Mother&Baby Indonesia
Mengenali Tanda-tanda Autisme pada Balita Sejak Dini

Mengenali Tanda-tanda Autisme pada Balita Sejak Dini

Autisme atau autism spectrum disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan otak pada anak yang membatasi kemampuan komunikasi dan sosialisasinya. Hingga kini, penyebab autisme tidak diketahui secara pasti.

Gejala atau ciri-ciri anak yang mengalami autisme sebenarnya sudah bisa terlihat saat ia masih bayi, misalnya jarang melakukan kontak mata serta kurang responsif atau tidak tanggap sama sekali ketika namanya dipanggil. Namun, secara umum, gejala autisme biasanya terlihat jelas saat anak menginjak usia 2-4 tahun.

Gejala Autisme pada Anak

Gejala autisme sangat beragam dan setiap anak yang menderita kondisi ini dapat menunjukkan gejala yang berbeda. Namun, secara umum, ciri-ciri autisme pada anak antara lain adalah sebagai berikut:



1. Sulit berkomunikasi

Ini merupakan ciri-ciri yang paling mudah dikenali pada anak yang menderita autisme. Masalah komunikasi yang kerap dialami anak penderita autisme antara lain adalah sulit bicara, menulis, dan membaca. Ia juga kurang bisa mengerti kata-kata yang sering digunakan orang secara umum. Tak jarang ia mengucapkan satu kata secara berulang atau yang beberapa waktu lalu didengarnya, mengucapkan sesuatu dengan nada tertentu seperti sedang bersenandung, atau sering tantrum.

Selain itu, ia juga mengalami kesulitan berkomunikasi secara non-verbal. Salah satu contohnya penggunaan bahasa tubuh seperti menunjuk dan melambai serta tidak melakukan kontak mata saat berbicara.

2. Sulit bersosialisasi

Anak dengan autisme sering kali terlihat asyik dengan dunianya sendiri, sehingga sulit terhubung dengan orang-orang di sekitarnya. Anak dengan autisme juga kadang terlihat kurang responsif atau sensitif terhadap perasaannya sendiri atau pun orang lain. Karena itu, anak autis biasanya tidak mudah berteman, bermain dan berbagi mainan dengan teman, atau fokus terhadap suatu objek atau mata pelajaran di sekolah.

3. Melakukan aktivitas secara berulang

Anak penderita autisme biasanya akan melakukan kegiatan secara berulang dalam frekuensi yang sering, contohnya mengayunkan tangan, memutarkan badan, dan membenturkan kepala secara berulang-ulang ke dinding yang bisa membahayakannya.



4. Emosi tidak stabil

Anak autis tidak dapat mengendalikan emosinya. Ini yang membuatnya akan meluapkan segala emosinya dan biasanya terjadi pada waktu yang tidak terduga dan dalam situasi apa pun. Ia bisa tiba-tiba marah, menjerit, tertawa, maupun menangis tanpa alasan yang jelas.

5. Hanya menyukai objek tertentu

Biasanya anak yang mengalami gangguan autisme punya kemampuan luar biasa atau bakat pada satu bidang tertentu, misalnya menggambar. Hal ini disebabkan karena anak hanya fokus terhadap satu bidang akibat kesulitan beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Bagaimana Cara Memastikan Anak Menderita Autisme?

Melansir laman Alodokter, jika Si Kecil dicurigai menderita autisme, maka orang tua perlu segera memeriksakannya ke dokter. Dalam mendiagnosis autisme pada anak, dokter akan mengevaluasi tumbuh kembang anak, seperti menilai kemampuan berbicara, berperilaku, belajar, hingga pergerakan anak. Dokter juga mungkin akan menyarankan pemeriksaan lain berupa tes pendengaran, tes genetik, dan konsultasi psikologi anak.

Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan autisme. Namun, ada beberapa metode terapi yang dapat dilakukan untuk membantu anak meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan belajar.

Dokter akan menentukan terapi yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan anak secara menyeluruh. Tujuan terapi ini adalah untuk membantu anak agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, serta mampu hidup mandiri ketika ia dewasa nanti. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   autisme