Mother&Baby Indonesia
Yuk, Deteksi Dini Kelainan Pendengaran pada Bayi Anda!

Yuk, Deteksi Dini Kelainan Pendengaran pada Bayi Anda!

Setiap anak dilahirkan istimewa, termasuk mereka yang terlahir dengan kelainan tertentu seperti tidak bisa mendengar atau tuna rungu. Memperingati Hari Tuna Rungu Internasional yang jatuh pada 29 September 2019, yuk Moms kenali tanda-tanda anak mengalami masalah pada pendengaran.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada lebih dari 5 persen penduduk dunia atau sekitar 466 juta orang mengalami gangguan pendengaran. Sebanyak 34 juta di antaranya adalah anak-anak. Berdasarkan data 2018, Indonesia berada di urutan keempat angka ketulian di Asia setelah Sri Lanka, Myanmar, dan India.




Penyebab Gangguan Pendengaran pada Bayi

Tahukah Moms? Gangguan pendengaran atau tuli bisa dialami anak sejak lahir atau setelah ia dewasa. Gangguan pendengaran sejak lahir biasa disebut tuli kongenital atau gangguan pendengaran berat yang terjadi karena faktor bawaan lahir dan infeksi. Tuli kongenital bisa disebabkan karena kelainan genetik atau hal-hal berikut ini:

1. Infeksi pada ibu hamil, misalnya infeksi virus atau bakteri.

2. Penggunaan obat-obatan yang ototoksik oleh ibu ketika tengah mengandung.

3. Trauma lahir.

4. Riwayat trauma kepala pada anak.

5. Memiliki riwayat penyakit kuning atau jaudince.

6. Riwayat infeksi pada otak atau tulang belakang.

7. Riwayat infeksi telinga.


Gejala sejak Bayi

Masalah pendengaran kongenital akan bisa diatasi jika dideteksi sejak dini. Moms bisa melihat gejalanya dari kebiasaan Si Kecil sehari-hari. Jika bayi Anda menunjukkan gejala-gejala berikut, maka hampir bisa dipastikan ia memiliki masalah pada pendengarannya.

• Bayi tidak terkejut ketika mendengar suara yang keras. Apabila ia tak bereaksi, ada kemungkinan anak Anda mengalami masalah pada pendengarannya.

• Tidak menoleh untuk merespons ke arah sumber suara. Moms perlu tahu, kondisi ini bisa dilihat pada bayi berusia lebih dari enam bulan.

• Bayi tidak mengucapkan kata apa pun, seperti "Mama" atau "Dada" saat sudah memasuki usia 1 tahun.



• Tidak menoleh ketika dipanggil namanya, tapi mengalihkan pandangannya ketika bayi melihat Anda.


Masalah Pendengaran pada Anak-Anak

Sementara itu, masalah pendengaran pada anak-anak bisa dilihat dari gejala-gejala berikut ini:

• Terlambat mulai berbicara atau perkembangan bicaranya tidak sesuai dengan usianya.

• Pelafalan bicara tidak jelas.

• Tidak bisa mengikuti instruksi.

• Berbicara dengan suara yang lebih keras daripada anak pada umumnya.

• Seringkali bertanya saat diajak berbicara atau mengatakan kata "Apa?" atau "Hah?".

• Seringkali menyalakan televisi dengan volume suara yang tinggi.

• Si Kecil sering mengatakan bahwa dirinya tidak mendengar suara Anda.

• Cenderung menggunakan salah satu telinga ketika mendengar atau mengeluh bahwa ia hanya bisa mendengar di salah satu telinga.

Bayi atau balita dengan gangguan pendengaran perlu menjalani terapi. Jika tidak, Si Kecil akan mengalami gangguan perkembangan bahasa dan berbicara atau kemampuan kognitif (berpikir, mengetahui, dan memutuskan) yang ia butuhkan untuk belajar. Anak yang mengalami gangguan pendengaran dari lahir hingga usia 2 atau 3 tahun, memiliki risiko tinggi mengalami gangguan permanen terhadap kemampuan bicara, bahasa, dan belajar.

Dengan mengidentifikasi gangguan pendengaran anak sedini mungkin, terapi pun dapat dimulai sesegera mungkin sehingga gangguan perkembangan lebih lanjut pada anak dapat dicegah seminimal mungkin. Dengan menggunakan alat bantu dengar, diharapkan anak dengan gangguan pendengaran dapat berkembang selayaknya anak normal pada umumnya.

Jika Moms menemukan ciri atau gejala gangguan pendengaran pada anak, jangan ragu untuk segera memeriksakannya ke dokter. Semakin lama Si Kecil mengalami gangguan pendengaran, maka perkembangannya akan semakin terganggu. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   gangguan pendengaran,   tuna rungu