Mother&Baby Indonesia
Ini yang Dirasakan Anak saat Melihat Orang Tua Bertengkar

Ini yang Dirasakan Anak saat Melihat Orang Tua Bertengkar

Setiap pasangan suami-istri tentu pernah bertengkar, entah karena masalah kecil atau sesuatu yang cukup besar dalam keluarga. Pertengkaran sendiri jika diselesaikan dengan baik bisa menjadi hal yang positif, seperti mempererat hubungan Anda dan pasangan.

Namun, bertengkar terlalu sering sehingga masalah kecil jadi membesar tentu bukanlah hal baik. Bahkan jika Si Kecil melihat atau mendengar situasi ini hampir setiap hari, bisa saja hal tersebut mengganggu tumbuh kembang anak, terutama dari sisi psikologinya.

5 Perasaan Anak ketika Orang Tua Bertengkar

Mungkin bayi memang belum mengerti topik yang diributkan oleh orang tuanya. Tapi menurut E. Mark Cumming, psikolog University of Notre Dame, anak akan memiliki perasaan tentang keamanan dirinya di dalam lingkungan hidupnya. Cumming yang telah mempelajari permasalahan ini selama 20 tahun juga menambahkan bahwa beberapa penelitian menunjukkan bayi berusia 6 bulan sudah memahami emosi orang tuanya melalui raut wajah.

Artinya, Si Kecil dapat mengerti situasi saat Anda sedang sedih atau perasaan emosi lainnya. Dari penjelasan ini, maka sebenarnya anak memiliki perasaan tertentu yang muncul ketika melihat atau mendengar orang tuanya bertengkar. Perasaan tersebut di antaranya adalah:

Bingung

Perasaan bingung bisa dikatakan menjadi hal yang paling mendasar saat anak melihat ibu dan ayahnya bertengkar. Kebingungan ini entah karena kata-kata yang tidak jelas, suara teriakan yang tidak berhenti, situasi yang dingin antara Moms dan Dads, hingga tidak tahu kepada siapa Si Kecil akan berlindung. Semua itu bisa muncul di saat bersamaan dan membuatnya semakin takut hingga menangis.

Sedih dan Takut

Selain bingung, anak juga akan merasakan ketakutan ketika melihat orang tuanya saling berargumen dengan nada amarah. Si Kecil pun akan merasa sedih, hingga menangis sesenggukan yang tentu juga berat baginya. Dari sini mulai muncul pikiran bahwa ia tidak merasakan keamanan dan tidak tenang akibat takut dimarahi. Padahal, mungkin Anda dan pasangan tidak serta merta melibatkan anak dalam pertengkaran tersebut.

Menyalahkan Diri Sendiri

Meski pertengkaran tidak membahas soal anak, namun Si Kecil sudah langsung menyalahkan dirinya sendiri. Kondisi tersebut yang faktanya sering tidak disadari oleh orang tua ketika bertengkar di depan anak. Si Kecil merasa bahwa pertengkaran itu disebabkan olehnya dan terus menyalahkan diri hingga bisa terbawa seiring bertambahnya usia.

Ingin Pergi dari Rumah

Rasa bersalah yang muncul dalam benak Si Kecil membuatnya merasa harus pergi dari rumah. Terutama pada anak yang lebih besar, mereka akan berniat untuk kabur dan menghindar dari pertengkaran yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Maka, sering terjadi anak lebih betah berada di rumah teman atau saudaranya daripada di rumahnya sendiri dalam waktu lama.

Minder Melihat Keharmonisan Keluarga Lain

Kemampuan anak untuk mengamati dan memperhatikan lingkungannya membuat ia mulai bisa membandingkan suatu kondisi. Terutama saat orang tuanya sering bertengkar, Si Kecil jadi minder dan kecil hati ketika melihat ada keluarga lain yang tampak bahagia dari keluarganya sendiri. Hal ini tak hanya membuatnya jadi sedih dan murung, tapi juga akan memengaruhi kepercayaan dirinya untuk bergaul dengan orang lain karena rasa takut dan malu.

Untuk menghindari kelima hal tersebut, Moms dan Dads tentu harus berhenti bertengkar, terutama di depan anak-anak. Kalaupun pertengkaran terjadi, Anda perlu meminta maaf dan menjelaskan situasi yang terjadi pada anak dengan sederhana. Setidaknya, Si Kecil tahu bahwa orang tuanya tidak saling membenci dan bisa tetap merasakan keamanan di dalam keluarga. (Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   pernikahan,   orang tua,   anak,   pertengkaran rumah tangga