Home - Kehamilan & Persalinan - Persalinan / 21 Juli 2019 / Redaksi

7 Risiko yang bisa Ibu Alami Pasca Melahirkan

Melahirkan merupakan momen indah bagi setiap ibu. Namun, kesehatan ibu pada masa-masa setelah melahirkan kerap luput dari perhatian. Karena sejumlah risiko pasca kehamilan dapat terjadi dan tidak bisa dihindari secara total. Risiko pasca persalinan yang kerap terlupakan oleh calon ibu adalah struktur tubuh, kontur kulit, hormonal, psikologis, hingga perubahan tampilan kulit, baik pada wajah maupun tubuh lainnya.

Tanpa penanganan yang cepat dan benar, berbagai masalah tersebut dapat mengganggu kepercayaan diri ibu, bahkan keharmonisan rumah tangga. Risiko apa sajakah yang dapat dialami para ibu setelah melahirkan? Bagaimana mengantisipasi berbagai risiko tersebut? simak ulasan lengkapnya berikut ini, Moms.




1. Herpes Gestationes

Ini adalah jenis penyakit kulit yang bisa terjadi saat memasuki masa kehamilan dan bahkan bisa bertahan hingga masa pasca persalinan. Penyakit yang ditandai dengan keluarnya bintik-bintik merah ini tidak diketahui pasti penyebabnya, tetapi diduga akibat hormon kehamilan ibu yang meningkat.

Penyakit ini biasanya ditandai dengan rasa gatal dan akan hilang dengan sendirinya serta tidak menular. Namun penyakit ini juga bisa disembuhkan, caranya dengan mengoleskan salep anti-inflamasi untuk menghilangkan rasa gatal.


2. Stretchmarks

Stretchmarks umumnya dijumpai di bagian perut, payudara, paha dan pinggul. Awalnya, gurat perut berwarna kecokelatan yang disebut striae nigra ini mulai timbul di daerah pusar dan memanjang hingga ke arah kemaluan saat hamil. Namun setelah melahirkan, garis ini bisa berubah menjadi striae alba yang berwarna putih.

Agar stretchmarks tidak membentuk garus kehitaman yang permanen, disarankan untuk tidak menggaruknya ketika rasa gatal muncul. Cukup Anda usap-usap saja. Selain itu, Anda bisa mengoleskan krim atau gel khusus untuk menjaga kelembapan kulit, sejak kehamilan hingga pasca bersalin.


3. Hiperpigmentasi

Penumpukan pigmen melanin yang berlebihan atau hiperpigmentasi saat kehamilan dan berlanjut sampai pasca persalinan dapat disebabkan oleh peningkatan kadar hormon melanocyte stimulating hormone (MSH). Akibatnya, timbul bercak atau vlek gelap di kulit, yang muncul di bagian areola payudara, lipatan kulit, ketiak, dan daerah genital.

Hiperpigmentasi dapat dikurangi dengan memakai tabir surya. Hindari pemakaian pemutih kulit berbahan hidrokinon, tretinoin, dan kortison, terlebih jika terpapar matahari langsung usai memakainya. Bercak ini akan sembuh setelah melahirkan, namun jika tidak kunjung hilang akan berpotensi menjadi melasma (jenis infeksi kulit) yang terasa perih dan gatal di kulit wajah.




4. Kerontokan Rambut

Saat hamil, hormon progesteron dalam tubuh Anda akan meningkat. Hal ini membuat kulit di seluruh tubuh, termasuk kulit kepala menjadi lebih sehat. Rambut pun terlihat tumbuh lebat dan bersinar. Namun setelah melahirkan, hormon tersebut akan kembali terproduksi secara normal dan membuat perkembangan rambut kembali seperti sebelum hamil. Anda bisa menemukan cara mengatasi rambut rontok pasca melahirkan di sini.


5. Parutan Caesar

Setelah melakukan operasi caesar, biasanya ibu akan mengalami luka parut akibat sayatan di perut saat persalinan. Jika luka yang disebut scar ini didiamkan, maka dapat berubah menjadi keloid yang tebal. Untuk mengobatinya, Anda dianjurkan untuk selalu menjaga kelembapan kulit dengan minum air putih lebih banyak dari biasanya, sebab kulit yang terjaga kelembapannya akan lebih optimal untuk pulih. Hindari penggunaan gurita atau korset yang bisa menimbulkan gesekan dan rasa gatal pada area tersebut.


6. Vaginal Prolapse

Vaginal prolapse atau keluarnya sebagian rahim dari mulut vagina ini lebih dikenal dengan ‘turun berok’. Gangguan ini disebabkan oleh melemahnya otot-otot dinding pelvis (dasar panggul) yang menopang rahim akibat tekanan janin semasa hamil.

Anda bisa mencegahnya dengan melakukan senam Kegel secara teratur selama dan setelah kehamilan. Terapi untuk vaginal prolapse juga dapat diberikan secara konservatif dan operatif. Namun jika sudah terjadi, maka diperlukan perbaikan vagina dengan cara uroginekologis dan pemasangan sling (penahan buatan) yang dimasukkan di dalam saluran kemih.


7. Inkontinensia Urine

Ini merupakan kondisi sulit menahan urine, yang biasa dialami lansia akibat melemahnya otot-otot saluran kemih. Namun, bisa meningkat pada ibu setelah melahirkan hingga 25 persen. Jika terjadi gangguan ini, maka ibu tidak dapat menahan sekresi sejumlah urine saat batuk, bersin, dan mengejan.

Cara mencegahnya dengan melakukan olahraga dasar panggul dan senam Kegel setiap pagi sebelum beraktivitas. Kontrol otot kemaluan untuk menutup dan menahannya beberapa detik dengan minimal 10 kali ulangan. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)

 

 


RELATED ARTICLE

6 Ketakutan yang Ibu Rasakan Menjelang Persalinan

Moms Perlu Tahu, Ini 5 Tanda Pembukaan 1 bagi Ibu Hamil

Mengenal Lamaze, Metode Bantuan Persalinan

OTHER ARTICLES

Waspada! Ini Bahaya Memakaikan Perhiasan pada Bayi

Ingin Mendonorkan Darah? Ini yang perlu Anda Perhatikan

Tren Fashion Terkini untuk Si Kecil

Bagaimana Meyakinkan Orang Tua dengan Pola Asuh Kini?

Ibu Hamil Donor Darah? Ini Risikonya!