Mother&Baby Indonesia
9 Hal Perlu Dibicarakan dengan Suami Sebelum Melahirkan

9 Hal Perlu Dibicarakan dengan Suami Sebelum Melahirkan

Ada banyak hal yang akan berubah setelah kelahiran bayi. Perubahan ini dapat membuat hubungan Anda dan suami lebih hangat atau merenggang karena rencana yang belum matang. Menurut psikolog Dr. Sandra Wheatley dari Australia, tantangan terbesar yang dihadapi orang tua baru adalah menemukan bahwa ekspektasi dan kenyataan seringkali tidak sesuai.

Lebih jauh, ia mengatakan bahwa setiap pasangan perlu duduk bersama untuk berdiskusi mengenai harapan dan keinginan masing-masing, serta harapan pada pasangannya. Namun, mencoba membicarakan hal ini pasca kelahiran bayi, saat kondisi Anda menurun dan kondisi emosional tidak stabil, hanya akan membuat situasi memburuk. Untuk itu, ada 9 hal yang perlu Anda bicarakan dengan suami sebelum Si Kecil hadir di rumah Anda.




1. Tentang Keuangan

Bertambahnya jumlah penghuni rumah sudah pasti akan membuat anggaran pengeluaran meningkat. Sejak berencana untuk hamil, sebaiknya Anda telah menentukan anggaran untuk si calon bayi, mulai dari biaya kelahiran, perlengkapan bayi, sampai kemungkinan apakah Anda memerlukan jasa seorang pengasuh. Rundingkan dengan suami tentang pembagian keuangan Anda berdua, atau pengaturan keuangan bersama seandainya Anda memutuskan untuk berhenti bekerja setelah Si Kecil lahir.


2. Tentang Rencana Kehamilan

Biasanya, para suami hanya tahu bahwa Anda akan melahirkan dengan dua alternatif, normal atau operasi. Mereka sulit membayangkan proses melahirkan dan sebesar apa rasa sakitnya. Maka, akan lebih baik jika suami mengetahui keinginan Anda terhadap proses persalinan nanti.

Ajak ia terlibat lebih banyak dengan ikut menemani Anda kontrol ke dokter sesering mungkin, atau menghadiri kelas antenatal dan kelas yoga yang sedang Anda ikuti. Ini akan membantunya mengetahui lebih jauh tentang perkembangan kehamilan Anda dan calon anaknya, juga memberinya lebih banyak kesempatan untuk bertanya mengenai hal-hal yang perlu ia ketahui tentang kehamilan Anda.


3. Tentang Pendamping di Ruang Bersalin

Siapa yang Anda inginkan untuk menemani Anda di ruang bersalin? Apakah hanya suami? Atau apakah Anda juga ingin ibu atau kerabat Anda ikut? Jika Anda ingin suami yang menemani Anda, apa yang Anda ingin lakukan?

Beberapa calon ibu menginginkan suami mereka diam dan berada di sebelah mereka, tapi ada juga yang ingin suami mereka merekam seluruh proses persalinan dengan kamera atau video. Ada juga calon ayah yang merasa tidak ingin hadir di ruang bersalin karena alasan tertentu. Bicarakan hal ini lebih lanjut dengan suami, agar Anda dapat melalui proses persalinan dengan tenang.


4. Tentang Penjenguk Pasca-Persalinan

Saat Anda merasa sangat kelelahan karena baru saja melewati masa-masa sulit dan menegangkan di ruang bersalin, Anda mungkin perlu waktu bersama diri sendiri. Keriuahan anggota keluarga lain yang bersuka ria atas kelahiran si bayi bisa jadi mengganggu mood Anda. Mereka mungkin berniat baik, tapi jika mood Anda sedang tidak stabil, bisa-bisa suasana ceria malah akan jadi berantakan.

Ada baiknya Anda bicarakan dengan suami mengenai penjenguk yang akan datang pasca persalinan. Ia dapat membantu Anda menyampaikan kepada keluarga dan teman-teman, bahwa Anda membutuhkan waktu beberapa hari untuk pulih sebelum bertemu mereka.




5. Tentang Keluarga Anda dan Suami

Saat Si Kecil lahir, keluarga Anda dan suami akan menjadi bagian terbesar dari hidup Anda selain keluarga baru Anda sendiri. Jika kedua keluarga besar itu mempunyai tradisi atau kebiasan yang jaug berbeda, Anda perlu berdiskusi dengan suami, mana yang akan Anda terapkan pada keluarga baru Anda.


6. Tentang Agama

Biasanya, di Indonesia, anak akan mengikuti agama yang dianut orang tuanya. Ia akan diajari dan dididik berdasarkan agama dan kepercayaan orang tuanya itu. Namun, jika Anda dan suami cukup demokratis dan mengutamakan kebebasan kepada anak, termasuk urusan agama yang akan dianutnya nanti, Anda boleh membebaskan Si Kecil memilih agamanya saat ia dewasa. Ini sangat penting, khususnya jika Anda mempunyai agama yang berbeda dengan suami. Diskusikan bersama suami bagaimana Anda berdua akan mengajari Si Kecil tentang agama.


7. Tentang Pembagian Tugas Rumah Tangga

Sejak Si Kecil hadir di rumah, mungkin pekerjaan rumah Anda memang jadi bertambah. Bangun tengah malam untuk menyusui atau mengganti popok seperti tidak henti-hentinya Anda lakukan. Tidak hanya itu, kegiatan rutin lain Anda pun bertambah, seperti memasak dan mencuci.

Kesibukan yang menggunung bukan tidak mungkin menjadi pemicu pertengkaran antara Anda dan suami, seandainya tidak ada kesepakatan mengenai pembagian tugas di rumah. Tidak ada salahnya jika suami menggantikan peran Anda di hari libur karena Anda sudah banyak bekerja sepanjang minggu.


8. Tentang Kewajiban Mengurus Si Kecil

Seperti pembagian tugas rumah tangga, Anda juga perlu berbagi tugas menjaga Si Kecil dengan suami. Tak ada salahnya Anda mengatakan bahwa Anda ingin ia menggantikan Anda mengurus Si Kecil selama Anda pergi ke gym atau saat bertemu teman-teman Anda di luar rumah. Tapi jika Anda senang pergi keluar rumah berdua, Anda harus memikirkan untuk mempekerjakan seorang pengasuh, jika tidak mungkin menitipkan Si Kecil pada keluarga terdekat.


9. Tentang Pekerjaan

Pertimbangan mengenai apakah Anda akan kembali bekerja setelah mempunyai anak sebaiknya sudah disepakati bersama sejak sebelum menikah, agar tidak terjadi salah paham yang dapat memicu pertengkaran di kemudian hari. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: keluarga,   perencanaan keluarga,   diskusi keluarga,   kelahiran anak,   persalinan,   rencana keluarga








Related Article