Mother&Baby Indonesia
Waspada! Setelah Cacar Air, Anak bisa Terkena Cacar Api

Waspada! Setelah Cacar Air, Anak bisa Terkena Cacar Api

Cacar air merupakan salah satu penyakit yang umum diderita masyarakat Indonesia. Banyak orang yang beranggapan jika kita pernah mengalami cacar air, maka kita tidak akan terkena lagi karena antibodi di tubuh telah terbentuk untuk melawan virus cacar air.

Namun, meskipun sudah pernah kena cacar air, kita tetap perlu berhati-hati Moms, karena ada kemungkinan bisa terserang penyakit itu lagi dalam bentuk lainnya, yaitu cacar api. Apa itu cacar api?




Mengenal Cacar Api

Cacar api dalam dunia medis dikenal dengan istilah herpes zoster. Ini adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infeksi Varicella zoster, virus yang juga menyebabkan cacar air. Cacar api juga dikenal dengan istilah shingles dan cacar ular.

Penyakit ini bisa dibilang merupakan dampak lanjutan akibat serangan virus yang sebelumnya menyebabkan cacar air, yaitu Varicella Zoster. Virus ini sebenarnya tidak mati, melainkan dalam keadaan tidak aktif di dalam tubuh. Ia akan kembali menyerang saat tubuh berada dalam kondisi lemah.


Gejala Cacar Api pada Anak

Cacar api umumnya muncul berupa ruam yang melepuh dan teriritasi pada kulit di salah satu bagian tubuh, misalnya di bagian dada, punggung, termasuk di wajah. Ini karena Varicella zoster hanya menyerang bagian saraf tertentu, sehingga kulit di area tersebut yang akan memunculkan ruam.

Umumnya, anak yang mengalami cacar api akan merasakan gejala seperti kesemutan, gatal dan kadang-kadang rasa sakit di daerah ruam akan muncul. Ketika ruam akhirnya muncul, keluarlah kumpulan bintik-bintik merah bergerombol di permukaan kulit salah satu bagian tubuh. Ruam ini juga menimbulkan rasa gatal, bahkan nyeri dan sensasi terbakar. Lepuhan atau lentingan juga berisi cairan atau nanah yang mudah pecah.

Beberapa anak yang mengalami cacar api mungkin akan mengalami demam, sakit kepala, dan merasa kelelahan.




Penanganan Cacar Api

Sebagian besar penderita cacar api akan sembuh sendiri. Walaupun begitu, ada juga sejumlah kasus yang menimbulkan komplikasi serius, seperti infeksi kulit, ruam dan nyeri sampai melibatkan mata sehingga butuh penanganan khusus untuk mencegah kerusakan permenan pada mata yang bisa berakibat kebutaan, kehilangan pendengaran atau timbul rasa sakit di satu atau kedua telinga, dan masalah pada saraf, tergantung pada lokasinya cacar ular berada.

Untuk mengobati cacar api, obat antivirus paling sering direkomendasikan guna mengurangi rasa sakit dan membantu mempercepat pemulihan. Di samping itu, penderita juga mungkin akan diberikan antiinflamasi untuk meringankan rasa sakit dan pembengkakan pada kulit, analgesik untuk mengurangi rasa sakit pada lepuhan atau lentingan di kulit, dan antihistamin untuk mengobati gatal-gatal pada kulit.

Selain itu, untuk mempercepat pemulihan, Moms bisa melakukan beberapa hal berikut pada Si Kecil:

• Memastikan ruam selalu dalam kondisi bersih dan kering untuk mencegah infeksi.

• Memakai pakaian yang longgar dari bahan yang nyaman untuk menghindari gesekan pada kulit.

• Menggunakan kompres dingin di bagian kulit yang terkena ruam untuk mengurangi rasa gatal dan nyeri.

• Istirahat yang cukup untuk mempercepat proses pemulihan. (M&B/SW/Dok. mcgill.ca)



Tags: anak,   balita,   cacar air,   cacar api,   cacar ular,   penyakit anak,   penyakit kulit








Related Article