Home - Kehamilan & Persalinan - Panduan Ibu Baru / 15 Februari 2019 / Redaksi

7 Aturan Diet Sehat untuk Ibu Menyusui

Tantangan bagi para Moms memang tidak sederhana. Setelah hamil dan melahirkan, Moms juga dituntut untuk bisa menyusui dan mengurus Si Kecil. Beragam masalah pun timbul. Padahal seorang ibu juga ingin tampil langsing dan cantik, namun tetap sehat dengan cara-cara sederhana dan praktis.

Ya Moms, perubahan tubuh yang menjadi lebih berisi setelah melahirkan kadang bisa membuat Moms merasa tidak percaya diri. Tidak sedikit Moms yang bahkan langsung memutuskan untuk diet ketat mengurangi porsi makan pasca melahirkan. Bahkan, sampai mengabaikan nutrisi yang masih dibutuhkan selama masa menyusui. Padahal, selain untuk diri sendiri, Anda harus benar-benar memperhatikan pola dan menu makan sehari-hari untuk Si Kecil yang ‘bergantung’ pada ASI yang tentunya membutuhkan nutrisi prima setiap saat.

Bukan berarti Moms dilarang untuk menurunkan berat badan pasca melahirkan, lho. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika Anda melakukan diet saat masih menyusui, yaitu:



 

1. Jangan terburu-buru melakukan diet setelah persalinan

Jika Anda langsung melakukannya di masa ini, masa pemulihan Anda akan menjadi lebih lama dan Anda pun akan merasa lebih lelah. Lakukan diet paling cepat ketika Si Kecil sudah berusia 6 bulan. Tak hanya memerlukan energi untuk membantu pemulihan pasca melahirkan, di 6 bulan pertama ASI adalah satu-satunya asupan bayi sehingga kualitas dan kuantitasnya menjadi kunci pertumbuhan bayi.

 

2. Hindari diet ketat sampai mengalami penurunan berat badan yang drastis

Penurunan asupan kalori yang dilakukan secara drastis dan tiba-tiba bisa membuat tubuh Anda menganggap hal ini sebagai kelaparan. Akibatnya, tubuh merespon hal tersebut dengan menurunkan jumlah produksi ASI Anda. Setidaknya, Anda hanya mengalami penurunan berat badan maksimal sebanyak 450 gram per minggu dan tidak lebih dari ini. 

 

3. Pilih variasi makanan agar kualitas ASI tetap terjaga

Tetap konsumsi karbohidrat seperti nasi merah yang kaya serat sebagai sumber energi utama. Untuk protein, telur, daging tanpa lemak, ikan, tahu, tempe, dan susu rendah adalah pilihan terbaik. Pilih lemak ‘baik’ seperti kacang-kacangan, biji-bijian, atau minyak zaitun. Untuk memotong kalori, Anda bisa mengganti kebiasaan mengonsumsi makanan yang digoreng dengan direbus atau dikukus.

 



4. Makan sering dengan porsi kecil

Cara ini dapat membantu untuk mencegah Moms makan kudapan yang mengandung kalori tinggi. Kalau pun Anda masih ingin mengudap, ganti kudapan Anda dengan buah-buahan segar.

 

5. Cukupi asupan air minum Anda setiap hari untuk menjaga hidrasi tubuh

Terlebih, komposisi ASI yang Anda hasilkan 88 persennya terdiri dari air. Jadi, mengonsumsi air putih selama menyusui sekitar 11 gelas sehari itu wajib hukumnya. 

 

6. Susui bayi sesering mungkin

Cara ini adalah cara alami yang terbukti membantu penurunan berat badan dengan stabil. Berdasarkan hasil studi, setiap ons cairan ASI yang keluar dari payudara mengeluarkan 20 kalori, dan rata-rata bayi mengonsumsi 25 ons ASI setiap hari selama 6 bulan pertama sejak lahir. Artinya, ibu menyusui membakar kurang lebih 500 kalori per hari hanya dengan menyusui.

 

7. Olahraga secara teratur

Tentu saja Moms, diet apa pun tidak akan bisa berhasil jika tidak dibarengi dengan olahraga yang cukup. Olahraga tidak hanya mampu membantu mengencangkan kembali otot-otot dan memadatkan massa tulang, tapi juga membuat badan Anda agar lebih segar dan sehat. Jika Moms tidak punya banyak waktu, gendong dan ajaklah bayi Anda jogging di sekitar rumah. Berat badannya bisa menjadi beban ekstra untuk membakar kalori lho, Moms! (Nanda Djohan/SW/Dok. Freepik)

 

 


RELATED ARTICLE

7 Kesulitan yang Dialami Ibu saat Menyusui

5 Tips Menggunakan Breast Pump untuk Ibu Menyusui

Ini Fungsi Prolaktin dan Oksitosin Untuk Kelancaran ASI

OTHER ARTICLES

Moms, Ini Cara Membuat Anak Menjadi Si Happy Eater

Postnatal Anxiety, Takut Berlebih Ibu Baru pada Bayinya

Saat Anak Tidak Mau Lepas dari Ibunya, Mesti Bagaimana?

Manfaat Corat-Coret untuk Perkembangan Anak

Bagaimana Mengatasi Perbedaan Pandangan soal Anak?