Mother&Baby Indonesia
Air Ketuban bisa Berubah Warna, Apa Penyebabnya?

Air Ketuban bisa Berubah Warna, Apa Penyebabnya?

Selama dalam rahim, janin berada di dalam plasenta yang berisi air ketuban. Keberadaan cairan ini pun sangat penting, karena mengandung hormon, sel sistem kekebalan tubuh, dan asupan nurtrisi. Janin pun akan menelan air ketuban tersebut untuk menjaga kestabilan jumlah volumenya dan akan dikeluarkan kembali sebagai urine maupun fesesnya sendiri. Begitu seterusnya hingga tiba waktunya ia dilahirkan.

Selain itu, air ketuban yang mendukung perkembangan dan pertumbuhan janin ini juga memiliki fungsi lainnya. Seperti membantu sistem pernapasan dan pencernaan bayi, mengontrol janin agar terus bergerak aktif, serta melindungi janin dari segala infeksi dan gangguan dari luar rahim.




Jika Berubah Warna

Air ketuban sendiri secara umum berwarna jernih, dengan sedikit warna kuning atau merah muda. Namun apabila air ketuban berubah menjadi keruh atau warnanya menjadi tidak normal, maka hal ini bisa menjadi indikasi terganggunya kondisi janin dalam kandungan.

Lalu, apa penyebab perubahan warna air ketuban?

1. Warna air ketuban keruh mungkin adalah gejala dari infeksi Chorioamnionitis yang terjadi pada plasenta. Kondisi ini dapat terjadi sebelum atau selama persalinan, dan akibatnya bayi harus segera dikeluarkan, meski dengan kelahiran prematur.

2. Apabila usia kehamilan memasuki 42 minggu, maka air ketuban juga bisa berubah menjadi keruh. Hal ini terjadi karena mekonium (feses) yang dikeluarkan bayi dalam kandungan tercampur dengan cairan.

3. Perubahan warna air ketuban bisa menjadi tanda adanya kelainan kongenital pada bayi, seperti bilirubin yang meningkat atau cairan yang bercampur dengan darah dari rahim ibu.




Berbahaya Jika…

Kondisi air ketuban yang berubah warna baru akan terdeteksi sesaat sebelum persalinan. Hal ini perlu dibicarakan dengan dokter untuk menghindari situasi berbahaya, seperti bayi yang menelan air ketuban saat proses melahirkan terjadi.

Terlebih, jika air ketuban yang tertelan berwarna hijau atau yang dikenal dengan meconium aspiration syndrome. Komplikasi ini muncul beberapa saat setelah kelahiran, dengan gejala pernapasan yang cepat, adanya sianosis (biru pada bibir dan wajah bayi), pelebaran dari dada karena penggunaan otot napas tambahan, dan sulit bernapas.

Selain itu, air ketuban yang berubah warna juga bisa menyebabkan plasenta pecah sebelum janin mencapai usia kehamilan 37 minggu. Tandanya, muncul cairan yang keluar dari area kewanitaan sang ibu. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko infeksi dan juga kelahiran prematur pada bayi.

Karenanya, sangat penting bagi Moms untuk tetap menjaga kesehatan tubuh Anda dan janin. Pastikan untuk mengonsumsi makanan dengan asupan gizi dan nutrisi yang cukup, olahraga teratur, dan menghindari stres atau rasa tertekan selama kehamilan ya, Moms. (Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   hamil,   ibu hamil,   air ketuban,   warna air ketuban,   janin