Mother&Baby Indonesia
Deteksi DIni Disleksia pada Anak, Kenali 9 Tandanya!

Deteksi DIni Disleksia pada Anak, Kenali 9 Tandanya!

Disleksi banyak terjadi pada anak. Kenapa sih, bisa terjadi disleksia? Menurut dr. Kristiantini Dewi Sp.A, Ketua Pelaksa Harian Asosiasi Disleksia Indonesia, otak penyandang disleksia membaca atau menerjemahkan kode simbol dengan cara berbeda dan menggunakan jalan yang berbeda pula. “Beberapa jurnal dan buku teks menyebutnya sebagai neurodiversity,” kata dr. Kristiantini, yang akrab disapa dr. Tian.

Karena itu, proses pembelajaran bagi anak penyandang disleksia tidaklah mudah. Meskipun memiliki tingkat intelegensi rata-rata, atau bahkan di atas rata-rata, mereka mengalami kesulitan literasi. Selain itu, mereka juga mengalami kesulitan dalam hal: kecepatan belajar (processing speed), memori jangka pendek (short term memory), working memori, sequence, konsep manajemen waktu, koordinasi, dan orientasi arah.

“Disleksia sebaiknya sudah diidentifikasi sebelum usia sekolah atau sebelum 7 tahun. Jika terlambat, biasanya anak disleksia sudah terlanjut merasakan kegagalan akademis. Jika ini berulang, ia menjadi minder dan self esteem-nya jadi buruk,” jelas dr. Tian.




9 Tanda Disleksia

Ada 9 tanda yang bisa Anda kenali untuk mendeteksi disleksia dini pada anak, Moms. Kesembilan tanda tersebut adalah:

1. Pelupa

Penyandang disleksi biasanya sangat sangat pelupa melebihi teman sebayanya, hampir di setiap saat atau setiap waktu.

2. Gangguan berbahasa

Anak sulit mengutarakan maksudnya karena ia memiliki gangguan bahasa. Ia kesulitan membedakan unit bunyi terkecil dari suatu huruf (phonological awareness), misalnya, “taman” untuk “tanam.” Mengungkapkan sesuatu dengan istilah tidak tepat; kesulitan bercerita secara runut; kesulitan memahami konsep “lebih banyak dari,” “lebih sedikit dari,” “persamaan,” “perbedaan,” “sebelum,” “sesudah;” menggunakan istilah “atas” untuk “bawah,” “maju” untuk “mundur.”

3. Menulis terbalik

Jika anak menulis, huruf atau lambang bilangan yang ia tulis akan terbalik. Gejala ini sering digeneralisasi sebagai pertanda khas dan pertanda tunggal disleksia. Padahal, tidak demikian. Anak disleksia melakukan hal ini lebih konsisten dan lebih sulit dikoreksi. Sebaliknya, anak tersebut mungkin disleksia tapi tidak menulis secara terbalik.

4. Sulit mengurut abjad

Menyusun atau menyebutkan huruf-huruf dalam abjad secara tepat menuntut keterampilan merunut dan working memory. Karena itu, mengurut abjad seringkali merupakan kegiatan yang sulit bagi anak disleksia usia prasekolah.



5. Kesulitan koordinasi

Gejala disleksia yang paling mudah terlihat di usia prasekolah adalah kesulitan dalam koordinasi gerakan motorik seperti sering terjatuh, sering menabrak benda, atau sering tersandung. Sekalipun gejala ini tidak terlihat, tetap patut Anda perhatikan ya, Moms.

6. Sulit beraktivitas

Anak disleksia sulit melakukan aktivitas dengan keterampilan motorik halus seperti mewarnai, tracking pola, menggunting, mengancing baju, memakai kaos kaki, dan sebagainya.

7. Respons lambat

Ketika diberi tugas atau instruksi, anak disleksia akan cenderung lambat dalam mengeksekusinya (slow processing speed). Gejala ini mudah dikenali pada kegiatan belajar di sekolah.

8. Kehilangan barang

Anak disleksia sering kehilangan barang miliknya, seperti kehilangan pensil, botol minum, jepit rambut, dan sebagainya.

9. Riwayat disleksia

Jika ada riwayat disleksia dalam keluarga, maka dugaan disleksia akan semakin kuat dengan dukungan gejala-gejala yang sudah ditunjukkan. (M&B/Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: disleksia,   belajar,   gangguan belajar,   anak,   balita,   kecerdasan








Related Article