operasi pembuangan cairan dalam otak di salah satu rumah sakit di Surabaya, berkaitan dengan penyakit hidrosefalus dan meningitis TB yang dideritanya. Namun segala usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Danifs tetap ‘tertidur’. Ia makan, minum, dan buang air dalam kondisi mata terpejam hingga akhirnya meninggal dunia pada pekan lalu.



Dalam dunia medis, kondisi yang dialami Danifs atau bayi Shaka bukan sesuatu yang mustahil. Bayi berwajah tampan ini diduga mengalami penyakit yang disebut Kleine-Levin syndrome (KLS) atau sleeping beauty syndrome alias sindrom putri tidur. Seperti Putri Aurora dalam dongeng Sleeping Beauty, penderita KLS bisa tertidur selama berjam-jam bahkan berhari-hari.

Penyebab KLS

Sindrom putri tidur merupakan salah satu penyakit langka yang bisa dialami siapa saja dari berbagai kelompok usia. Akan tetapi biasanya, KLS menyerang remaja dan sekitar 70 persen penderitanya adalah laki-laki. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab sindrom putri tidur.

Namun ada hipotesis yang menyebutkan bahwa masalah ini kemungkinan besar dipicu oleh gangguan di beberapa bagian otak, tepatnya hipotalamus dan talamus. Sebagai catatan, kedua bagian tersebut berperan dalam mengatur nafsu makan, pola tidur, serta suhu tubuh manusia. Selain itu, faktor keturunan atau genetik, dan penyakit autoimun juga diyakini dapat menjadi penyebab terjadinya sindrom putri tidur. Akan tetapi hal ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut. 

Gejala KLS

Sindrom putri tidur sulit untuk terdiagnosis. Pasalnya, gejala utama sindrom ini mirip dengan beberapa penyakit lain, seperti penyakit saraf dan gangguan kejiwaan. Akan tetapi biasanya penderitanya menunjukkan gejala sebagai berikut:

• Mengalami rasa kantuk yang luar biasa.

• Selalu merasa lelah yang berlebihan.

• Keinginan tidur yang tidak terkendali. Dalam beberapa kasus, penderita KLS bisa tiba-tiba tertidur saat makan atau bahkan sedang berjalan kaki.

• Sulit bangun di pagi hari.

• Disorientasi atau tidak mengenali lingkungan sekitarnya.



• Mengalami halusinasi.

• Mudah marah dan tersinggung.

• Rewel atau berperilaku layaknya anak kecil.

• Nafsu makan berlebihan.

• Mudah lelah.

• Linglung ketika bangun.

Berbagai kondisi tersebut dapat terjadi akibat kurangnya pasokan darah ke bagian otak selama munculnya gejala KLS. Selama periode tidur berlangsung, penderita sindrom sleeping beauty mungkin akan terbangun sesekali untuk ke kamar mandi atau makan, lalu kembali tidur.

Waktu munculnya gejala juga sulit diprediksi. Gejala dapat hilang dan muncul, bahkan hilang selama berbulan-bulan sebelum akhirnya berulang kembali. Setelah satu periode tidur berakhir, penderita KLS biasanya akan mengalami gejala depresi, gangguan mood, serta tidak dapat mengingat hal-hal yang terjadi selama periode ini.

Dalam beberapa kasus, gejala sindrom putri tidur akan hilang seiring dengan bertambahnya usia. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan gejala tersebut kembali lagi. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   sindrom putri tidur,   kleine-levin syndrome