Mother&Baby Indonesia
Bikin Masalah, Ini Ekspektasi Tak Realistis dalam Pernikahan

Bikin Masalah, Ini Ekspektasi Tak Realistis dalam Pernikahan

Moms, apa sih, yang Anda harapkan saat memutuskan untuk menikah? Ketenangan batin? Pasangan yang setia? Atau mungkin kondisi keuangan yang stabil? Tak salah kok Moms, untuk memiliki ekspektasi saat menikah. Namun, yang jadi masalah adalah apabila ekspektasi Anda (maupun pasangan) terlalu tinggi dan bahkan tidak realistis.

Ya, ekspektasi dalam pernikahan yang tidak realistis ini bisa lho, berdampak buruk dalam rumah tangga Anda, karena selain akan sering kecewa, Moms pun jadi sering membanding-bandingkan Dads dengan orang lain. Jika hal ini terus berlanjut, bukan tak mungkin akan terjadi kesalahpahaman, bahkan perceraian. Lantas. seperti apa saja sih, ekspektasi dalam pernikahan yang tidak realistis itu? Yuk, simak di bawah ini, Moms!

1. Berharap Pasangan Bisa Berubah seperti yang Kita Inginkan

Maksudnya sih, tentu ingin pasangan kita menjadi lebih baik ya, Moms. Namun, pada praktiknya, maksud baik kita tak jarang terkesan seperti ‘memaksa’. Ya, kita memang tak bisa memaksa orang lain untuk berubah, sekalipun itu pasangan kita. Jika memang seseorang harus berubah, tentu perubahan yang terbaik itu harus datang dari dirinya sendiri.

2. Selalu Bersama 24/7

Tentunya hal ini tak menjadi masalah ya, jika Moms dan Dads memang tidak suka bergaul dan lebih suka untuk menghabiskan waktu bersama, selama 24 jam penuh. Namun, tentunya manusia butuh untuk bersosialisasi, juga untuk memiliki me-time.

Menghabiskan waktu berdua bersama pasangan itu bagus dan perlu, namun Moms dan Dads juga harus bisa memiliki keinginan untuk punya teman dan kehidupan sendiri di luar hubungan pernikahan dan satu sama lain sama-sama mendukung untuk melakukannya.

Bahkan nih Moms, dr. Chloe Carmichael, PhD, seorang terapis hubungan di New York dan penulis Dr Chloe’s 10 Commandments of Dating, mengatakan bahwa suatu hubungan akan cenderung berhasil jika kedua belah pihak bisa mempertahankan tingkat kemandirian dan kehidupan pribadi masing-masing. Jika suatu pasangan sukses menerapkannya, ini akan menciptakan jarak yang sehat sehingga menimbulkan keinginan untuk selalu berdekatan.

3. Tak Akan Bosan dengan Pasangan

Dalam suatu hubungan, wajar jika kita menemukan rasa bosan. Tak terkecuali dalam rumah tangga ya, Moms. Fase bosan dan jenuh tentu selalu ada dalam kehidupan pernikahan. Nah, saat Anda mengalaminya, anggaplah ini sebagai tanda untuk memperbaiki hubungan tersebut. Sekadar kencan atau melakukan hal favorit Anda berdua yang sudah lama tak dilakukan tentu bisa kembali menyalakan api asmara.

4. Berharap Pasangan Tidak Memiliki Teman Lawan Jenis

Meskipun Moms dan Dads saling percaya satu sama lain, bisa saja ada perasaan kurang nyaman yang terbesit saat pasangannya punya teman dekat lawan jenis. Ini merupakan sifat alami manusia dan hal tersebut wajar, kok.

Tapi, jika sampai melarang pasangan Anda untuk tidak berteman dengan lawan jenis, ini tentunya tidak adil ya, Moms. Apalagi, jika Dads sudah membuktikan bahwa Moms tak punya alasan kuat untuk cemburu. Pasangan yang saling mencintai dan menghargai tentunya akan menghormati satu sama lain, termasuk saat pasangannya memiliki teman lawan jenis. Tenang Moms, sekalipun ada kesempatan dalam banyak waktu, jika Dads benar-benar mencintai dan menghargai Moms, tentu perselingkuhan tak akan terjadi.

5. Berharap Pasangan Bertanggung Jawab atas Kebahagiaan Kita

Wah Moms, sebaiknya jauhkan diri Anda atas harapan yang seperti ini, karena bisa jadi Anda akan lebih mudah kecewa. Ingat, bahagia itu merupakan pilihan diri sendiri, bukan karena orang lain. Oleh karena itu, sama seperti halnya bahwa kebahagiaan kita bukanlah tanggung jawab pasangan, kita pun tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan pasangan. Tapi ini bukan berarti kita jadi cuek dan tak peduli dengan pasangan ya, Moms.

6. Kalau Bertengkar, Kamu yang Minta Maaf Duluan!

Nah, ekspektasi yang satu ini merupakan masalah besar, lho. Pasalnya, jika kebiasaan seperti ini sudah terbentuk seiring berjalannya waktu, lama-kelamaan ini akan menjadi pola dalam suatu hubungan. Ya Moms, kadang dalam pernikahan, ada satu pihak yang terbiasa dengan pihak lain yang selalu mengalah jika terjadi konflik.

Jika ini terus terjadi, muncul rasa egois dan tak peduli apa pun akar permasalahannya, harus selalu pihak yang biasa ‘ditunjuk’ tersebutlah yang datang merajuk dan minta maaf. Padahal, pada kenyataannya, tidak ada lho, jaminan bahwa pasangan yang selalu mengalah tersebut akan selalu ada di sisi Anda selamanya.

7. Berharap Pasangan Selalu Tampil Sempurna

Mungkin dulu Dads jatuh cinta dengan rambut panjang Moms yang hitam, panjang, dan berkilau. Atau Moms selalu membanggakan Dads dengan dada bidang dan perut six packs-nya. Tak ada yang salah kok, untuk jatuh cinta pada fisik pasangan Anda. Namun, jika minat Moms dan Dads hanya berfokus pada penampilan, siap-siap untuk kecewa suatu saat, sebab tentu saja penampilan akan memudar seiring berjalannnya waktu.

8. Berharap Pasangan Selalu Tahu Isi Pikiran Kita

Pasangan yang saling mengerti satu sama lain sehingga bisa memahami dan mengantisipasi kebutuhan satu sama lain adalah salah satu tanda hubungan yang erat dan ideal. Tapi, ketika salah satu (biasanya Moms, nih..) berharap pasangannya harus selalu tahu isi pikirannya, ini bisa jadi tanda yang tak baik, lho.

Ya, memiliki ekspektasi bahwa pasangan dapat membaca pikiran kita lalu mewujudkannya bisa menyebabkan miskomunikasi dan kebingungan. Karena itu, biarpun sudah lama menikah, jangan berasumsi kalau pasangan mengerti isi pikiran kita.

Kunci untuk hubungan yang sehat dan bahagia adalah komunikasi yang baik. Jadi, jangan ragu untuk mengekspresikan diri dengan jelas dan membiarkan pasangan Anda untuk tahu apa yang Anda pikirkan dan rasakan, ya. (Nanda Djohan/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   pernikahan,   suami istri,   rumah tangga