Mother&Baby Indonesia
Oligohidramnion, Kondisi Cairan Ketuban Terlalu Sedikit

Oligohidramnion, Kondisi Cairan Ketuban Terlalu Sedikit

Cairan ketuban menjadi salah satu hal yang penting saat Anda hamil. Cairan ini berfungsi untuk melindungi bayi dari guncangan dan infeksi, membantu menjaga suhu dalam rahim, mencegah, hingga membantu sistem pernapasan dan pencernaan janin. Namun, cairan ketuban juga bisa bermasalah Moms, di mana jumlahnya sangat sedikit. Kondisi ini disebut dengan istilah oligohidramnion. Gangguan tersebut dapat menyebabkan janin tidak berkembang dengan baik hingga berakibat pada kematian janin di dalam rahim.

Oligohidramnion sendiri dapat terjadi pada usia kehamilan trimester ketiga, di mana jumlah cairan ketuban di dalam rahim hanya sekitar 500 mL atau kurang dari itu. Umumnya, ibu yang hamil anak kembar yang berisiko mengalami kondisi tersebut.




Penyebab dan Gejala Oligohidramnion

Penyebab oligohidramnion sendiri beragam, bisa dari kelainan yang dialami oleh janin, di antaranya kelainan saluran kemih, kelainan kromosom, dan janin menelan cairan amnion secara berlebih. Sedangkan penyebab dari kehamilan itu sendiri antara lain adalah membran ambion yang pecah, insufisiensi plasenta, kehamilan postterm atau lebih dari 42 minggu, serta sedang dalam terapi dan mengonsumsi obat tertentu.

Gejala yang timbul juga bisa dilihat melalui USG atau saat pemeriksaan ke dokter. Beberapa gejala oligohidramnion yang bisa dialami oleh Moms adalah sebagai berikut:

• Tinggi fundus uteri lebih rendah dari usia kehamilan (perut lebih kecil).

• Bunyi detak jantung janin mulai terdengar sejak bulan ke-5.

• Ibu merasakan nyeri ketika janin bergerak.

Selain melalui USG, kondisi oligohidramnion ini juga bisa terdeteksi dengan melakukan pemeriksaan amnioskopi. Ini adalah pemeriksaan air ketuban yang dilakukan dengan menggunakan alat bernama amnioskope (alat bening seperti kaca) yang dimasukkan melalui jalan lahir.


Bisa Terjadi Komplikasi

Kondisi oligohidramnion tidak boleh disepelekan dan harus segera ditangani. Sebab berbagai komplikasi, bahkan yang berakibat serius bisa terjadi pada janin. Persentase kejadian oligohidramnion mencapai 12 persen pada usia kehamilan 41 minggu.

Berikut beberapa komplikasi yang bisa terjadi:

• Kelahiran bayi prematur.

• Operasi caesar.



• Deformitas janin (bentuk tubuh janin kurang baik).

• Kompresi tali pusat secara langsung.

Fetal distress.

• Gangguan tumbuh kembang janin intrauterin.


Penanganan Tepat

Kondisi oligohidramnion bergantung pada kondisi bayi, usia kehamilan, dan ada tidaknya komplikasi selama kehamilan. Yang bisa dilakukan sebagai pengobatan pada usia kehamilan belum cukup bulan di antaranya:

• Banyak istirahat di tempat tidur.

• Memperbanyak konsumsi cairan.

• Perbaikan pola diet agar nutrisi tercukupi.

• Pemantauan pergerakan dan volume air ketuban dengan USG.

Namun, apabila kondisi oligohidramnion terjadi pada usia kandungan 38-41 minggu (kehamilan aterm), maka yang bisa dilakukan adalah dengan mempercepat proses persalinan. Hal ini bisa dilakukan dengan induksi persalinan atau operasi caesar, sehingga meminimalisir komplikasi. Dan yang terpenting, segera periksakan kehamilan Anda jika janin terasa tidak begitu aktif seperti biasa selama kehamilan. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   ibu hamil,   hamil,   ketuban,   cairan ketuban,   oligohidramnion