Mother&Baby Indonesia
Jenis-Jenis Sunat, Mana Pilihan Tepat bagi Si Kecil?

Jenis-Jenis Sunat, Mana Pilihan Tepat bagi Si Kecil?

Moms yang memiliki anak laki-laki tidak hanya dibuat galau oleh pertanyaan, “Kapan Si Kecil akan disunat?”. Metode sunat yang akan dipilih pun kerap membuat para orang tua kebingungan.

Seiring dengan kemajuan teknologi, cara sunat pun kian beragam. Selain prosesnya lebih cepat, sejumlah metode sunat saat ini sudah minim risiko dan rasa sakit. Berikut adalah jenis-jenis metode sunat yang dipraktikkan di Indonesia.




1. Tradisional

Teknik semacam ini memang sudah sangat jarang ditemui di daerah perkotaan. Sunat tradisional biasanya dilakukan oleh juru khitan, bukan di rumah sakit atau puskesmas. Alat yang digunakan terdiri dari pisau, silet, atau bambu yang telah ditajamkan. Sebelum digunakan, peralatan tersebut harus disterilkan terlebih dahulu. Lalu tanpa pembiusan, kulit penis yang akan dipotong diregangkan dengan semacam alat penjepit lalu dipotong dengan sekali iris. Setelah itu, bekas luka ditaburi semacam obat antiinfeksi dan dibalut tanpa dijahit.

Kelebihan:

• Prosesnya cepat, biaya murah.

Kekurangan:

• Berisiko terjadi pendarahan dan infeksi jika dilakukan dengan cara yang kurang tepat, menggunakan alat yang tidak steril.

• Berisiko terpotongnya saraf di sekitar penis yang bisa memengaruhi kemampuan berhubungan seks kelak setelah dewasa.


2. Konvensional

Metode sunat ini paling banyak digunakan hingga kini oleh banyak tenaga dokter maupun mantri sunat. Alat yang digunakan telah sesuai standar medis. Sebelum kulit penis dipotong, akan dilakukan pembiusan terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kulit penis diiris melingkar menggunakan gunting atau pisau khusus bedah. Setelah dipotong, kulit penis disatukan kembali dengan cara dijahit sehingga hasilnya relatif lebih baik.

Kelebihan:

• Rasa sakit minimal karena menggunakan bius lokal.

• Risiko infeksi kecil karena menggunakan peralatan yang sudah sesuai dengan standar medis.

• Biaya juga masih cukup terjangkau.

• Metode ini bisa diterapkan kepada pasien hiperaktif, autisme, dan anak berpenis kecil.

Kekurangan:

• Proses pengerjaan cukup lama, sekitar 30-50 menit.

• Proses penyembuhan juga cukup lama.

• Luka tidak boleh terkena air selama beberapa hari agar proses penyembuhan bisa lebih cepat.


3. Electric Cauter

Metode ini kerap disebut dengan metode sunat laser. Penamaan ini sesungguhnya kurang tepat karena cara ini sama sekali tidak menggunakan laser yang diasumsikan sebagai sinar berwarna merah seperti dalam film sci-fi. Dalam kasus ini, sunat laser justru dilakukan menggunakan alat cauter untuk memotong kulit penis. Alat itu berbentuk seperti pistol dengan dua buah lempeng kawat di ujungnya yang saling berhubungan. Jika dialiri listrik, ujung logam akan panas dan memerah. Nah elemen yang memerah itulah yang digunakan untuk memotong kulit penis.

Alat cauter akan memotong kulit tanpa menimbulkan pendarahan karena bersifat panas dan langsung membekukan darah di kulit tersebut. Cara ini tergolong aman selama cauter tidak mengenai kepala penis. Itulah sebabnya, sunat ini harus dilakukan oleh dokter yang sudah berpengalaman.

Moms perlu tahu, sunat dengan electro cauter tetap membutuhkan jahitan untuk merapikan hasil sunat. Dengan dijahit, luka sunat juga akan lebih cepat sembuh. Kesimpulannya, metode sunat ini sebenarnya serupa dengan sunat konvesional. Hanya berbeda pada penggunaan alatnya saja.

Kelebihan:

• Risiko pendarahan minimal karena menggunakan elemen yang dipanaskan.

• Cocok untuk anak di bawah usia 3 tahun yang pembuluh darahnya sangat kecil.

• Waktu penyembuhan relatif lebih cepat dibandingkan metode konvensional, begitu pula dengan waktu pengerjaan.



Kekurangan:

• Menimbulkan bau yang menyengat, seperti daging terbakar serta dapat menyebabkan luka.

• Prosedur harus dilakukan oleh dokter ahli karena jika tidak dilakukan dengan benar, kulit penis dikhawatirkan dapat menutup kembali.

• Pada anak yang sudah lebih besar, dokter biasanya menyarankan bius total.


4. Klem

Klem adalah tabung plastik khusus yang memiliki ukuran bervariasi sesuai ukuran penis. Metode klem memiliki banyak variasi alat dan nama, walau prinsip serta cara kerjanya sama. Kulit penis (kulup) dijepit dengan suatu alat sekali pakai, kemudian dipotong dengan pisau bedah tanpa harus dilakukan penjahitan. Setelah itu, klem akan dipasang pada penis hingga luka mengering sekitar 3-6 hari. Dengan metode ini, Si Kecil tidak akan merasakan sakit sama sekali dan bisa langsung memakai celana serta beraktivitas seperti biasa setelah sunat.

Kelebihan:

• Pendarahan minimal, tanpa jahitan maupun perban.

• Luka khitan boleh kena air.

• Proses cepat, hanya sekitar 7-10 menit.

• Tidak terlalu nyeri dan Si Kecil bisa langsung beraktivitas.

Kekurangan:

• Biaya lebih mahal dibandingkan metode konvensional.

• Klem yang menempel pada penis dapat membuat Si Kecil tak nyaman.

• Dalam beberapa kasus, ada keluhan klem sulit dibuka.


5. Laser CO2

Inilah metode laser yang sesungguhnya. Meski masih sangat jarang dilakukan, metode sunat laser sudah tersedia di Indonesia, khususnya kota besar seperti Jakarta. Laser yang digunakan adalah laser CO2. Setelah dibius lokal, kulit penis yang hendak dipotong, ditarik dan dijepit dengan klem. Laser CO2 kemudian memotong kulit penis tanpa menimbulkan pendarahan sedikit pun. Meski begitu, kulit tetap harus dijahit agar proses penyembuhan sempurna.

Kelebihan:

• Relatif cepat, dalam waktu 10-15 menit sudah selesai.

• Tidak ada pendarahan atau jika ada, maka sangat sedikit darah yang keluar.

• Proses penyembuhan cepat.

• Rasa sakit minimal.

• Hasil secara estetika lebih baik.

Kekurangan:

• Harga relatif mahal dan hanya tersedia di rumah sakit besar. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: sunat,   khitan,   sunat konvensional,   sunat tradisional,   sunat klem,   sunat laser