Mother&Baby Indonesia
Batuk Rejan pada Anak, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Batuk Rejan pada Anak, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Batuk rejan atau dalam istilah medis disebut dengan pertusis adalah infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan yang mudah sekali menular. Umumnya, batuk rejan dialami oleh anak-anak dan bisa berakibat fatal apabila belum mendapatkan vaksin pertusis.

Batuk rejan dapat dikenali dari rentetan batuk keras secara terus-menerus yang diawali tarikan napas panjang lewat mulut. Seseorang bisa menderita batuk rejan hingga tiga bulan lamanya, sehingga penyakit ini juga biasa disebut dengan nama batuk seratus hari.




Gejala Batuk Rejan

Bunyi batuk rejan sangat khas, seperti sesak napas pada anak-anak. Batuk rejan seringkali membuat Si Kecil yang mengalaminya merasa kesulitan bernapas, bahkan berhenti bernapas selama beberapa saat.

Umumnya gejala batuk rejan muncul 5-20 hari setelah terjadinya penularan. Ada tiga perkembangan gejala penyakit ini pada anak, yaitu:

1. Tahap awal ditandai dengan munculnya gejala-gejala ringan seperti batuk, pilek, radang tenggorokan, mata berair, dan tidak jarang disertai dengan demam. Biasanya tahap ini berlangsung selama kira-kira dua minggu. Pada tahap ini juga penderita berisiko menularkan batuk rejan ke orang di sekitarnya.

2. Tahap kedua ditandai dengan meredanya semua gejala flu, tapi batuk justru semakin parah. Pada tahap ini terjadi rentetan batuk keras secara terus-menerus yang diawali tarikan napas panjang lewat mulut. Biasanya tahap ini berlangsung selama 2-4 minggu. Usai serangan batuk, Si Kecil bisa mengalami muntah dan kelelahan.

3. Tahap ketiga merupakan tahap di mana keadaan penderita mulai membaik. Meskipun begitu, gejala batuk rejan bisa tetap ada atau malah lebih keras. Tahap ini bisa berlangsung selama 1-2 bulan, tergantung pada pengobatan yang diberikan.


Penyebab Batuk Rejan

Batuk rejan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Bakteri ini menularkan penyakit melalui udara dan dahak yang dikeluarkan oleh penderitanya. Bakteri ini kemudian masuk ke dalam tubuh, menyerang saluran napas, dan melepaskan racun yang membuat saluran napas membengkak.



Saluran napas yang membengkak akan menyebabkan penderita menarik napas dengan kuat melalui mulut karena kesulitan bernapas. Hasil tarikan napas yang kuat ini yang lalu memunculkan bunyi dengik panjang.

Reaksi lain dari tubuh saat bakteri menginfeksi dinding saluran napas adalah dengan memproduksi lendir kental, kemudian saluran pernapasan merespons untuk mencoba mengeluarkan lendir kental tersebut dengan batuk.

Batuk rejan juga mudah menyerang seorang anak yang memiliki daya tahan tubuh rendah. Sekitar 60 persen penderita batuk rejan adalah anak-anak di bawah usia 10 tahun.


Mencegah dan Menangani Batuk Rejan

Untuk melindungi Si Kecil dari serangan batuk rejan, berikan ia imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) saat ia berusia 2 bulan. Si Kecil memang tetap bisa terkena penyakit ini, tapi risikonya lebih ringan dibandingkan jika ia tidak diimunisasi.

Jika Si Kecil terinfeksi, selain memberi obat yang dianjurkan dokter, tempatkan ia di kamar yang tenang. Berikan ia makanan cair dalam porsi kecil agar mudah ditelan dan tidak memicu munculnya batuk. Kompres juga dada Si Kecil dengan air hangat atau oleskan minyak kayu putih untuk melegakan pernapasannya.


Kapan Harus ke Dokter

Si Kecil harus segera dibawa ke dokter jika kondisinya tidak membaik dalam waktu 7 hari dan terus-menerus muntah, tubuhnya membiru, tampak sangat kesulitan bernapas atau bahkan terhenti beberapa kali, dan timbul suara berdengik saat menarik napas. Kondisi tersebut juga bisa menjadi indikasi adanya komplikasi saluran pernapasan. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   penyakit anak,   penyakit balita,   batuk,   batuk rejan,   pertusis