Mother&Baby Indonesia
Moms, Ini Tanda-Tanda Perkembangan Anak Terlambat

Moms, Ini Tanda-Tanda Perkembangan Anak Terlambat

Setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang berbeda. Namun apa yang membuat Si Kecil dikategorikan 'terlambat'? Yuk simak panduan berikut ini agar Anda juga tidak terlalu santai sampai terlambat dan tidak pula panik berlebihan padahal Si Kecil normal.


4 Faktor Perkembangan Anak

Dalam tahap tumbuh kembang, ada empat faktor perkembangan yang menjadi patokan apakah anak sehat atau tidak. Keempat faktor itu adalah perkembangan sosial, kecerdasan, bahasa, dan fisik. 



Setiap anak memang memiliki waktu pencapaian yang berbeda. Akan tetapi para ahli dapat memetakan rentang waktunya. Tugas Moms adalah mengecek apakah perkembangan Si Kecil sudah sesuai dengan rentang waktu yang seharusnya.

Perlu diketahui, perkembangan fisik dibagi dalam dua kategori besar, yaitu motorik halus dan motorik kasar. Motorik halus adalah kegiatan yang melibatkan tangan, jari, dan otot-otot kecil. Contoh kemampuan motorik halus adalah menulis, makan, bertepuk tangan, dan menyusun balok.

Sementara itu, motorik kasar adalah kegiatan fisik yang mengembangkan banyak otot besar, seperti otot kaki dan punggung. Kegiatan motorik kasar misalnya merangkak, berjalan, berlari, atau memanjat.

Usia 0-3 tahun adalah masa emas tumbuh kembang seorang anak. Pemantauan yang menyeluruh akan membuat masa emas itu maksimal hasilnya.

“Urutan tiap fase adalah penting sehingga tidak boleh ada bagian yang terlewatkan. Oleh sebab itu, orang tua harus peka dan rajin memantau perkembangan dan pertumbuhan anaknya,” kata Dr. Margareta Komalasari, Sp.A, dari Kemang Medical Care, Jakarta.


Tanda-Tanda Anda Mesti Waspada

Berikut adalah tanda-tanda Si Kecil mengalami keterlambatan perkembangan fisik menurut www.itsmomworld.com.

Di Usia 13 Bulan, Si Kecil:

• Belum bisa berjongkok saat bermain.

• Mengalami kesulitan memanjat dan turun dari kursi.

• Belum bisa menjumput makanan dengan jarinya.

Di Usia 15 Bulan, Si Kecil:

• Belum bisa memanjat kursi dan meraih benda di tempat tinggi.

• Tidak mampu mengangkat tubuhnya sendiri jika duduk di lantai.

• Tidak mampu memegang krayon dan mencorat-coret kertas.

Di Usia 18 Bulan, Si Kecil:

• Belum berjalan.

• Mengalami kesulitan menuruni tangga meski dituntun.

• Tidak dapat memegang krayon dengan benar dan mencorat-coret.

• Tidak dapat membuka kaus kakinya sendiri.

Di Usia 21 Bulan, Si Kecil:

• Membalik halaman buku berkertas tebal.

• Mengalami kesulitan naik atau turun tangga dengan berpegangan di susuran tangga.

• Belum bisa menendang bola walaupun sudah dicontohkan.

Di Usia 24 Bulan, Si Kecil:

• Tidak bisa mendorong mainan beroda.



• Mengalami kesulitan berlari dan memakai sendok saat makan.

• Tidak bisa menendang bola besar.

• Tidak mau mencoba berdiri dengan satu kaki.

Di Usia 30 Bulan, Si Kecil:

• Selalu meminta bantuan naik tangga karena kesulitan memindahkan kaki.

• Tidak bisa membalik halaman buku.

• Tidak bisa berdiri di satu kaki selama beberapa detik.

• Tidak bisa mengayuh sepeda roda tiganya.

Di Usia 36 Bulan, Si Kecil:

• Masih memerlukan bantuan untuk menuruni tangga karena ia kesulitan memindahkan kaki.

• Tidak bisa berdiri dengan satu kaki selama beberapa menit.

• Tidak bisa melempar benda dengan tangan di atas kepala.

• Tidak bisa mencuci tangan dan mengeringkannya sendiri.


Penyebab Keterlambatan Perkembangan Fisik Anak

Moms, ada beberapa metode skrining untuk memantau perkembangan anak. Salah satunya adalah dengan Diagram Denver II.

Biasanya dokter akan menanyakan perkembangan aspek sosial, bahasa, kecerdasan, dan fisik serta mengecek pertumbuhan Si Kecil pada sesi pemeriksaan rutin. Namun karena keterbatasan waktu, orang tua yang harus memberi informasi sebanyak-banyaknya kepada dokter.

Penyebab keterlambatan perkembangan fisik, antara lain:

• Penyakit infeksi, seperti polio dan meningitis.

• Penyakit miopati atau penyakit yang menyebabkan kelemahan otot tubuh, misalnya kejang.

• Lahir prematur sehingga berisiko tinggi mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan.

• Mengalami afiksia, yaitu kekurangan oksigen sehingga sangat mungkin otak dan otot mengalami kerusakan.

• Kurang stimulasi.


Tips untuk Moms dan Dads

• Jadilah smart parents. Carilah sumber acuan dan panduan perkembangan anak sebanyak mungkin. Jangan lupa, rajin berkonsultasi dengan dokter.

• Berikan stimulasi yang tepat. Setiap anak perlu stimulus untuk berkembang ke arah yang tepat. Cari tahu bagaimana menstimulasi Si Kecil melalui kegiatan tertentu dan alat bantu yang sesuai.

• Hidup sehat sejak dini. Perkembangan fisik juga terkait dengan gizi anak. Berikan selalu makanan terbaik bagi Si Kecil, lakukan perawatan kesehatan dengan konsultasi rutin, dan imunisasi teratur. Biasakan anak hidup sehat sejak dini dengan memberi contoh yang benar. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   bayi,   perkembangan bayi,   motorik kasar,   motorik halus,   stimulasi,   kecerdasan bayi