Mother&Baby Indonesia
Kenali Preeklampsia, Penyakit Darah Tinggi saat Hamil

Kenali Preeklampsia, Penyakit Darah Tinggi saat Hamil

Saat hamil, ada banyak hal yang bisa terjadi dan dapat mengganggu proses kehamilan. Salah satunya adalah preeklampsia, penyakit darah tinggi yang tiba-tiba muncul saat masih hamil, saat melahirkan, atau tidak lama setelah melahirkan. Serangan ini dapat mengakibatkan bayi dan ibu mati lemas kekurangan napas.




Penyebab Preeklampsia

Preeklampsia menjadi salah satu komplikasi yang cukup serius dan sering terjadi pada masa kehamilan. Jika tidak terdeteksi dan tidak diobati, ibu hamil dapat mengalami berbagai masalah kesehatan. Penyebabnya sendiri beragam, seperti:

• Hamil pertama kali.

• Ada riwayat penderita preeklampsia dalam keluarga.

• Kelebihan berat badan.

• Mengandung saat usia di atas 40 tahun atau di bawah 20 tahun.



• Berjarak 10 tahun dari kehamilan sebelumnya.

• Tekanan darah tinggi, penderita diabetes, atau ginjal bermasalah.

• Mengandung bayi kembar dua atau lebih.

Preeklampsia biasanya terjadi karena proses implantasi yang tidak sempurna di awal kehamilan. Umumnya pembuluh darah yang terbentuk menyempit hingga muncul racun pada darah. Hal ini pun diperjelas oleh dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG, dari RS Omni Medical Center, Jakarta Timur.

“Pada kehamilan normal, pembuluh darah akan mengendur. Sedangkan pada penderita preeklampsia, pembuluh darah justru menegang hingga aliran darah berkurang. Menegangnya pembuluh darah ini dapat mengancam jiwa sang bayi karena dikhawatirkan bayi akan kekurangan pasokan darah dari ibunya hingga pertumbuhannya terganggu. Hal ini menyebabkan bayi harus segera dilahirkan jika serangan sangat parah,” ujarnya.


Mencegah dan Menangani Preeklampsia

Pencegahan preeklampsia sejak dini bisa Moms lakukan dengan mengonsumsi vitamin C dan E. Studi di Inggris menjumpai bahwa mengonsumsi vitamin C dan E di separuh usia kehamilan dapat membantu masalah preeklampsia. Menurut riset tersebut, wanita dengan risiko tinggi yang mengonsumsi vitamin tersebut, menurunkan kemungkinan mengalami preeklampsia hingga 75 persen.

Namun, apabila kondisi ini telah terjadi, cara pengobatan yang dilakukan adalah dengan menerima suntikan magnesium sulphate yang akan menghentikan serangan tersebut. Banyak wanita yang akhirnya dapat sembuh total dari serangan eklampsia, tapi untuk kasus-kasus yang parah, eklampsia dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.

Pada Moms yang preeklampsianya masih tergolong ringan, dokter akan menganjurkan untuk mengurangi aktivitas harian dan sebaiknya lebih banyak beristirahat. Selain itu, Moms perlu juga melakukan kontrol rutin untuk mengevaluasi kesehatan janin dengan menggunakan USG dan monitor denyut jantung.

Namun, bila preeklampsia ringan terjadi setelah usia 37 minggu dan mulut rahim sudah melebar, dokter bisa merekomendasikan untuk menginduksi persalinan. Induksi ini kerap bisa mencegah terjadinya komplikasi, seperti kejang-kejang hingga stroke.

Dan untuk Moms yang mengalami preeklampsia berat setelah usia kehamilan 34 minggu, biasanya akan direkomendasikan untuk dilakukan induksi persalinan oleh dokter. Tetapi, Moms yang mengalami preeklampsia berat sebelum usia kehamilan 34 minggu, memerlukan rawat inap. Tujuannya, untuk mengurangi risiko komplikasi kesehatan serius dari prematuritas. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: kehamilan,   persalinan,   preeklampsia,   ibu hamil,   penyakit hamil,   gangguan kehamilan