Mother&Baby Indonesia
Moms, Ini Risiko Bayi Lahir dengan Berat Badan Besar

Moms, Ini Risiko Bayi Lahir dengan Berat Badan Besar

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah memang membuat para orang tua khawatir, namun bagaimana jika berat badan lahir Si Kccil saat lahir justru terlalu tinggi? Duh, tentunya ini juga bukan hal yang baik ya, Moms. Menurut dr. Anggia Melanie Lubis, SpOG, dari RSIA Bunda, Jakarta, umumnya bayi besar berisiko jika dilahirkan secara normal.

“Biasanya, sampai menjelang melahirkan kepala bayi belum masuk ke panggul itu tidak bisa dipaksakan,” ujar dr. Anggia. Namun jika ibunya tinggi besar dan ukuran panggulnya pun besar, maka bayi besar bisa dilahirkan secara normal, dengan kemungkinan robekan jalan lahir yang lebih besar dari biasanya. Lantas, apa saja risiko yang dimiliki oleh bayi yang lahir dengan berat badan besar? Ini penjelasannya, Moms. 




Faktor Risiko Penyebab Bayi Lahir Besar

Bayi yang lahir dengan ukuran besar tidak terjadi dengan sendirinya. Ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan bayi lahir besar, di antaranya adalah:

1. Genetis

Faktor genetis ikut menentukan berat badan bayi saat dilahirkan. Menurut dr. Anggia, faktor inilah yang paling banyak menyebabkan bayi besar. “Orang tua yang cenderung besar saat lahir, kemungkinan juga akan memiliki bayi besar,” ujarnya.

2. Diabetes

Kadar gula yang tinggi pada ibu hamil dengan diabetes (sakit gula) menyebabkan bayi tumbuh besar. Kadar gula yang tinggi ini bisa disebabkan oleh riwayat penyakit diabetes sang ibu. Diabetes juga bisa muncul hanya pada saat hamil saja, disebut dengan diabetes kehamilan (diabetes melitus gestasional/DMG), yaitu kelainan produksi hormon insulin saat hamil sehingga pengaturan tingkat gula darah memburuk.

Perlu Anda ketahui, risiko ibu hamil dengan diabetes bukan hanya melahirkan bayi besar, tetapi juga pre-eklampsia, edema (pembengkakan), kelahiran prematur, sampai pada kematian bayi di dalam kandungan.

3. Kenaikan berat badan



Ada anggapan bahwa ibu hamil membutuhkan dua porsi makanan untuk memenuhi kebutuhan kalori dua orang, yaitu si ibu dan si janin. Perlu Anda ketahui, peningkatan kebutuhan kalori selama hamil sebenarnya hanya 10-15 persen dari biasanya, lho.

Jika terlalu banyak makan, kenaikan berat badan Anda bisa melebihi batas maksimal yang dianjurkan, sehingga berisiko 4-12 kali lebih besar melahirkan bayi besar. Idealnya, pertambahan berat badan saat hamil tidak lebih dari 20 kg.


Risiko Bayi Besar

Bayi besar ternyata tidak hanya berisiko bagi Anda, tetapi juga bagi Si Kecil. Bayi yang lahir dengan berat badan berlebih berisiko:

1. Cedera. Setelah kepala berhasil melewati jalan lahir dengan selamat dalam persalinan normal, bagian bahu belum tentu. Ada kemungkinan bahu bayi tersangkut, yang dikenal dengan istilah shoulder dystocia. Kondisi tersebut bisa menyebabkan cedera pada bahu dan sekitarnya, seperti tulang leher, selubung saraf karena cedera kepala saat melewati jalan lahir, atau terjadi kesulitan bernapas begitu tali pusat dipotong.

2. Gangguan pernapasan. Umumnya, pematangan paru-paru pada bayi yang dikandung oleh ibu dengan penyakit diabetes sering terlambat. Akibatnya, saat dilahirkan, si bayi mengalami gangguan pernapasan. Ia harus segera ditolong dengan alat bantu pernapasan atau obat pematangan paru-paru.

3. Hipoglikemia. Hipoglikemia atau kadar gula darah rendah bisa dialami oleh bayi besar dengan ibu yang menderita diabetes. “Karena selama di dalam kandungan terbiasa dengan kadar gula tinggi, ketika lahir dan tali pusat dipotong, ia seperti kekurangan gula,” kata dr. Anggia. (M&B/Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   lahir,   persalinan,   berat badan bayi,   bayi besar