Mother&Baby Indonesia
Waspada Alergi pada Anak dengan Deteksi Sejak Dini

Waspada Alergi pada Anak dengan Deteksi Sejak Dini

Alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap pemicu alergi atau alergen. Sistem kekebalan kemudian salah mengartikan alergen sebagai bahaya, sehingga langsung melepaskan zat histamin untuk memberikan perlawanan.

Reaksi histamin akan menimbulkan beberapa gejala, seperti hidung tersumbat, bersin, gatal-gatal, iritasi kulit, sesak napas, muntah, diare, serta batuk. Gejala-gejalanya bisa berat, ringan, atau datang sewaktu-waktu, tergantung pada masing-masing individu dan seberapa konstan tubuh melakukan kontak dengan alergen.

Beberapa hal yang dapat memicu alergi pada seseorang cukup beragam. Mulai dari makanan seperti makanan laut, kacang, tomat, telur, hingga olahan susu sapi. Mungkin juga dari obat-obatan, asap, debu, serangga, serbuk sari, maupun bulu binatang.



Alergi sebagian besar disebabkan oleh genetik atau keturunan. Sebagai contoh, jika salah satu orang tua menderita alergi, maka 40-50 persen anak akan mengalami alergi pula. Persentasenya pun akan meningkat menjadi 75-80 persen jika kedua orang tua memiliki alergi. Kendati demikian, alergi yang dialami anak tidak selalu sama dengan orang tua.


Deteksi Alergi

Untuk mendeteksi alergi suatu hal pada tubuh Si Kecil, bisa dilihat dari seberapa sering ia terpapar alergen. Biasanya alergi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkembang dan memunculkan gejala-gejalanya. Jika Si Kecil alergi terhadap bulu kucing, ia kemungkinan akan terlihat baik-baik saja ketika bermain dengan kucing. Namun suatu hari ketika tingkat paparan alergennya sudah di ambang batas, tubuhnya baru akan menunjukkan tanda-tanda reaksi alergi.

Dr. Herbowo AF Soetomenggolo, SpA (K) dari RS Hermina Jatinegara, Jakarta, menyarankan agar orang tua mulai berhati-hati jika salah satu dari mereka atau kedua-duanya menderita alergi. Cermati kondisi tubuh Si Kecil ketika terserang alergi, karena gejala alergi dapat hilang timbul pada waktu-waktu tertentu.




Pencegahan Segera

Moms bisa konsultasikan kepada dokter untuk mengetahui alergi yang dialami Si Kecil. Nantinya akan dilakukan tes darah dan juga tes kulit untuk mendeteksi alergi yang dialami anak. Pada saat tes kulit dilakukan, tim medis akan memaparkan alergen dan melihat reaksi dari kulit anak Anda yang tampak seperti bekas gigitan nyamuk pada kulitnya.

Hingga saat ini, dr. Herbowo menyatakan bahwa terapi terbaik untuk mengatasi alergi adalah dengan cara mencegah anak agar tidak terpapar alergen. Pasalnya, jika Si Kecil mengalami alergi secara terus-menerus, secara jangka panjang tentu hal ini akan mengganggu tumbuh kembangnya.

Namun, penelitian mengenai imunoterapi juga masih dikembangkan untuk menghilangkan alergi. Dikutip dari BabyCenter, biasanya imunoterapi baru diberikan ketika seorang anak sudah menginjak usia 4-6 tahun. Namun pada beberapa kasus tertentu, imunoterapi bisa diberikan kepada anak-anak yang lebih kecil karena ia mengalami alergi yang parah, misalnya asma. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   alergi,   deteksi alergi,   kesehatan