Mother&Baby Indonesia
Pentingnya Melatih Kecerdasan Emosi Anak

Pentingnya Melatih Kecerdasan Emosi Anak

Saat ini, kemungkinan besar Moms dan Dads sedang membesarkan anak yang masuk dalam generasi Alpha. Generasi Alpha merupakan anak-anak yang lahir pada tahun 2010-2025. Anak pada generasi Alpha hidup dalam kemajuan teknologi sehingga banyak kesempatan terbuka untuk mereka dan tantangan yang akan mereka hadapi.

Psikolog Anak, Alia Mufida, M.Psi., Psikolog, mengatakan biasanya bila kesempatan yang Si Kecil dapat semakin besar, maka biasanya akan disertai pula dengan tantangan dan risiko yang besar.





Tuntutan Perkembangan Zaman Kini

“Seiring perkembangan zaman, terkadang kita dituntut untuk melakukan segala hal lebih cepat. Secara tidak sengaja, karena tuntutan lingkungan, situasi, orang tua akhirnya menuntut Si Kecil untuk menjadi lebih cepat dari seharusnya. Tapi, kadang-kadang hal itu tidak sesuai dengan perkembangan mereka. Ini salah satu potensi risiko yang besar,” ujarnya saat ditemui di kawasan Bintaro beberapa waktu lalu.

Bila tuntutan untuk melakukan hal dengan cepat tidak dikelola dengan baik, biasanya anak akan terbiasa dengan suatu hal yang instan. “Misalnya anak jadi ingin cepat selesai, ingin cepat dapat hasilnya, sehingga kurang menghargai proses hal yang mereka lakukan,” lanjutnya.

Sementara itu, sifat individualis pada anak bisa tumbuh karena mereka menikmati kemajuan teknologi yang ada saat ini. “Mungkin di dunia maya mereka gampang bersosialisasi, namun di dunia nyata jangan-jangan mereka tidak segitu sosialnya,” ucap Psikolog Fida.


Kebutuhan Gadget pada Anak Generasi Alpha

Keberadaan gadget atau gawai yang sudah menjadi kebutuhan anak generasi Alpha memang tak dapat dihindari. Maka sebagai orang tua, daripada memilih untuk menjadi pribadi yang anti gadget, keberadaan gadget ini justru harus diterima.

“Bila kita semakin anti dengan gadget, maka semakin kita tidak ingin mempelajarinya lebih dalam. Harusnya kita embrace it. Kita harus pahami betul agar bisa mengikuti perkembangannya, supaya orang tua juga tidak ketinggalan dengan anaknya,” kata Fida.

Selain itu, kemudahan mendapatkan informasi di era teknologi ini memberi kesempatan untuk Si Kecil melihat atau terpapar dengan hal-hal yang mungkin membutuhkan analisa lebih dalam sejak dini bisa berbahaya untuk anak.

“Karena mereka belum punya kapasitas kognitif, atau kapasitas sosial emosional yang cukup untuk menganalisis hal-hal tersebut lebih dalam, dikhawatirkan anak bisa menerima informasi tersebut secara 'bulat-bulat' dan tidak bisa membedakan yang benar dan salah, mana yang bisa ditiru atau tidak ditiru,” jelasnya.

Untuk membentengi anak supaya mereka bisa memutuskan apa yang bisa ditiru dan tidak, orangtua harus memastikan bahwa anak tumbuh dengan karakter yang kuat. Karakter yang kuat ini bisa dilihat ketika anak memiliki kecerdasan emosi.


Kiat Agar Si Kecil Memiliki Kecerdasan Emosi

Ketika anak cerdas emosinya, berarti ia bisa meregulasi emosinya. Regulasi emosi ini adalah di saat kita sudah bisa mengenali apa yang kita rasakan, pahami, kemudian kita bisa kontrol, dan ekspresikan dengan cara yang tepat. Menurut Fida, regulasi emosi ini merupakan sebuah skill yang harus dilatih. Maka sebagai orang tua, kita harus bisa mengembangkan regulasi emosi itu bersama Si Kecil.

Nah, untuk menumbuhkan regulasi emosi pada anak, Fida menyarankan beberapa hal berikut, di antaranya:



• Orang tua harus aware dengan segala hal positif dan negatif yang akan dihadapi oleh generasi anak-anak kita.

• Orang tua harus menjadi role model yang tepat buat anak.

• Gaya parenting yang dipakai orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan sosial emosional. Pastikan apakah orang tua cukup merespons kebutuhan anak, apakah orang tua punya komunikasi efektif dengan anak, apakah orang tua menghargai proses belajar anak bukan hanya pada hasilnya saja, apakah orang tua melatih anak untuk meregulasi emosi anak, dan lain-lain.

• Ciptakan iklim keluarga yang positif. Saat hubungan Moms dan Dads baik dengan masing-masing orang tua berlangsung dengan positif, diharapkan hubungan Anda dan anak juga akan berlangsung positif.

Satu hal penting lain dari regulasi emosi adalah membangun sisi kindness atau kebaikan pada anak. Bila kita membahas bullying, kemampuan anak bersosialisasi dengan baik, dan interaksi dengan orang lain saat mereka dewasa, Kindness menjadi poin yang paling penting,” terang Fida.

Sisi kindness ini ternyata bukan suatu hal yang muncul begitu saja. Kindness itu bisa ditingkatkan melalui latihan, melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan bersama Si Kecil. Alangkah baiknya lagi bila orang tua memiliki aktivitas sehari-hari untuk meningkatkan sisi kindness pada anak.


Melatih Kecerdasan Emosi lewat Mainan

Orang tua seringkali kebingungan mengenai hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk membantu anak menjadi lebih cerdas secara sosial-emosional. Untuk itu, hadir sebuah permainan yang dapat membantu orang tua dalam mengasah kemampuan sosial-emosional anak bernama Karnaval Seru.


Permainan Karnaval Seru ini berbentuk papan permainan (board game) yang dapat dimainkan oleh 2-4 pemain berusia 5-9 tahun dengan didampingi oleh orang tua atau orang dewasa lainnya yang dapat membimbing jalannya permainan.

Pemain akan bergerak dari titik "Mulai”, menggunakan dadu. Pada setiap langkah, pemain akan diminta untuk membaca tantangan yang ada di kartu (tantangan harus dijawab atau dilakukan). Tantangan-tantangan tersebut tentunya berkaitan dengan kegiatan mengasah kemampuan sosial emosional.

Melalui permainan ini, tidak hanya anak yang terbantu untuk mengasah kemampuan sosial-emosionalnya, namun orang tua juga dapat terbantu dalam mengenal karakter anaknya, sehingga dapat merespons kebutuhan emosi anak dengan lebih cepat.

Permainan hasil kolaborasi klinik Psikologi dan Pusat Terapi Mentari Anakku dan The Menthilis Project ini dijual seharga Rp190.000. Permainan Karnaval Seru ini bisa didapatkan langsung lewat akun Instagram @mentarianakku dan @menthilis. (Vonda Nabilla/SW/Dok. Freepik, M&B)



Tags: anak,   balita,   emosi anak,   kecerdasan emosi,   kecerdasan sosial