Home - Bayi - Perawatan Bayi / 17 April 2019 / Redaksi

Waspada Hipotermia pada Bayi, Ini Cara Mengatasinya

Meski tak sepopuler campak atau demam, hipotermia juga merupakan penyakit berbahaya dan kerap menyerang bayi baru lahir (berusia di bawah satu tahun), Moms. Karena itu, Anda perlu waspada.

Saat bayi Anda kedinginan, langkah awal yang harus dilakukan adalah memeriksa temperatur tubuhnya. Menurut artikel yang dirilis situs IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), suhu normal bayi adalah antara 36,5 hingga 37,5 derajat Celsius. Jadi jika suhu tubuh Si Kecil di bawah 36 derajat Celsius, artinya ia mengalami hipotermia.

Ketika mengalami hipotermia, anak Anda kehilangan panas tubuh sehingga suhu tubuhnya menurun secara drastis. Hilangnya panas tubuh Si Kecil lebih sering disebabkan karena sentuhan langsung dengan elemen dingin, seperti air, udara, atau tanah.



Elemen air merupakan pengantar panas yang sangat cepat. Jika tubuh bayi bersentuhan langsung dengan air biasa (titik beku 0 derajat Celsius) saja, panas tubuhnya akan hilang. Apalagi jika air tersebut bersuhu dingin, panas tubuhnya pasti lebih cepat hilang.

Elemen lain, yaitu udara dingin, juga sangat riskan terhadap kondisi suhu tubuh Si Kecil. Jika ia berinteraksi langsung dengan udara dingin atau hembusan angin kencang, maka butir-butiran udara yang terkandung di dalamnya akan dengan cepat menghilangkan lapisan tipis udara hangat yang menempel pada permukaan kulit Si Kecil.


Faktor Penyebab

Khusus pada bayi baru lahir (neonatus) berusia 0-1 bulan, hipotermia disebabkan dua faktor. Pertama adalah faktor luas permukaan tubuh dan berat badan. Apabila bayi lahir dengan luas permukaan tubuh lebih besar dan berat badan di bawah normal (di bawah 2.500 gram), maka panas tubuhnya akan cepat hilang. Alhasil risiko terkena hipotermia pun semakin besar.

Berat badan kurang akan menyebabkan semakin sedikit kadar lemak yang mampu menahan dingin. Sementara itu, permukaan tubuh yang luas menyebabkan jumlah pori-pori kulit semakin banyak tersebar. Jadi rangsangan dingin yang datang akan lebih cepat masuk ke dalam tubuh tanpa ada asupan lemak yang menetralisirnya.

Kedua, hipotermia pada bayi baru lahir juga disebabkan oleh proses evaporasi atau penguapan cairan ketuban yang menempel pada kulit sehingga menyebabkan Si Kecil basah. Sementara itu, jaringan lemak di dalam tubuh neonatus juga masih sangat sedikit sehingga panas tubuhnya lebih cepat hilang.


Deteksi Gejalanya

Hipotermia bisa dikategorikan penyakit berbahaya. Oleh sebab itu, Moms perlu mengetahui gejala-gejala utamanya, baik pada neonatus maupun bayi di atas satu bulan:

1. Pada bayi berusia di atas satu bulan, awalnya ia akan terlihat menggigil. Pada bayi neonatus, gejala awal ini sulit terdeteksi.

2. Kulit Si Kecil terlihat belang-belang merah bercampur dengan putih, serta timbul bercak-bercak putih di sekujur badannya.

3. Si Kecil terlihat diam saja, bahkan tak menangis.

4. Bagian bibir, ujung jari tangan serta kakinya, terlihat membiru.

5. Saat diraba, tangan, kaki serta telapaknya terasa sangat dingin. Untuk memastikannya, Anda bisa mengukur suhu tubuh bayi dengan termometer.




Jangan Dibiarkan

Jika gejala hipotermia dibiarkan terlalu lama, akan berpengaruh terhadap fungsi organ tubuh lainnya. Kondisi ini berpotensi menimbulkan peningkatan konsumsi oksigen, gangguan napas, gangguan keseimbangan asam basa (asidosis), menurunkan kadar gula darah (hipoglikemia), gagal ginjal, kerusakan usus, serta memperlambat pacu jantung sehingga akan mengganggu aliran darah dan oksigen ke seluruh tubuh.

Pada otak, bisa terjadi pelambatan yang akan menurunkan sistem koordinasi antar-organ tubuh serta kehilangan refleksnya. Last but not least, Si Kecil terancam kehilangan gerakan pupil dan memperlambat kerja retina matanya. Efeknya, pandangan akan semakin buram.

Untuk jangan waktu lama, hipotermia yang parah akan berujung dengan kematian. Jadi tetap waspada ya Moms.


Penanganan

Hipotermia harus ditangani dengan cepat dan tepat. Saat bayi neonatus mengalami hipotermia, biasanya dokter akan langsung memasukkannya ke dalam inkubator ditambah dengan penerangan cahaya yang cukup terang guna mengembalikan kehangatan tubuhnya.

Sedangkan hipotermia pada bayi di atas satu bulan dapat ditangani dengan beberapa langkah berikut ini:

1. Tidurkan Si Kecil di kasur dengan mengenakan pakaian tebal yang menutup seluruh bagian tubuhnya. Tutup kepalanya, dan balut dengan selimut tebal.

2. Dekatkan tempat tidurnya dengan lampu 60 watt dan dipasang berjarak sekitar 1,5 meter dari bagian atas tubuh Si Kecil.

3. Peluk dan dekap Si Kecil.

4. Jika suhu tubuh tak meningkat, segera bawa bayi Anda ke dokter agar bisa secepat mungkin dimasukkan ke dalam inkubator.

5. Apabila Si Kecil sudah memasuki tahap hipoglikemia, Anda disarankan memberi ASI sebanyak dan sesering mungkin guna menstabilkan gula darah serta asam basa darah di dalam tubuhnya.


Metode Kantung Kangguru

Metode yang biasa disebut kangaroo mothercare ini diadopsi dari cara kangguru merawat anaknya yang selalu lahir prematur. Konsep dasarnya adalah mengalirkan panas tubuh ibu ke bayi sehingga ia lebih cepat mencapai kestabilan suhu tubuh sekaligus mengatur pola pernapasan, serta menstabilkan detak jantung.

Saat melakukan metode ini, sebaiknya bayi hanya mengenakan popok dan penutup kepala saja. Biarkan dadanya terbuka agar bisa melakukan kontak langsung dengan tubuh Anda.

Lantas, Moms bisa mengenakan baju longgar sehingga bayi dan gendongannya bisa masuk. Dengan metode kantung kangguru, 90 persen panas tubuh bayi akan kembali selama 3 hingga 4 jam. Di dalam inkubator, panas bayi hanya bisa kembali 60 persen dalam periode yang sama. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)

 

 


RELATED ARTICLE

Bayi Anda Berkeringat Terus? Ini Penjelasannya, Moms

Perlukah Anak Mengikuti General Check-Up?

Waspada! Bayi Juga Bisa Kena Penyakit Gula Darah Rendah

OTHER ARTICLES

Ini Alasan Balita Terobsesi dan Suka Hal yang Sama

Lakukan Ini untuk Membangun Percaya Diri Bayi Anda!

Mengenal 4 Tipe Bayi, Manakah Tipe Si Kecil, Moms?

Yang Perlu Diperhatikan saat Balita Ikut Lomba 17-an

Anak Punya Victim Mentality? Begini Mengatasinya, Moms