Mother&Baby Indonesia
Hati-Hati! Orang Dewasa Juga Bisa Kena Cacar Air, Lho

Hati-Hati! Orang Dewasa Juga Bisa Kena Cacar Air, Lho

“Lho, sudah besar kok, masih kena cacar air? Bukannya itu penyakit anak-anak?” Eits, jangan keliru dulu, Moms. Cacar air adalah penyakit yang sangat mudah menyebar dan bisa dialami orang dari berbagai usia.

Memang, penderita penyakit ini umumnya adalah anak-anak. Tapi, orang dewasa juga bisa mengalaminya. Mereka yang belum pernah terkena cacar air saat masa kanak-kanak atau belum pernah memperoleh vaksin cacar air justru rentan terkena cacar air.




Gejala Awal Cacar Air

Cacar air diawali oleh gejala yang mirip dengan sakit demam, yaitu kondisi tubuh melemah, kepala pusing, demam, serta kadang diiringi dengan batuk. Sama seperti halnya cacar pada anak-anak, dalam kurun waktu 24 jam, akan timbul bintik-bintik merah yang berkembang menjadi bisul berisi cairan.

Bisul tersebut umumnya muncul pertama kali di bagian perut, punggung, atau wajah, selanjutnya menyebar hampir ke seluruh bagian tubuh, termasuk kulit kepala, mulut, hidung, telinga, dan kelamin. Untungnya, bisul ini akan mengering dalam waktu seminggu. Namun berita buruknya, pada masa inilah rasa gatal yang hebat akan menyerang.


Penyebab Cacar Air

Penyakit ini disebabkan oleh virus Varicella zoster. Virus tersebut mudah menular melalui percikan ludah, serta kontak langsung. Selain itu, jika Anda belum pernah menderita cacar air saat masih kecil atau mendapat vaksin cacar air, hal itu juga bisa meningkatkan risiko cacar air.

Pada orang dewasa, cacar air dapat menyebabkan masalah atau komplikasi yang lebih serius, khususnya bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, misalnya infeksi kulit, pneumonia, dan radang sendi.

Sedangkan pada ibu hamil, cacar air dapat memengaruhi perkembangan janin. Diperkirakan, sebanyak 1,5 persen bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan kehamilan trimester awal terserang cacar air menderita congenital varicella syndrome (CVS).

Jika ibu hamil dengan usia kandungan kurang dari 20 minggu terkena cacar air, meskipun hal ini jarang terjadi, janin berisiko menderita penyakit bawaan, seperti adanya keloid (bekas luka pada kulit bayi), kelainan pada otot dan tulang, kelainan pada tungkai kaki atau tangan, kepala lebih kecil dari ukuran normal, penglihatan tidak normal, serta keterlambatan perkembangan mental.




Perawatan untuk Penderita Cacar Air

Jika Anda menderita cacar air, segera hubungi dokter saat mengalami gangguan pernapasan, mudah mengantuk, merasa lemah, kejang-kejang, sakit atau nyeri kepala menjadi lebih parah bahkan setelah minum obat, merasa sangat tidak sehat atau sakit terasa memburuk, dan bintik-bintik cacar bertambah parah, atau dari bentol air timbul memar dan berdarah.

Perawatan cacar air pada orang dewasa berfokus pada mengobati gejalanya, yakni dengan losion calamine untuk meredakan gatal, dan pereda nyeri untuk mengatasi demam.

Ruam atau luka cacar air akan terasa sangat gatal. Tahan diri Anda untuk menggaruknya. Menggaruknya hanya akan memperlambat proses penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi oleh bakteri. Selain itu, Anda sebaiknya perbanyak minum dan mengonsumsi makanan yang lembut.


Mencegah Penularan Cacar Air

Walaupun sering dikira penyakit anak-anak, cacar air juga bisa menyerang orang dewasa. Jadi jika tidak ingin terjangkit penyakit ini, Anda disarankan untuk menjaga jarak dengan penderita cacar air, jaga kebersihan dengan cara sering mencuci tangan, dan selalu menerapkan gaya hidup sehat agar sistem kekebalan tubuh tetap terjaga.

Sebagai upaya pencegahan penyakit cacar air, dianjurkan untuk melakukan vaksinasi cacar air. Di Indonesia sendiri, vaksinasi cacar air tidak termasuk dalam daftar imunisasi rutin lengkap, tapi tetap dianjurkan untuk diberikan. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: kesehatan,   cacar air,   penyakit menular