Mother&Baby Indonesia
Benarkah Imunisasi Berbahaya bagi Tubuh Anak?

Benarkah Imunisasi Berbahaya bagi Tubuh Anak?

Kesehatan Si Kecil tentu menjadi salah satu prioritas Anda sebagai orang tua. Berbagai cara dilakukan untuk menjaga agar kesehatan Si Kecil tetap optimal, salah satunya dengan memberikan imunisasi sejak dini. Tapi, kini semakin banyak bermunculan informasi yang menyatakan bahwa imunisasi malah berbahaya bagi kesehatan. Lalu, apakah informasi ini benar?


Tameng Terhadap Penyakit

Pada Konferensi Pers “Imunisasi Lengkap dan Nutrisi Tepat Untuk Mendukung Indonesia Sehat” yang diselenggarakan oleh IDAI dan Nestle 22 April lalu, Prof. DR. Dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, selaku Satuan Tugas Imunisasi IDAI, membantah dengan tegas hal tersebut.



“Imunisasi berperan penting untuk melindungi bayi dan anak dari berbagai penyakit, karena dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan anak sehingga mampu melawan penyakit-penyakit menular yang berbahaya,” jelas dr. Soedjatmiko.

Ibaratnya, imunisasi atau vaksin adalah bahan bakar tubuh untuk membuat tameng terhadap penyakit. Vaksin mampu membentuk zat kekebalan tubuh yang spesifik dalam kadar yang tinggi, sehingga mampu menangkis infeksi penyakit tertentu dengan maksimal. “Kalau imunisasi atau vaksin berbahaya, mengapa seluruh negara menggunakannya? Ini bukan lain karena vaksin sudah terbukti aman,” timpal dr. Soedjatmiko.

Menurut dr. Soedjatmiko, penggunaan imunisasi di Indonesia belum maksimal. “Bertahun-tahun sejak Indonesia merdeka, cakupan imunisasi di Indonesia belum tercapai sesuai harapan,” tutur dr. Soedjatmiko. Padahal, imunisasi yang tidak lengkap atau bahkan yang tidak diambil sama sekali dapat menyebabkan masalah serius, seperti mudahnya tertular terhadap penyakit, sakit berat, cacat tubuh permanen, bahkan meninggal.

Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, telah terjadi beberapa kali kasus wabah penyakit di Indonesia yang disebabkan oleh imunisasi yang tidak lengkap ataupun tidak diambil. Sebagai contoh, wabah polio pada tahun 2005 hingga 2006 menjalar dari Sukabumi hingga Sumatera Utara menyebabkan 351 balita lumpuh seumur hidup. Selain itu, terdapat 57.056 kasus campak dan rubela pada periode tahun 2014 hingga 2018. Wabah ini menyebabkan 2.853 anak menderita radang paru, 5.706 anak diare, dan 571 anak menderita radang otak, cacat, atau meninggal.


Informasi yang Salah

Menurut dr. Soedjatmiko, rendahnya cakupan imunisasi di Indonesia disebabkan oleh  rasa ragu masyarakat terhadap imunisasi. Beberapa faktor yang memengaruhi keraguan tersebut antara lain kurangnya pengetahuan tentang bahaya penyakit, kurangnya pengetahuan tentang manfaat imunisasi, serta maraknya hoax dengan sentimen anti-vaksin.



“Padahal hoax yang selama ini menyebar berisi informasi yang salah tentang imunisasi atau vaksin,” kata dr. Soedjatmiko. Hal ini perlu dibenahi.

Contoh hoax yang populer adalah vaksin dapat menyebabkan autisme. “Hal ini salah besar!” tutur dr. Soedjatmiko. Menurut beberapa penelitian terakhir, autisme tidak berkolerasi dengan vaksin. Autisme dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor genetik dan faktor lingkungan, bukan karena vaksin.

“Orang-orang yang menganggap vaksin MMR menyebabkan autisme pasti mengutip penelitian dr. Wakefield, padahal beberapa bagian penelitiannya terbukti tidak benar dan ia tertangkap basah memalsukan riwayat pasiennya. Bahkan izin praktek beliau sudah dicabut,” kata dr. Soedjatmiko.

Hal sesat lain yang umum diketahui adalah vaksin mengandung merkuri, sehingga berbahaya dan beracun bagi tubuh manusia. Ini juga dibantah oleh dr. Soedjatmiko. “Memang benar ada vaksin yang mengandung merkuri, tapi yang dipakai adalah jenis merkuri yang tidak berbahaya,” katanya. Layaknya ada beberapa jenis air yang berbahaya dan bermanfaat, terdapat pula jenis merkuri yang aman bagi tubuh. Contohnya, etil merkuri yang dikandung dalam vaksin. Selain itu, kadar etil merkuri dalam vaksin sangat rendah dan sesuai dengan ketentuan internasional.

Vaksin yang diberikan lebih dari sekali juga tidak akan menyebabkan racun dalam tubuh. "Ya dampaknya hanya reaksi penyesuaian tubuh yang bertambah saja, seperti demam yang lebih lama, tapi tidak menjadi racun dalam tubuh," tutur dr. Soedjatmiko. Menurutnya, lebih baik berlebih daripada tidak sama sekali.

Informasi penting lain yang harus diketahui adalah imunisasi perlu dilengkapi demi kekebalan tubuh optimal. Maka dari itu, dr. Soedjatmiko merekomendasikan agar vaksin dilengkapi secara periodik hingga Si Kecil menginjak remaja. "Yang penting harus dipenuhi adalah program vaksinasi dari pemerintah, yaitu imunisasi. Selain murah, bahkan gratis, karena disediakan dan disubsidi pemerintah, produk vaksin juga sangat terjamin karena buatan lokal. Kalau perlu, lengkapi hingga ia remaja agar tubuh sehat maksimal," kata dr. Soedjatmiko.

Nah, sekarang jangan ragu untuk memberikan imunisasi pada Si Kecil ya, Moms! (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)



Tags: imunisasi,   vaksin,   bahaya,   vaksin berbahaya,   vaksin beracun,   bahaya vaksin,   bahaya imunisasi,   autis








Cover Januari - Februari 2020