Mother&Baby Indonesia
Jika Anak Terkena Rabies dan Cara Mengatasinya

Jika Anak Terkena Rabies dan Cara Mengatasinya

Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies, yang menular ke manusia melalui gigitan atau jilatan hewan yang terinfeksi pada luka yang terbuka. Hewan yang mungkin memiliki virus ini antara lain adalah anjing, kucing, dan kelelawar. Virus ini memiliki masa inkubasi 5 hari hingga lebih dari 1 tahun. Rata-rata masa inkubasi adalah 2 bulan. Begitu tubuh terinfeksi, tanda-tanda sakit akan muncul dalam waktu 2 minggu.


Gejala Rabies pada Anak

Anak mungkin terserang virus rabies, jika ia mengalami gejala-gejala berikut ini, Moms.

1. Nyeri di sekitar luka gigitan, terasa terbakar, gatal, dan rasa dingin di sekitar luka.



2. Demam ringan sekitar 38,3-38,9 derajat Celsius.

3. Tubuh melemah, sakit kepala, tenggorokan kering, batuk ringan, rewel, menjadi sensitif terhadap cahaya dan suara, pupil mata melebar, detak jantung meningkat, napas pendek, berliur berlebihan, mata berair, dan berkeringat.

4. Dalam waktu 2-10 hari kemudian, ia akan semakin gelisah, lemas, otot wajah melemah, dan penglihatan bermasalah. Demam pun akan meningkat hingga 39,4 derajat Celsius, memuntahkan air minum, berliur berlebihan, dan takut terkena air.

5. Dalam waktu sekitar 3 hari, jika virus sudah menyebar, penderita akan mengalami kelumpuhan pada seluruh tubuh.




Cara Mengobati Rabies

Jika anak digigit binatang terduga rabies, segera bawa Si Kecil ke dokter. Jika hewan yang menggigit tidak ditemukan, maka penderita akan segera mendapat perawatan anti-rabies melalui suntikan human rabies immune globulin (HRIG) dan human diploid cell vaccine (HDCV).

Biasanya, dokter juga akan memberikan suntikan anti-tetanus. Jika kondisi dinilai parah, maka penderita harus dirawat di rumah sakit.


Cara Mencegah Rabies

Jika Moms memiliki hewan peliharaan yang berpotensi rabies, maka Anda harus rutin memberi suntikan anti-rabies setahun sekali. Ajarkan anak cara menghadapi binatang liar dengan tidak mengganggu mereka. Awasi juga anak kala sedang beraktivitas di luar ruangan. Laporkan juga ke petugas terkait untuk mengendalikan populasi hewan liar.

Ingat, hampir sebagian besar kasus rabies berakhir dengan kematian. Faktor risiko tersebut tetap mungkin terjadi, walau pasien telah diobati dengan baik. Mencegah rabies tentu lebih baik dari mengobatinya ya, Moms. (M&B/Tiffany Warrantyasri/SW/Dok. Freepik)



Tags: rabies,   penyakit,   infeksi,   anak,   balita










Cover April 2020