Mother&Baby Indonesia
Bruxism, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Bruxism, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Pernahkan Anda mendengar suatu bunyi menyerupai suara penyerut kayu keluar dari mulut Si Kecil? Bunyi apa sih itu?

Ternyata bunyi itu bersumber dari gigi Si Kecil yang digerutkan (bruxism). Perilaku ini bisa terjadi saat ia menonton televisi, mendengar omelan Anda, atau bahkan saat sedang tidur.

Menurut Fabiola P. Setiawan, M.Psi, psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, perilaku menggerutkan gigi akan muncul saat anak sedang tidak melakukan aktivitas motorik yang menggunakan tangan atau kaki.



Perlu diketahui, usia balita merupakan masa emas saat otak anak mulai belajar mengeksplorasi segala hal, positif maupun negatif. Salah satu perilaku negatif yang dilakukannya adalah menggerutkan gigi. Mengapa negatif?

Perilaku ini bisa menjadi suatu kebiasaan yang akan berdampak buruk secara psikologis maupun medis, bila tidak ditangani secepatnya. Kebiasaan menggerut ini biasanya muncul saat jumlah gigi susu Si Kecil mulai sempurna.

Namun ada juga yang melakukan perilaku tersebut di usia sekolah atau setelah dewasa. “Waktu seseorang mulai melakukan perilaku ini tergantung dari faktor pemicunya,” tambah Fabiola.


Perhatikan Penyebab

Ada beberapa faktor penting yang menyebabkan munculnya perilaku menggerutkan gigi, yaitu:

1. Proses pertumbuhan gigi susu. Menurut drg. Anastasia Dinny Setiawati, spesialis gigi dari RS William Booth, Semarang, di usia 1-2 tahun saat proses pertumbuhan gigi susu berlangsung, timbul rasa gatal pada gusi. Rasa tidak nyaman itu membuat anak cenderung mengadu gigi bagian atas dan bawah yang telah tumbuh terlebih dahulu ke arah kiri dan kanan.

2. Sedang tegang karena suatu tekanan (stressor). Saat Anda mengomeli Si Kecil, ia mungkin menjadi tegang dan tanpa sadar menggerutkan gigi. Perilaku ini merupakan sikap perlawanannya terhadap suatu kondisi yang tidak bisa ia atasi. Ada beberapa anak yang saat dimarahi orang tuanya, tidak bisa menerima situasi tersebut dan tak bisa mengungkapkan perasaannya. Akhirnya ia melakukan pelampiasan, salah satunya dengan menggerutkan gigi.

3. Kesulitan beradaptasi. Si Kecil membutuhkan waktu untuk beradaptasi saat memasuki lingkungan baru, misalnya sekolah. Mengenal situasi baru, termasuk teman atau guru yang baru ditemui, memang bukan perkara mudah. Ada beberapa anak yang memerlukan waktu lama untuk beradaptasi dengan sekitarnya dan saat proses tersebut berlangsung, banyak hal baru yang tidak biasa ia rasakan sehingga menimbulkan tekanan. Anak pun melampiaskan tekanan itu dengan menggerutkan giginya.

4. Menemukan kenyamanan. Kebiasaan ini bisa diawali dengan hanya eksplorasi atau sekadar iseng terhadap suatu perilaku etika ia dalam keadaan rileks. Saat anak merasakan kenyamanan saat melakukannya, maka ia akan mengulangnya hingga menjadi suatu kebiasaan.




Awas Merusak!

Meskipun terlihat sepele, tak berarti kebiasaan ini bisa dibiarkan. Jika berlangsung terus-menerus, maka dampak yang muncul akan semakin besar. “Dampak psikologis perilaku ini adalah mengganggu proses sosialisasi Si Kecil dengan lingkungan sekitarnya,” ujar Fabiola.

Di sisi lain, apabila lingkungan sekitar merespons perilaku tersebut sebagai sesuatu yang aneh, anak akan sulit melakukan proses sosialisasi dan mengakrabkan diri dengan lingkungannya. Selain itu, Si Kecil bisa saja kehilangan kepercayaan diri karena malu akan kebiasaan buruknya itu. Jika tidak diobservasi faktor pemicunya, ia berpotensi mengalami tekanan diri yang sangat hebat sehingga cenderung membuat anak frustasi.

Secara fisik, menggerutkan gigi tentunya bisa membuat gigi anak rusak. Gesekan antargigi akan menghilangkan bagian tidak rata atau tonjolan di sisi atas setiap gigi (cups). Cups berfungsi untuk membantu proses pengunyahan dan pemotongan makanan dalam rongga mulut Si Kecil serta memperkuat hubungan antara rahang atas dan rahang bawah (oklusi).

“Apabila cups sudah hilang dan sisi atas gigi menjadi rata, maka kemampuan mengunyah (pada gigi geraham), dan mengiris makanan (gigi taring dan seri) akan berkurang. Alhasil, makanan yang diolah dalam mulut menjadi tidak maksimal,” ujar drg. Anastasia.

Hilangnya cups juga akan melemahkan hubungan antara rahang atas dan bawah (maloklusi). Selain itu, kebiasaan ini bakal mengganggu proses perkembangan rahang yang menyangga gigi Si Kecil (Temporo Mandibula Junction), sebab gigi bagian bawah selalu ditekan oleh gigi atas.


Cara Mengatasi Faktor Pemicunya

Tidak ada cara lain untuk mengatasi kebiasaan buruk ini selain mengatasi pemicunya. Bila faktor pemicu adalah proses pertumbuhan gigi susu, drg. Anastasia menganjurkan agar Moms memberikan media lain yang lebih aman, misalnya teether, sehingga tidak terjadi gesekan antargigi dan gigi Si Kecil tetap sehat.

Apabila pemicunya adalah tekanan dari lingkungan, Anda harus mengobservasi apa yang sebenarnya ia alami. Jika penyebabnya adalah lingkungan di dalam rumah, Anda harus mengubah pola didikan. Berbicaralah lebih pelan kepada Si Kecil, alih-alih berteriak dan memarahinya.

Sementara itu, jika penyebabnya dari luar rumah seperti sekolah, Anda harus bisa bekerja sama dengan guru dan staf lainnya untuk mencari solusi agar perkembangan emosional anak bisa diperbaiki.

Anda juga bisa memakaikan ortho trainer atau semacam penutup gigi yang terbuat dari bahan karet dengan berbagai macam warna, kepada Si Kecil. Dengan adanya ortho trainer, anak akan kesulitan menggerutkan gigi. Alat ortho trainer bisa mulai digunakan sejak anak berusia 3 tahun.

Last but not least, jika penyebabnya adalah kenyamanan, maka atasi dengan memberikannya berbagai aktivitas positif guna mengalihkan perhatian Si Kecil dari kebiasaan menggerut gigi. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   gigi,   gigi anak,   gigi balita,   pertumbuhan gigi