Mother&Baby Indonesia
Alasan Mengapa Ibu Hamil Tak Bisa Melahirkan Normal

Alasan Mengapa Ibu Hamil Tak Bisa Melahirkan Normal

Teman Moms baru saja melahirkan. Tapi kenapa harus melalui operasi caesar? Malas mengejan atau takut? Daripada Moms menduga-duga, yuk ketahui alasan mengapa ada ibu hamil yang tidak bisa melalui proses persalinan normal. Dan hal ini semua berhubungan dengan kondisi medis serta bertujuan untuk keselamatan bayi serta ibunya, lho.

Pada umumnya, ibu hamil disarankan untuk melahirkan secara caesar karena beberapa hal, antara lain posisi plasenta di bawah dan menutupi jalan lahir, air ketuban di dalam kandungan sudah habis, berat badan bayi terlalu besar jika dibandingkan tubuh ibu, posisi bayi melintang atau sungsang, atau ibu mengalami kejang.




Kondisi Kehamilan yang Harus Operasi Caesar

Bukan hanya itu, seperti dilansir dari situs American Pregnancy, kondisi berikut ini juga membuat ibu hamil tidak dianjurkan untuk melalui proses persalinan normal, Moms.

1. Ruptur Uteri

Ruptur uteri atau rahim robek selama persalinan dapat menyebabkan pendarahan pada ibu dan bisa mengganggu pasokan oksigen bayi. Kondisi ini memang tergolong langka, yaitu hanya 1 dari 1.500 proses kelahiran.

2. Placental Abruption

Placental abruption atau abruptio plasenta adalah lepasnya plasenta sebelum waktunya. Hal ini jarang terjadi, tapi merupakan komplikasi yang serius pada kehamilan. Plasenta adalah bagian tubuh yang bertugas memberikan nutrisi pada bayi selama kehamilan.

Abruptio plasenta terjadi sebelum kelahiran. Jadi, plasenta lepas sebelum proses persalinan terjadi. Abruptio plasenta dapat dibagi menjadi 3 stadium, dari ringan hingga berat.

Plasenta yang sudah terlepas dari dinding rahim tidak dapat menempel kembali. Hal ini mengakibatkan berkurangnya jumlah oksigen dan nutrisi pada bayi serta menyebabkan pendarahan hebat pada ibu. Komplikasi yang serius ini menyebabkan petugas medis harus segera melakukan operasi caesar. Abruptio plasenta adalah kondisi yang terjadi secara mendadak dan membutuhkan penanganan medis dengan segera.

3. Posisi Sungsang dan Prolaps Tali Pusat

Meskipun persalinan normal dapat dilakukan dalam keadaan tertentu, bayi sungsang yang mengalami prolaps tali pusat memerlukan tindakan caesar. Perlu diketahui, prolaps tali pusat adalah kondisi saat tali pusat bayi keluar lebih dulu sebelum bayi keluar. Biasanya, tali pusat menyusup melalui serviks dan menjulur dari vagina. Ketika rahim berkontraksi, akan muncul tekanan pada tali pusat yang bisa mengurangi aliran darah ke bayi.

4. Janin Kritis

Penyebab paling umum janin kritis adalah kurangnya jumlah oksigen yang cukup untuknya. Jika pemantauan janin mendeteksi adanya masalah dengan jumlah oksigen yang diterima bayi, caesar darurat dapat dilakukan.

5. Kegagalan dalam Proses Persalinan

Hal ini terjadi ketika serviks belum membesar sepenuhnya, persalinan melambat, atau berhenti. Bisa juga bayi tidak dalam posisi keluar yang optimal.




Penyakit Kronis yang Mengharuskan Operasi Caesar

Selain kondisi di atas, ibu yang mengalami penyakit kronis juga disarankan untuk melakukan persalinan secara caesar. Penyakit yang dimaksud antara lain:

1. Hipertensi

Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi saat hamil digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu hipertensi kronik, hipertensi kronik dengan pre-eklampsia, hipertensi gestasional, pre-eklampsia, dan eklampsia. Ibu hamil dikategorikan mengalami hipertensi jika tekanan darahnya mencapai 140/90 mmHg atau lebih.

Melahirkan secara normal mungkin saja terjadi pada penderita hipertensi, tapi diperlukan pemeriksaan secara menyeluruh oleh dokter. Namun ada beberapa risiko pada ibu hamil dengan hipertensi, yaitu kelahiran prematur.

Hal ini terjadi saat usia janin belum cukup dilahirkan tapi tekanan darah ibu terus meningkat. Jika dibiarkan, kondisi ini berbahaya bagi janin dan ibu, sehingga harus segera dilahirkan. Kelahiran prematur sering dilakukan secara induksi dengan bantuan forceo atau operasi caesar. Proses mengejan saat melahirkan normal juga bisa meningkatkan tekanan darah sehingga berpotensi mengalami komplikasi.

2. Diabetes

Ibu hamil yang menderita diabetes bisa melahirkan normal apabila berat bayi kurang dari 4.000 gram dan gula darahnya terjaga di angka 79 mg/dl (kadar gula darah puasa), 122 mg/dl (kadar gula darah 1 jam setelah makan), dan 110 mg/dl (kadar gula 2 jam setelah makan).

Jika melebihi angka tersebut, dokter akan menyarankan melahirkan melalui induksi atau operasi caesar. Sebab kadar gula yang tinggi pada ibu hamil berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan pada janin yang seringkali menyebabkan janin harus dilahirkan sebelum waktunya (prematur).

3. Mata Minus dengan Kondisi Retina Lemah

Ibu hamil dengan mata minus secara medis bisa melahirkan normal, dengan catatan minusnya tidak lebih dari 6 dioptri. Tapi Moms juga perlu tahu, ibu dengan kondisi retina yang lemah meski minus rendah tetap disarankan untuk melahirkan melalui operasi caesar. Sebab saat melahirkan normal, tekanan yang kuat saat mengejan berisiko tinggi merusak retina dengan kondisi lemah.

4. Ambeien

Ambeien saat hamil seringkali meningkatkan kekhawatiran untuk melahirkan secara normal. Secara medis, ibu hamil bisa melahirkan melalui persalinan normal karena tidak berdampak buruk pada janin maupun kesehatan ibu. Akan tetapi ambeien saat hamil dikhawatirkan menjadi parah saat ibu mengejan karena tekanan sehingga menimbulkan rasa tak nyaman. 

5. Asma

Memiliki penyakit asma saat hamil, berpotensi menyebabkan persalinan normal yang sulit. Sebab, persalinan normal membutuhkan banyak tenaga dan pernapasan lancar dalam proses mengejan. Sementara itu, asma adalah penyakit kambuhan yang bisa terjadi kapan saja.

Dikhawatirkan, asma muncul ketika proses melahirkan normal berlangsung. Namun apabila Moms menderita penyakit asma ringan, Anda tetap bisa melahirkan secara normal setelah melalui pemeriksaan dokter. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: ibu melahirkan,   persalinan,   melahirkan normal,   caesar,   diabetes,   asma,   hipertensi,   ruptur uteri










Cover Mei-Juni-Juli 2020