Mother&Baby Indonesia
Garam untuk MPASI Bayi Sebenarnya Boleh Enggak, Sih?

Garam untuk MPASI Bayi Sebenarnya Boleh Enggak, Sih?

Bagi Moms, makanan tanpa garam memang kurang sedap. Namun bagaimana dengan MPASI untuk bayi, apakah boleh diberikan garam? Hal ini memang masih menjadi kontroversi, karena ada yang bilang boleh asal tidak berlebihan, namun banyak juga yang pantang memberikan garam hingga Si Kecil usia tertentu. Untuk mengetahui kebenarannya, simak info penting di bawah ini yuk, Moms!


Apa Kata Dokter?




“Di bawah usia 1 tahun, anak sebaiknya diberikan gula dan garam sesedikit mungkin. Anak boleh diberikan gula dan garam jika dengan pemberian gula dan garam dapat membuat anak mau makan,” saran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Dalam panduan pemberian MPASI yang dikeluarkan oleh WHO dan Unicef, MPASI bayi Anda boleh ditambahkan sedikit garam beryodium dan gula. Seperti yang Moms ketahui, garam berfungsi sebagai sumber yodium. Sedangkan kekurangan asupan yodium berisiko menyebabkan kerusakan otak serta mengganggu tumbuh kembang Si Kecil.


Berapa Banyak Bayi Boleh Makan Garam?


Ingat, sebisa mungkin hindari penggunaan garam untuk MPASI bayi di bawah 1 tahun ya, Moms. Namun, jika Anda ingin meningkatkan nafsu makan bayi dengan memberikan sedikit garam pada MPASI-nya, maka Anda hanya boleh memberikan kurang dari 1 gram garam atau 0,4 gram sodium per hari, hingga usia Si Kecil lebih dari 1 tahun atau 12 bulan. Itulah kebutuhan bayi akan garam.

Bahkan setelah anak Anda sudah berusia lebih dari 1 tahun, kebutuhan garamnya tetap tidak banyak, yaitu hanya 2 gram (0,8 gram sodium) per hari. Ini berlaku hingga usia anak Anda menginjak 3 tahun lho, Moms.

Lalu bagaimana cara memenuhi kebutuhan sodium bayi yang usianya belum 6 bulan atau belum MPASI? Tenang saja, Moms, kebutuhan sodium sebelum 6 bulan sudah tercukupi dengan pemberian ASI, kok.




Bahaya Garam untuk Bayi


Garam mengandung natrium yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan gagal ginjal pada bayi. Parahnya lagi, bayi lebih berisiko mengalami tekanan darah tinggi dibandingkan anak-anak yang sudah lebih besar. Perlu Moms ketahui, tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah salah satu penyebab utama serangan jantung dan stroke pada orang dewasa, lho!

Terlalu banyak garam juga bisa menyebabkan gagal ginjal, terlebih karena organ ginjal bayi belum sempurna sehingga ia tidak bisa mengolah garam berlebih. Selain itu, bayi yang sudah ‘ketagihan’ garam juga akan tumbuh menjadi orang yang lebih memilih makanan asin, yang tentunya tidak akan baik untuk kesehatan ya, Moms.


Tanpa Garam Tetap Enak, Kok!


Walaupun MPASI (baik yang buatan rumah atau makanan kemasan) untuk bayi terasa hambar di lidah Anda, namun makanan itu sudah terasa enak di lidah bayi lho, Moms. Ini karena bayi pun butuh waktu untuk beradaptasi dengan rasa makanan.

“Bayi baru lahir lebih mudah beradaptasi terhadap rasa manis, tidak berespons terhadap rasa asin, tetapi sebaliknya rasa asam dan pahit ditolaknya. Rasa asin sendiri mulai berkembang setelah bayi usia 4-6 bulan, sedangkan kapan mulai timbulnya respons terhadap rasa gurih belum banyak diketahui. Respons bayi terhadap rasa ini sesungguhnya adalah suatu mekanisme pertahanan alamiah dari bayi terhadap racun/kontaminan yang mungkin terdapat dalam makanan,” tulis dr. Titis Prawitasari, SpA(K), pada laman IDAI.

Seperti yang disampaikan oleh dr. Rouli Nababan, SpA, dari KiddieCare Centre, Sunter, Jakarta Utara, garam dapat diberikan seiring dengan perubahan selera Si Kecil. Pada dasarnya, lidah bayi berbeda dengan lidah orang dewasa. Bayi akan tetap lahap makan hanya dengan rasa alami makanan. Seiring dengan bertambahnya usia, selera makan bayi juga akan berubah. (Tiffany Warrantyasri/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   bayi,   mpasi,   garam,   makanan bayi








Cover Maret 2020