Mother&Baby Indonesia
Moms, Yuk Siasati Kebiasaan Anak Makan Gorengan

Moms, Yuk Siasati Kebiasaan Anak Makan Gorengan

Gurih dan krenyes-krenyes. Duh, gorengan memang selalu terlihat menggiurkan. Bukan hanya orang dewasa, banyak anak-anak yang juga gemar mengonsumsi gorengan.

Karena pengolahannya yang mudah, tidak sedikit Moms yang memberikan gorengan sebagai menu makanan bagi anak-anaknya. Biasanya, Si Kecil memang lebih menyukai rasa enak dan gurih makanan yang digoreng ketimbang sayuran.

Namun dari segi kesehatan, gorengan atau makanan yang digoreng tentunya tidak disarankan untuk terlalu sering dikonsumsi. Terlalu banyak makan gorengan, akan membuat anak cenderung mengalami obesitas. 



Kandungan lemak tak jenuh dalam minyak dapat berubah menjadi lemak jenuh ketika dipanaskan dalam suhu tinggi. Lemak jenuh sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan meningkatnya kolesterol jahat. 

Jika sudah menumpuk, kolesterol jahat akan menyumbat pembuluh darah. Apabila Si Kecil gemar makan gorengan, maka semakin dewasa sumbatan di pembuluh darahnya semakin menumpuk. Lama-kelamaan kolesterol ini akan benar-benar menyumbat dan menyebabkan gejala stroke atau serangan jantung.

Itulah alasan mengapa Moms sebaiknya tidak membiarkan Si Kecil terlalu sering mengonsumsi makanan yang digoreng. Guna menyiasati kebiasaan tersebut, Anda bisa melakukan beberapa tips berikut ini.


1. Kurangi Jenisnya

Mengonsumsi makanan yang digoreng sesungguhnya tidak berbahaya asalkan tidak berlebihan. Oleh sebab itu, Moms bisa menyiasati kegemaran Si Kecil makan gorengan dengan mengurangi jenisnya. Misalnya, Moms hanya menyediakan satu jenis lauk yang digoreng per hari dan diselang-seling dengan makanan rebus atau sayuran. Selain itu, gorengan untuk camilan juga harus dibatasi. Anda tak perlu menyediakan makanan kecil macam pisang goreng, bakwan, atau tahu goreng setiap hari.


2. Batasi Porsinya

Selain mengurangi jenis gorengan yang dikonsumsi Si Kecil setiap harinya, Anda juga perlu membatasi porsinya. Jangan biarkan anak memakan gorengan dengan porsi berlebih. Misalnya, Anda hanya memberikan satu potong ayam goreng setiap kali makan. Apabila Si Kecil masih merasa lapar, Anda bisa menyiasatinya dengan memberikan tambahan sayur berkuah seperti bayam atau sup, dan makanan yang direbus seperti edamame dan jagung rebus.




3. Proses Penggorengan

Masaklah dengan sedikit minyak atau menumis. Gunakan wajan antilengket agar hasil gorengan tetap memadai. Alih-alih membeli, lebih baik Moms menyediakan makanan yang digoreng sendiri menggunakan minyak yang mengandung omega-3 dan omega-6. Dengan begitu, Anda bisa memastikan minyak yang digunakan untuk menggoreng dalam kondisi masih bagus. Kebanyakan pedagang gorengan menggunakan minyak yang sama berulang kali, bahkan hingga terlihat hitam sehingga berefek negatif bagi makanan yang digoreng.

Saat menggunakan minyak untuk menggoreng dalam jumlah banyak, sebaiknya gunakan maksimal dua kali saja. Penggunaan minyak lebih dari dua kali dapat meningkatkan titik asap yang dapat memicu karsinogenik. Perlu diketahui, karsinogenik adalah sifat yang mengendap dan merusak terutama pada organ paru-paru sehingga menjadi berlubang serta berpotensi menyebabkan kanker. Oh ya Moms, saat menggoreng pastikan minyaknya benar-benar panas. Dengan begitu, makanan tidak akan terlalu menyerap minyak.


4. Wajan Bersih

Bersihkan wajan penggorengan dengan sempurna setelah dipakai. Walau hanya sedikit, adanya sabun atau air yang tertinggal akan menyebabkan terbentuknya busa dan gelembung udara selama proses penggorengan. Hal ini akan mempercepat proses kerusakan minyak pada proses penggorengan selanjutnya.


5. Beri Contoh

Biasanya, pola makan Si Kecil terbentuk dari kebiasaan orang tuanya. Jika tak ingin anak Anda terlalu banyak mengonsumsi gorengan, Moms dan Dads bisa memberi contoh dengan lebih sering makan sayuran di depan Si Kecil. Jangan lupa, ganti camilan Anda yang berupa gorengan menjadi makanan yang lebih sehat seperti buah-buahan atau sayuran yang direbus. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   gorengan,   makanan yang digoreng,   obesitas,   kolesterol jahat