Mother&Baby Indonesia
Mau ‘Mengorbitkan’ Anak? Cek Aturan Mainnya, Moms!

Mau ‘Mengorbitkan’ Anak? Cek Aturan Mainnya, Moms!

Mengikutsertakan anak ke dalam sebuah kompetisi model, bakat, atau menyanyi merupakan hak Anda sebagai ibunya. Tapi hati-hati, bila sudah berlebihan, bisa jadi ini merupakan ambisi Anda dan dapat berdampak negatif bagi mental Si Kecil.

Banyak orang bilang, masa balita merupakan periode emas pertumbuhan anak, di mana segala stimulasi yang berkaitan dengan kognitif, bahasa, motorik kasar, dan motorik halus akan dengan mudah diserap oleh Si Kecil.

Masa ini juga ditandai dengan perkembangan soft skill yang cukup pesat. Soft skill adalah kemampuan untuk mengelola diri sendiri (intrapersonal) dan orang lain (interpersonal). Beberapa soft skill yang dibawa sejak lahir adalah rasa percaya diri, kepedulian, inisiatif, dan kreativitas.




Kompetisi, Boleh atau Tidak?

Jika soft skill terbina dengan baik, maka Si Kecil akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Salah satu cirinya adalah ia tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Tak heran bila hal tersebut mendorong Moms mengikutsertakan ia ke berbagai kompetisi yang memang marak belakangan ini, mulai dari pemilihan model cilik, balita sehat, kontes menyanyi anak, dan lain-lain.

Sebenarnya, dari sisi psikologis, saat anak berusia 3-4 tahun, ia sudah memiliki naluri berkompetisi dan telah mengenal persaingan. Jadi, selama Si Kecil memang memiliki bakat di bidang yang Anda pilih untuknya ikut berkompetisi dan ia tampak menikmatinya, hal tersebut sah-sah saja.

Tak ada batasan yang menentukan berapa kali seorang balita boleh mengikuti suatu kontes atau kompetisi. Jika ia memang menyukai situasi tersebut dan bisa mengikuti tanpa ada beban, maka Anda bisa mengikutsertakannya ke banyak kompetisi. Karena ini justru bisa meningkatkan kepercayaan diri Si Kecil dan menambah pengalamannya untuk bertemu banyak orang, serta menjadi ajang baginya mengembangkan bakat lebih lagi dan mengasah kreativitasnya.


Tidak Baik jika Berlebihan

Tetapi, perlu diketahui juga bahwa segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik. Demikian juga jika Anda punya sifat ambisius dan ingin ‘mencetak’ Si Kecil menjadi bintang atau artis idola dengan membuatnya terlalu sering terlibat dalam aneka casting atau kontes.

Sifat ambisius secara tidak disadari akan membuat Anda memberi target terlalu berlebihan pada Si Kecil sehingga ia akan mengikuti kompetisi dengan perasaan tertekan. Ini bisa membuatnya tertekan, dan bukan tidak mungkin menjadi pemicu trauma masa balita.




Dos dan Don’ts

Dalam memilih sebuah kompetisi atau kontes untuk balita, ada beberapa hal yang boleh dan tidak boleh Anda lakukan, Moms.

Dos

• Carilah kejelasan informasi mengenai kompetisi yang akan diikuti Si Kecil untuk menghindari kemungkinan eksploitasi anak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

• Pilih jenis kompetisi yang sesuai dengan bakat alaminya, sehingga peluang untuk berhasil akan semakin besar. Pengalaman keberhasilan ini akan menjadi dasar dalam membentuk rasa percaya diri anak.

• Pastikan kompetisi yang diikuti anak tidak membahayakan fisik dan psikisnya.

Don’ts

• Mengikutsertakan Si Kecil lebih dari satu perlombaan dalam sehari atau dalam jangka waktu yang sangat berdekatan, misalnya hampir setiap hari atau 3-4 kali seminggu. Ini akan membuat Si Kecil merasa jenuh, kelelahan, dan mengurangi waktu bermain atau melakukan aktivitas yang bisa menstimulasi tumbuh kembangnya.

• Memilih kompetisi yang lokasinya sangat jauh dari rumah dan membutuhkan perjalanan panjang. Ini bisa menimbulkan kelelahan secara fisik dan mental Si Kecil sebelum ia berkompetisi. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   lomba anak,   kompetisi anak,   bakat anak,   mental anak