Mother&Baby Indonesia
Yuk, Dukung Ibu untuk bisa Menyusui dengan Optimal

Yuk, Dukung Ibu untuk bisa Menyusui dengan Optimal

Semua ibu pasti ingin sukses memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya. Namun tahukah Moms? Kesuksesan mengASIhi bukan hanya tergantung pada sang ibu, melainkan juga membutuhkan dukungan dari banyak pihak.

Menyusui, bukan sekadar memberi ASI. Banyak manfaat yang bisa didapat dari menyusui, mulai dari segi psikologis hingga kesehatan. Bagi bayi, menyusu bukan sekadar untuk menghilangkan rasa lapar dan haus. Saat mendapatkan ASI langsung dari payudara ibu, Si Kecil akan merasa bahagia, nyaman, dan selalu dicintai. Last but not least, ASI memiliki rasa yang enak, hangat, dengan kualitas gizi yang terjamin. 

Semua orang tahu, ASI memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan susu sapi atau susu formula. ASI mengandung lebih banyak lemak yang bisa menjadi sumber kalori bagi bayi. Air susu ibu juga memiliki protein yang tidak bisa terpecah atau terdegradasi seperti pada susu formula.



Secara khusus, ASI didesain agar mudah diserap oleh saluran cerna bayi yang belum sempurna. Ironisnya, tak semua orang menunjukkan dukungan bagi para ibu untuk memberikan ASI eksklusif bagi bayi mereka.

Faktanya, masih banyak instansi atau perusahaan yang 'mempersulit' usaha para Moms untuk mengASIhi buah hatinya. Saat ini, tidak semua perusahaan menyediakan tempat menyusui atau memerah ASI bagi karyawan wanitanya. Tak sedikit dari para Moms pekerja yang harus memerah di kamar mandi.

Belum lagi peraturan tentang cuti melahirkan yang belum sama di semua perusahaan. Masih ada perusahaan yang enggan membayar karyawannya saat cuti melahirkan. Ada pula yang mewajibkan karyawan wanita untuk membagi dua jatah cuti melahirkannya menjadi 1,5 bulan sebelum persalinan dan 1,5 bulan sesudahnya. Alhasil, kesempatan sang ibu untuk menyusui secara langsung jadi berkurang.

“Soal dukungan terhadap pemberian ASI memang sejauh ini terkesan hanya berupa wacana,” ujar DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI (Hon.), selaku Ketua UMUM IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). “Pihak IDAI sudah sering mengadakan acara-acara seputar ASI, tapi implementasinya? Seharusnya setiap kepala daerah melakukan hal yang seperti ini. Namun kebanyakan pihak menganggap masalah ini sebagai business as usual, tidak ada yang benar-benar mengurusi. Selain itu juga masih ada masalah anggaran,” jelasnya.

Perlu diketahui, angka menyusui secara eksklusif dan menyusui dini di Indonesia, termasuk salah satu yang rendah. Berdasarkan data terkini IDAI, angka inisiasi menyusui dini dan menyusui hingga 4 bulan, masih di bawah 60 persen. Sementara itu, ibu yang menyusui secara eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan berada di angka kurang dari 40 persen. Indonesia bahkan tertinggal jauh dari Sri Lanka yang persentase inisiasi menyusui dini dan menyusui hingga empat bulan mencapai di atas 80 persen.

“Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama semua instansi pemerintah dari daerah hingga pusat untuk membantu menyukseskan program menyusui,” kata Dr. Aman.




Berawal dari Rumah Sakit 

Sementara itu, perjuangan Moms untuk bisa menyusui sesungguhnya sudah dimulai sejak masa kehamilan. Dukungan pihak rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya sangat diperlukan agar para ibu bisa menyusui secara maksimal.

“Konseling antenatal sesungguhnya adalah awal keberhasilan menyusui,” ujar Dr. Elizabeth Yohmi, Sp.A yang notabene Ketua Satgas ASI IDAI, dalam acara Seminar Media Pekan ASI Sedunia dengan tema “Dukung Ayah Ibu, Kunci Keberhasilan Menyusui” di Gedung IDAI, Jakarta Pusat (2/8/2019).

“Mengapa begitu? Karena pada saat itu, kondisi ayah dan ibu masih sangat prima untuk bisa menyerap informasi. Mereka juga sangat ingin memberikan yang terbaik bagi anak yang akan lahir,” lanjutnya. 


Dr. Elizabeth juga menekannya bahwa target IDAI adalah untuk memperbanyak rumah sakit yang baby friendly. Moms perlu tahu, target rumah sakit baby friendly adalah setidaknya 80 persen ibu dengan bayi lahir cukup bulan, bayinya bisa melakukan kontak kulit dengan mereka segera atau dalam waktu 5 menit setelah kelahiran, dan kontak ini berlangsung 1 jam atau lebih kecuali jika ada alasan medis. Inisiasi menyusui dini tentunya punya banyak manfaat, salah satunya adalah menjalin ikatan kuat antara ibu dan bayinya dan memberi kehangatan bagi sang anak.

Kesuksesan seorang ibu untuk menyusui bukan hanya ditentukan oleh ibu itu sendiri, melainkan oleh banyak pihak di lingkungannya. So Moms, yuk saling mendukung agar semakin banyak ibu yang bisa mengASIhi secara eksklusif di Indonesia. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik, M&B)



Tags: asi,   air susu ibu,   asi eksklusif,   pekan asi sedunia,   inisiasi menyusui dini










Cover Mei-Juni-Juli 2020