Mother&Baby Indonesia
Perkembangan Emosi Bayi di 2 Tahun Awal Kehidupannya

Perkembangan Emosi Bayi di 2 Tahun Awal Kehidupannya

Moms, bayi mungil Anda akan tak terasa tumbuh menjadi balita yang aktif. Perkembangan Si Kecil ini tidak hanya terbatas pada fisik semata, tetapi juga emosinya. Agar bisa memahami emosinya dengan baik, berikut ini perkembangan emosi Si Kecil mulai dari bayi hingga usia 2 tahun yang perlu Anda ketahui, Moms.


0-1 Tahun

Di awal kehidupannya, bayi akan merasa tenang ketika digendong. Ini karena dekapan Anda mampu memberikan rasa aman dan nyaman untuknya, yang juga penting bagi perkembangan emosinya.



Beberapa bulan setelah lahir, emosi bayi pun mulai terlihat, yaitu melalui ekspresi wajahnya. Emosi yang terlihat beberapa bulan setelah kelahiran ini disebut dengan emosi dasar, yaitu senang, marah, sedih, dan takut. Tahapan perkembangan emosi ini pun berlanjut dengan munculnya social smile yang ia berikan ketika melihat wajah manusia, terutama yang ia kenal.

Kemudian, di usia sekitar 4 bulan, bayi mulai bisa menunjukkan rasa marah. Emosi marah yang muncul biasanya menunjukkan kondisi bayi yang sedang dalam keadaan tertekan. Oleh karena itu, diperlukan respons yang tepat dari Anda untuk mengajari bayi mengelola amarah.

Emosi sedih biasanya muncul di usia 6 bulan, yang merupakan respons terhadap perpisahan dengan Anda atau orang yang dekat dengannya. Rasa takut biasanya muncul belakangan. Emosi ini berfungsi untuk melindungi bayi dari bahaya. Bersamaan dengan munculnya emosi ini, biasanya muncul juga kecemasan terhadap orang asing yang disebut dengan stranger anxiety. Di usia 7-10 bulan, bayi mulai bisa mengenali emosi orang lain.




2 Tahun

Sepanjang tahun keduanya, Si Kecil akan mulai mengembangkan kemandiriannya. Dengan sudah bisa berjalan dan melakukan banyak aktivitas fisik sendiri, ia akan mencoba melakukan banyak hal tanpa bantuan Anda. Namun ia belum sepenuhnya bisa mandiri dan masih tergantung kepada Anda, terutama ketika sedang lelah, sakit, atau takut. Ia ingin Anda menenangkannya dan membuatnya nyaman.

Yang menarik, Anda tak pernah bisa menebak kapan ia sedang ingin mandiri dan kapan ia ingin tergantung kepada Anda. Suatu waktu, ia bisa terlihat baik-baik saja ketika Anda tinggal kerja, namun di lain hari, ia akan menangis keras. Beberapa orang menyebutkan masa ini sebagai first adolescence, di mana Si Kecil mengalami dilema antara menjadi mandiri dan terus bergantung pada Anda.

Fase ini sangatlah normal. Para ahli parenting menyarankan bahwa satu-satunya cara agar ia bisa melewati fase ini dengan baik adalah dengan memberikannya perhatian dan kasih sayang yang ia butuhkan. Jika ia sedang ingin bermanja dengan Anda, ya berikan ia perhatian yang dibutuhkan.

Anda bisa melatih kemandirian Si Kecil di usia ini dengan memberikan waktu untuk melakukan sesuatu sendiri. Anda pun bisa 'meninggalkannya' sementara waktu bersama orang lain yang dipercaya. Ia mungkin akan menangis dan rewel ketika pertama kali Anda pergi. Namun, lama-kelamaan ia akan terbiasa.

Bahkan dalam banyak kasus, biasanya, Anda akan menjadi lebih sedih dibandingkan Si Kecil ketika harus 'meninggalkannya'. Namun sebaiknya jangan tunjukkan ini di depannya. Biarkan ia belajar mandiri. Sebaiknya juga, Anda tidak pergi dengan diam-diam, karena hal ini akan membuatnya lebih manja karena ia tak tahu kapan Anda akan 'menghilang'. Pergilah dengan memberikan ciuman dan pelukan serta berkata kepadanya Anda akan kembali. Dan ketika Anda kembali, berikan perhatian penuh kepadanya. Hal ini menunjukkan kepada Si Kecil bahwa meskipun Anda pergi, Anda tetap mencintainya. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   bayi,   perkembangan emosi anak,   perkembangan emosi anak








Related Article