Home - Kehamilan & Persalinan - Persalinan / 11 April 2019 / Redaksi

Perlu Diwaspadai, Pendarahan saat Melahirkan

Saat memasuki proses persalinan, adalah hal yang wajar jika sang ibu mengalami pendarahan. Hal ini terjadi ketika fase keluarnya plasenta yang menempel pada dinding rahim dari dalam tubuh. Namun, pendarahan tersebut akan tergolong berat jika rahim tidak mampu berkontraksi dengan baik.

Kondisi ini pun dapat mengakibatkan sang ibu kehilangan nyawa. Pendarahan berat saat melahirkan ini tentunya membutuhkan tindakan cepat. Bahkan, tindakan pembedahan seperti pengangkatan rahim juga bisa dilakukan untuk mencegah terjadi hal yang tidak diinginkan.

Ada beberapa hal yang menjadi pemicu terjadinya pendarahan berat ketika bersalin, seperti usia ibu yang terlalu muda atau tua saat melahirkan, jarak kelahiran anak yang kurang dari 2 tahun, kondisi kesehatan ibu karena penyakit kronis, ibu kekurangan gizi, hingga gangguan saat kontraksi otot rahim terjadi.



Pencegahan pun dapat dilakukan, namun disesuaikan dengan penyebab terjadinya pendaharan agar tepat penanganannya.


Apa Penyebabnya?

Ketika pendarahan berat terjadi saat proses persalinan, beberapa kondisi ini menjadi penyebab utama yang perlu Anda waspadai:

1. Atonia uteri

Kondisi yang paling umum terjadi sebagai penyebab pendarahan hebat adalah atonia uteri. Hal ini terjadi karena kontraksi rahim kurang atau sama sekali tidak terjadi, dan menyebabkan pendarahan menjadi sulit berhenti. Hal yang memicu kondisi ini di antaranya karena kehamilan kembar, makrosomia (bayi besar), cairan ketuban terlalu banyak (polihidramnion), kelainan janin, kelainan struktur rahim, dan sebagainya. Lamanya durasi selama proses persalinan pun menjadi salah satu penyebab lainnya.



2. Plasenta previa

Plasenta previa merupakan kondisi saat plasenta menutupi jalan lahir. Hal tersebut mengakibatkan pembuluh darah di rahim belum tertutup dengan benar, sehingga membuat Anda mengalami pendarahan hebat. Plasenta previa kemungkinan terjadi saat Anda melahirkan di usia kandungan kurang dari 24 minggu atau kelahiran prematur. Dokter pun akan menyarankan untuk dilakukan operasi caesar agar risiko pendarahan berkurang.

3. Solusio plasenta

Ini merupakan kondisi di mana plasenta terlepas sebelum proses melahirkan terjadi. Tindakan pembedahan pun perlu segera dilakukan apabila pendarahan hebat terjadi. Kondisi ini juga dapat mengurangi nutrisi dan asupan oksigen sehingga bisa menyebabkan kematian pada janin. Komplikasi pun kemungkinan bisa terjadi pada sang ibu, seperti mengalami gangguan pembekuan darah dan syok akibat kehilangan darah.


Lantas apalagi kondisi yang menyebabkan terjadinya pendarahan berat saat proses persalinan? Dan bagaimana mencegahnya? Moms bisa baca penjelasannya lebih lengkap di Majalah Mother&Baby Indonesia edisi April 2019. Dapatkan segera majalahnya dan jangan sampai kehabisan ya, Moms! (Vonia Lucky/ND/SW/Dok. M&B Pictures Library)

 

 


RELATED ARTICLE

7 Fakta di Balik Rasa Khawatir Ibu Hadapi Persalinan

Tips Rileks saat Melahirkan dan Siap Melakukan IMD

6 Trik Mudah untuk Lancarkan Kontraksi saat Persalinan

OTHER ARTICLES

Optimalkan Perkembangan Anak dengan Mainan Musik

Apakah Tendangan dan Gerakan Janin Pertanda Ia Sehat?

Efek Pola Asuh Moms terhadap Jagoan Ciliknya

6 Ketakutan yang Ibu Rasakan Menjelang Persalinan

Bayi Pertama di Amerika Lahir dari Transplantasi Rahim