Home - Bayi - Perawatan Bayi / 20 Mei 2019 / Redaksi

Fimosis pada Bayi, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Moms, jika Anda memiliki anak laki-laki, perhatikan kondisi kesehatannya, terutama di bagian vital. Salah satu kelainan yang bisa dialami oleh anak laki-laki adalah fimosis.

Fimosis adalah kondisi penis di mana kulit preputium (kulit kulup penis) tidak dapat ditarik ke arah pangkal, yang mengakibatkan glans (kepala) penis dan lubang kencing tertutup kulit preputium.

Kondisi ini kadang terjadi pada bayi maupun balita yang belum disunat. Meskipun begitu, fimosis yang terjadi pada bayi dan balita masih dianggap wajar dan tidak menimbulkan masalah.



Namun, jika kondisi ini menetap hingga anak besar atau bahkan dewasa dan bisa menimbulkan masalah yang mengganggu, seperti susah buang air kecil, maka diperlukan tindakan medis untuk mengatasinya, Moms.


Penyebab Fimosis

Fimosis pada bayi merupakan kondisi bawaan dari lahir. Umumnya pelekatan ini akan terpisah secara alami, pada usia 5-7 tahun atau usia pubertas.

Sebagian kasus tidak memerlukan perawatan khusus. Namun, Anda sebaiknya hindari menarik secara paksa pelekatan antara kulup dan kepala penis, karena berisiko menimbulkan luka pada kulup bayi. 

Penyebab fimosis pada bayi baru lahir adalah tidak berkembangnya ruangan di antara kulup dan penis. Selain itu, fimosis juga dapat disebabkan oleh infeksi pada kulit depan penis dan trauma atau benturan. Fimosis yang dibiarkan akan memicu infeksi di bagian kepala penis, sehingga Si Kecil akan kesakitan saat buang air kecil.

Selain itu, fimosis juga bisa disebabkan oleh masalah medis. Kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya kelainan ini adalah diabetes. Penyakit ini membuat penderitanya mudah terkena infeksi, seperti peradangan pada kepala penis atau pada kulup dan kepala penis.


Gejala Fimosis

Umumnya, fimosis tidak menimbulkan rasa nyeri atau gejala apa pun. Namun, penderita terkadang sulit membersihkan kotoran di bawah kulup penis sehingga membuat penis rentan mengalami infeksi.



Gejala yang dapat terlihat adalah ujung penis tampak menyempit, dan kulit tidak dapat ditarik ke arah pangkal penis saat dibersihkan.

Dalam kasus infeksi yang lebih parah, gejala yang muncul dapat berupa kulit penis berwarna merah, bengkak atau nyeri. Fimosis juga akan menimbulkan kesulitan dalam buang air kecil.

Tanda lainnya juga terlihat jika urine keluar tidak lancar, anak menangis setiap buang air kecil, dan ujung penis menggembung. Hal ini dapat membuat nyeri atau penis membengkak, hingga menyebabkan peradangan pada kepala penis (balanitis).


Mengatasi dan Mencegah Fimosis

Sebagian besar kasus fimosis bukan merupakan masalah yang serius dan tidak membutuhkan pengobatan tertentu. Namun, jika kondisi ini menimbulkan gejala yang mengganggu kegiatan Si Kecil, segera bawa ia ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menilai gejala fimosis yang dialami oleh bayi, untuk memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi yang dialaminya. Kondisi fimosis pada bayi perlu diatasi dengan tepat. Langkah pengobatan yang bisa diberikan adalah:

• Mengoleskan krim pada ujung kulit kulup pada kepala penis selama beberapa waktu untuk membantu mengendurkan kulit.

• Melakukan sunat atau khitan. Ini dianggap sebagai pengobatan terbaik untuk fimosis. Meskipun demikian, Anda perlu konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter terkait tindakan ini.

Adapun untuk tindakan pencegahannya, Moms sebaiknya selalu membersihkan area vital Si Kecil secara teratur. Basuh perlahan penis bayi dengan air hangat setiap hari, pada waktu mandi. Hindari penggunaan bedak serta sabun yang mengandung bahan wangi yang bisa menyebabkan iritasi. (M&B/SW/Dok. Freepik)

 

 


RELATED ARTICLE

Ini yang Terjadi Jika Rhesus Darah Bayi Anda Negatif

Tips Menghilangkan Bau Tak Sedap di Peralatan Menyusui

Semua yang Anda Perlu Tahu Mengenai Sekolah untuk Bayi

OTHER ARTICLES

10 Cara untuk Menjadi Ayah yang lebih Baik

Efek Vakum pada Ibu Melahirkan

5 Mitos dan Fakta Mengenai Kecerdasan Newborn

Total Body Workout, Olahraga Efektif untuk Para Moms

15 Cara untuk Mencegah Speech Delay pada Anak